Kawal Ketat Wisatawan Mancanegara, Polres Sikka Pastikan Dua Sanggar Budaya di Sikka Tetap Kondusif
Kunjungan sekitar 130 wisatawan mancanegara ke dua sanggar budaya di Kabupaten Sikka menjadi bukti kuat bahwa tradisi Etnis Krowe memiliki daya tarik global. Selain berhasil memukau wisatawan melalui pertunjukan budaya dan kuliner, kegiatan ini juga berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat melalui UMKM. Seluruh rangkaian berlangsung aman dan tertib, sekaligus menegaskan bahwa budaya lokal Sikka mampu menjadi kekuatan strategis dalam mendorong pariwisata dan kesejahteraan masyarakat.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 6 Mei 2026 – Denyut pariwisata budaya di Kabupaten Sikka kembali berdetak kencang. Dalam satu pagi yang padat makna, Selasa (5/5/2026), dua kantong budaya utama—Sanggar Doka Tawa Tanah di Kecamatan Bola dan Sanggar Bliransina Watublapi di Kecamatan Hewokloang—menjadi panggung hidup bagi perjumpaan lintas benua.

Sekitar 130 wisatawan mancanegara dari Amerika dan Australia tumpah ruah, menyerap, merasakan, sekaligus mengafirmasi bahwa tradisi Etnis Krowe bukan sekadar warisan, melainkan daya tarik global yang bernilai ekonomi tinggi.

Di Kampung Dokar, Desa Umauta, Kecamatan Bola, suasana sakral langsung menyelimuti Sanggar Doka Tawa Tanah sejak pukul 10.00 WITA. Sebanyak 65 wisatawan yang diangkut tujuh unit bus disambut melalui ritus adat “huler wair” oleh Ketua Sanggar, Kletus Beru, bersama unsur pemerintah kecamatan.

Sambutan ini bukan sekadar seremoni, melainkan pintu masuk menuju dunia simbolik masyarakat Krowe—dunia yang mengikat manusia dengan leluhur, alam, dan nilai-nilai kolektif.
Belum usai kekaguman pada prosesi adat, rombongan wisatawan digiring memasuki arena pertunjukan dengan iringan Tarian Hegong—tarian khas yang menggema ritmis, mengundang decak kagum sekaligus rasa takjub.
Di titik inilah, Sikka berbicara dengan bahasanya sendiri: melalui gerak, bunyi, dan ekspresi yang tak membutuhkan terjemahan. Panggung budaya kemudian mencapai klimaks saat tarian-tarian inti seperti Tua Reta Lo’u dan Ro’a Mu’u ditampilkan secara utuh.
Setiap hentakan kaki, ayunan tangan, hingga pola lantai yang terbentuk, menjadi narasi visual tentang identitas, sejarah, dan spiritualitas masyarakat Krowe. Wisatawan tidak hanya menonton—mereka larut, terhanyut, dan dalam banyak momen, terpaku dalam kekaguman yang sunyi.
Namun, kekuatan kegiatan ini tidak berhenti pada estetika budaya. Di sisi lain arena, geliat ekonomi rakyat berlangsung nyata. Lapak-lapak UMKM lokal yang memamerkan tenunan, kerajinan tangan, hingga produk olahan khas Sikka, menjadi magnet tersendiri.
Transaksi demi transaksi terjadi. Wisatawan membeli, warga tersenyum—sebuah siklus sederhana namun berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Kehadiran Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, Mauritius Minggo, mempertegas arah strategis kegiatan ini. Bahwa budaya tidak lagi ditempatkan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai instrumen pembangunan yang hidup—menggerakkan ekonomi, memperkuat identitas, dan membuka ruang interaksi global.
Di waktu yang hampir bersamaan, denyut yang sama terasa di Sanggar Budaya Bliransina Watublapi, Desa Kajuwair, Kecamatan Hewokloang. Sejak pukul 09.30 WITA, sebanyak 65 wisatawan lainnya tiba dengan enam unit bus, dipandu oleh perwakilan PT Redestin Tour.
Mereka disambut dengan prosesi adat oleh Ketua Sanggar, Yosef Gervasius—sebuah penerimaan yang sarat makna dan penuh penghormatan.
Tanpa jeda, rangkaian pertunjukan budaya langsung digelar. Tarian Ro’a Mu’u, Awi Alu, Tua Reta Lo’u hingga Hegong ditampilkan secara berlapis, menciptakan komposisi pertunjukan yang kaya dan dinamis. Wisatawan tampak larut dalam pengalaman multisensori—menyaksikan, mendengar, bahkan merasakan energi kolektif yang dipancarkan para penari.
Tak ketinggalan, pengalaman wisata kuliner turut melengkapi kunjungan. Ragam cita rasa khas Sikka diperkenalkan, memperluas pemahaman wisatawan bahwa budaya tidak hanya hadir dalam bentuk visual, tetapi juga rasa dan aroma. Yang menarik, kedua lokasi ini memperlihatkan pola yang sama: budaya sebagai pusat, masyarakat sebagai pelaku, dan wisatawan sebagai penghubung global.
Interaksi yang terjadi bukan sekadar konsumsi tontonan, melainkan pertukaran pengalaman yang saling memperkaya. Di balik kemeriahan tersebut, aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama.
Di Kecamatan Bola, pengamanan dan pengawalan dilakukan oleh personel Polsek Bola dan Polres Sikka, melibatkan unsur Sabhara, Intelkam, serta Sat Lantas.
Sementara di Watublapi, pengamanan dipimpin langsung oleh Kapolsek Kewapante IPTU Chairil Syafar bersama personel gabungan, berdasarkan surat perintah resmi.
Pendekatan pengamanan yang humanis namun terukur memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tanpa gangguan. Hingga berakhir pada pukul 11.30 WITA, situasi tetap aman, tertib, dan kondusif—sebuah prasyarat penting bagi keberlanjutan pariwisata daerah.
Lebih dari sekadar kunjungan wisata, peristiwa ini adalah pesan kuat: bahwa Sikka memiliki modal budaya yang tidak ternilai, dan ketika dikelola dengan tepat, mampu menembus batas geografis serta menarik perhatian dunia.
Tradisi Krowe hari ini tidak hanya bertahan—ia berkembang, bertransformasi, dan menemukan relevansinya di tengah arus globalisasi. Di tengah tepuk tangan wisatawan dan geliat transaksi UMKM, satu hal menjadi jelas: budaya bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi untuk dihidupkan—dan di Sikka, kehidupan itu sedang berlangsung dengan sangat nyata, kuat, dan menggigit. [Cm24]


