"Soliditas Kokoh : Sinergi Lintas Sektor Kawal Sukses Kedatangan Kapal Pesiar Asing di Sikka”

Kedatangan kapal pesiar MV. LE JACQUES CARTIER di Pelabuhan Laurentius Say Maumere berlangsung aman, tertib, dan lancar, serta memberikan dampak positif dalam mempromosikan pariwisata budaya dan menggerakkan ekonomi lokal Kabupaten Sikka di tingkat internasional.

“Dalam Satu Komando: Kolaborasi Lintas Sektor Amankan Wisatawan Dunia di Sikka”

Tribratanewssikka.com - Maumere, 6 Mei 2026 kembali membuktikan diri sebagai gerbang pariwisata kelas dunia di kawasan timur Indonesia. Pada Selasa pagi, 05 Mei 2026, tepat pukul 07.00 Wita, kapal pesiar mewah berbendera Prancis, MV. LE JACQUES CARTIER, dengan gagah merapat di Dermaga Pelabuhan Laurentius Say Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. 

Kehadirannya bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan sinyal kuat bahwa pesona Sikka semakin diperhitungkan dalam peta wisata internasional.

Di bawah komando Kapten Sylvain Roger Jean Pierre Lenormand, kapal milik perusahaan pelayaran eksklusif Compagnie du Ponant itu membawa serta 145 wisatawan mancanegara dan 137 kru. 

Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, menyusuri rute eksotis Labuan Bajo – Maumere – Kalabahi (Alor), dalam pelayaran yang memadukan kemewahan, petualangan, dan eksplorasi budaya.

 

Begitu jangkar diturunkan, aktivitas di pelabuhan langsung bergerak cepat dan terukur. Pada pukul 07.43 Wita, petugas Imigrasi Kelas II TPI Maumere, bersama unsur terkait termasuk PT. Pelni Cabang Maumere, melaksanakan pemeriksaan dokumen keimigrasian terhadap seluruh penumpang dan kru. 

 

Proses berlangsung disiplin, tanpa hambatan, mencerminkan kesiapan aparat dalam menyambut arus wisatawan asing secara profesional. Sekitar pukul 08.30 Wita, satu per satu wisatawan turun dari kapal. 

 

Raut wajah antusias tak terbendung saat kaki mereka menginjak daratan Maumere—sebuah wilayah yang dikenal kaya akan tradisi, keramahan, dan keaslian budaya. 

 

Tak butuh waktu lama, pada pukul 09.00 Wita, rombongan langsung diberangkatkan menuju titik-titik destinasi budaya unggulan menggunakan 12 unit kendaraan minibus.

 

Dua lokasi menjadi magnet utama: Sanggar Budaya Bliran Sina di Desa Kajoair, Kecamatan Hewakloang, serta Sanggar Doka Tawa Tana di Desa Umauta, Kecamatan Bola. 

 

Di sana, para tamu mancanegara disuguhkan pertunjukan seni tradisional etnis Sikka yang sarat makna, mulai dari tarian adat, musik tradisional, hingga narasi budaya yang hidup di tengah masyarakat.

 

Tak hanya itu, denyut ekonomi kreatif lokal turut menggeliat. Beragam produk kerajinan khas Sikka dipamerkan, membuka ruang interaksi langsung antara wisatawan dan pelaku UMKM. Dari tenun ikat yang penuh filosofi hingga kerajinan tangan bernilai artistik tinggi, semuanya menjadi etalase kekayaan budaya yang tak ternilai.

 

Wisata kuliner pun menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman tersebut. Para wisatawan diajak mencicipi cita rasa lokal yang autentik—perpaduan rempah dan tradisi yang menghadirkan pengalaman rasa yang berbeda, sekaligus memperkuat identitas kuliner daerah di mata dunia.

 

Kunjungan ini bukan sekadar agenda wisata, melainkan langkah strategis dalam memperkuat eksistensi sanggar budaya sebagai destinasi unggulan. Lebih jauh, ini menjadi momentum penting dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat berbasis pariwisata.

 

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung selama kurang lebih satu hari dan berakhir pada pukul 13.20 Wita. Setelahnya, para wisatawan kembali ke kapal untuk melanjutkan pelayaran menuju Pelabuhan Kalabahi, Kabupaten Alor—membawa serta kesan mendalam tentang Sikka yang kaya, hangat, dan autentik.

 

Di balik kelancaran kegiatan tersebut, berdiri kokoh sinergi lintas sektor. Pengamanan dan pengawasan dilakukan secara terpadu oleh personel KP3 Laut Maumere, TNI AL Maumere, Koordinator KKP Pelabuhan Laurentius Say, petugas PT. Pelni, Imigrasi Kelas II TPI Maumere, serta Bea Cukai. Kehadiran mereka memastikan seluruh aktivitas berlangsung aman, tertib, dan terkendali.

 

Hingga seluruh rangkaian berakhir, situasi tetap berada dalam kondisi kondusif. Tidak ada gangguan berarti, tidak ada insiden menonjol—yang ada hanyalah harmoni antara tamu dan tuan rumah, antara tradisi dan modernitas.

 

Kedatangan MV. LE JACQUES CARTIER hari ini bukan hanya tentang sebuah kapal yang singgah. Ini adalah cerita tentang kepercayaan dunia terhadap Sikka, tentang peluang yang terbuka lebar, dan tentang bagaimana budaya lokal mampu berdiri tegak, menyapa dunia dengan bangga. [Cm24]