"Mimbar Bebas May Day di Sikka Berjalan Aman Dibawa Pengamanan Ketat Polres Sikka”

Aksi mimbar bebas EK-LMND Sikka dalam rangka May Day 2026 berlangsung aman dan tertib, dengan fokus utama pada kritik terhadap ketimpangan ekonomi serta tuntutan peningkatan kesejahteraan dan kepastian status bagi 725 PPPK paruh waktu. Meski diikuti massa terbatas, aksi ini menyuarakan pesan kuat tentang pentingnya persatuan nasional dan keadilan sosial.

“Polres Sikka Siaga Penuh Amankan Orasi May Day, Aksi Berlangsung Tertib”

Tribratanewssikka.com - Maumere, 4 Mei 2026 — Di tengah senja yang mulai turun di Pelataran Tugu Kuda, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Jumat (1/5/2026), sekelompok mahasiswa berdiri tegak membawa suara yang tak bisa diabaikan. 

Sekitar 25 orang yang tergabung dalam Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK-LMND) Kabupaten Sikka menggelar mimbar bebas memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) 2026.

 

Meski jumlahnya tak besar, gaung yang mereka bawa terasa kuat—mengusung isu yang tajam: ketimpangan ekonomi, ancaman “serakahnomics”, hingga nasib 725 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kabupaten Sikka yang dinilai kian terhimpit.

 

Aksi dimulai sekitar pukul 16.10 WITA setelah massa berkumpul dan mempersiapkan perangkat aksi sederhana—bendera Merah Putih, bendera organisasi, megaphone, hingga spanduk hitam berisi tuntutan keras. 

 

Di bawah pengawalan aparat kepolisian, satu per satu orator naik ke mimbar, menyuarakan keresahan yang sama: ketidakadilan yang dinilai semakin sistematis.

 

Ini bukan sekadar peringatan seremonial. Ini adalah alarm keras bagi seluruh rakyat,” seru salah satu orator, disambut anggukan massa yang hadir.

 

Dalam selebaran yang dibagikan kepada pengguna jalan, EK-LMND Sikka menyoroti situasi global yang dinilai turut memengaruhi kondisi nasional—mulai dari konflik internasional hingga krisis ekonomi yang berdampak luas. Namun bagi mereka, ancaman terbesar justru datang dari dalam negeri, dari sistem yang mereka sebut sebagai “serakahnomics”.

 

Istilah itu menggambarkan praktik ekonomi yang dinilai mengabaikan kemanusiaan, menjadikan pekerja sekadar alat produksi, dan meminggirkan kesejahteraan rakyat kecil.

 

Sorotan utama aksi ini tertuju pada nasib ratusan PPPK paruh waktu di Kabupaten Sikka. Dari data yang dihimpun, sebanyak 725 tenaga PPPK masih bertahan dari total awal 727 orang yang diangkat pada Januari 2026. Mereka, menurut massa aksi, hidup dalam ketidakpastian status dan penghasilan yang jauh dari kata layak.

 

“Bagaimana mungkin tenaga kesehatan dan pendidik yang menjadi garda terdepan justru hidup dalam keterbatasan? Ini bukan hanya persoalan ekonomi, ini persoalan martabat,” tegas salah satu orator lainnya.

 

Dalam tuntutannya, EK-LMND Sikka menyerukan empat hal utama: membangun persatuan nasional lintas sektor, melawan praktik ekonomi eksploitatif, mengembalikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kebijakan negara, serta mendesak pemerintah untuk menyelamatkan dan menjamin kesejahteraan PPPK paruh waktu.

 

Aksi yang berlangsung sekitar satu jam lebih ini berjalan tertib dan kondusif. Aparat Polres Sikka yang telah lebih dahulu menggelar apel kesiapan pengamanan turut mengawal jalannya kegiatan hingga selesai. Tidak ada insiden berarti selama aksi berlangsung.

 

Menjelang pukul 17.20 WITA, mimbar bebas resmi ditutup. Massa kemudian membubarkan diri dengan tertib, meninggalkan lokasi dengan pesan yang masih menggema: bahwa perjuangan belum usai. [Cm24]