Polri Hadir Pulihkan Trauma Pengungsi Gempa di Posko Terpusat Gelora Samador Maumere

Kegiatan trauma healing oleh Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT, Biro SDM Polda Bali, dan Bag SDM Polres Sikka merupakan wujud nyata kehadiran Polri dalam membantu memulihkan kondisi psikologis pengungsi, khususnya anak-anak, pascagempa bumi. Melalui pendekatan humanis, interaksi, motivasi, dan pendampingan, Polri berupaya menghadirkan rasa aman, nyaman, serta menumbuhkan kembali semangat dan keberanian para penyintas selama berada di posko pengungsian.

Polri Hadir Pulihkan Trauma Pengungsi Gempa di Posko Terpusat Gelora Samador Maumere
Gelora Samador Jadi Ruang Pemulihan, Polri Dampingi Anak-Anak Bangkit dari Trauma Gempa

Maumere, 20 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah suasana duka dan ketidakpastian pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Kabupaten Sikka, kehadiran Polri tidak hanya diwujudkan melalui pengamanan dan pelayanan di lokasi pengungsian. Sentuhan kemanusiaan juga diberikan kepada para penyintas, khususnya anak-anak yang masih menyimpan ketakutan dan kegelisahan akibat bencana yang mereka alami.

Bertempat di Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador Maumere, Jalan Jenderal Gajah Mada, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Kamis (20/8/2026), Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Biro SDM Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka menggelar kegiatan trauma healing bagi para pengungsi korban bencana gempa bumi.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 Wita tersebut menjadi ruang bagi anak-anak pengungsi untuk sejenak keluar dari bayang-bayang ketakutan. Di tengah lingkungan posko yang masih dipenuhi suasana darurat, pendekatan psikologis dilakukan secara humanis melalui interaksi langsung, komunikasi emosional, cerita, permainan komunikasi, serta pemberian motivasi.

 

Tim psikologi hadir bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk mendengarkan. Anak-anak diajak berinteraksi dalam suasana yang lebih cair sehingga mereka dapat mengekspresikan perasaan, ketakutan, maupun kegelisahan yang muncul setelah mengalami bencana.

 

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi., sementara Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali dipimpin Iptu Nyoman Trijaya Putra, S.Psi. Adapun dari Bag SDM Polres Sikka dipimpin langsung oleh Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E.

 

Kolaborasi tiga unsur tersebut memperlihatkan bahwa penanganan dampak bencana tidak berhenti pada evakuasi, distribusi bantuan, maupun pengamanan lokasi. Pemulihan psikologis menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan, terutama bagi anak-anak yang secara emosional lebih rentan mengalami dampak berkepanjangan setelah menghadapi situasi bencana.

 

Dengan pendekatan emosional yang hangat dan komunikatif, personel Polri berusaha membangun kembali rasa aman di tengah anak-anak pengungsi. Mereka diberikan motivasi agar tidak larut dalam ketakutan serta diarahkan untuk membangun kembali keberanian dan rasa percaya diri selama menjalani masa pengungsian.

 

Trauma healing menjadi pesan bahwa di tengah bencana, para pengungsi tidak berjalan sendirian. Negara hadir bukan hanya melalui kekuatan dan kewenangan, tetapi juga melalui kepedulian, empati, dan sentuhan kemanusiaan.

 

Bagi anak-anak yang kehilangan kenyamanan rumah dan harus menjalani hari-hari di tempat pengungsian, kehadiran personel Polri dalam suasana yang bersahabat menjadi bagian dari proses pemulihan. Senyum, percakapan, cerita, dan motivasi yang diberikan menjadi jembatan untuk mengembalikan rasa nyaman yang sempat runtuh akibat guncangan bencana.

 

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata komitmen Polri dalam memberikan perlindungan secara menyeluruh kepada masyarakat terdampak bencana. Pengamanan fisik tetap penting, namun ketenangan batin dan pemulihan psikologis juga tidak boleh diabaikan.

 

Setelah berlangsung sekitar satu jam, kegiatan trauma healing berakhir pada pukul 10.30 Wita. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dalam keadaan aman, tertib, dan lancar.

 

Dari Gelora Samador Maumere, pesan yang disampaikan Polri terasa sederhana namun kuat: ketika bencana mengguncang kehidupan masyarakat, tugas kepolisian bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut merawat harapan.

 

Melalui langkah kecil di tengah posko pengungsian itu, Polri menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga tentang membantu memulihkan keberanian, ketenangan, dan masa depan mereka yang terdampak—terutama anak-anak. [Cm24]