"Tawa Mengalahkan Trauma, Polres Sikka Pulihkan Psikologis 300 Siswa MIN 1 Sikka Pascagempa”

Kegiatan trauma healing Polres Sikka di MIN 1 Sikka menjadi wujud nyata kepedulian dan kehadiran Polri dalam memulihkan psikologis guru serta sekitar 300 siswa pascagempa. Melalui pendampingan, terapi USEFT, edukasi, games, dan hiburan, Polres Sikka membantu mengubah rasa takut menjadi keberanian serta menumbuhkan kembali semangat siswa untuk belajar dan bangkit.

Bukan Sekadar Menghibur, Polres Sikka Pulihkan Trauma dan Bangkitkan Keberanian 300 Siswa MIN 1 Sikka Pascagempa

Maumere, 14 September 2026. Tribratanewssikka.com — Bencana gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan lingkungan. Di balik dinding yang retak dan aktivitas yang sempat terhenti, terdapat luka lain yang tidak kasatmata—rasa takut, kecemasan, dan trauma yang dapat membekas, terutama dalam benak anak-anak.

Karena itu, ketika aktivitas pendidikan mulai dipersiapkan untuk kembali berjalan, pemulihan psikologis menjadi bagian yang tidak kalah penting. Anak-anak tidak cukup hanya dikembalikan ke ruang kelas; mereka juga harus diyakinkan bahwa sekolah kembali menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

 

Pesan itulah yang dibawa jajaran Polres Sikka ketika turun langsung memberikan pendampingan psikologi dan trauma healing kepada guru serta siswa-siswi MIN 1 Sikka, di Nangahure Bukit, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Senin (14/9/2026).

 

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA tersebut melibatkan personel Bagian SDM, Unit Kamsel Satlantas, dan Polisi Wanita (Polwan) Polres Sikka. Kehadiran mereka menjadi bagian dari respons kemanusiaan Polri selama masa tanggap bencana, sekaligus bentuk kepedulian menjelang dimulainya kembali proses belajar mengajar pascagempa bumi.

 

Sekitar 300 siswa menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Namun, kegiatan itu bukan sekadar agenda seremonial. Para personel Polres Sikka masuk ke ruang psikologis anak-anak dengan pendekatan yang sederhana, humanis, dan mudah diterima. Mereka mengajak siswa berinteraksi, bermain, tertawa, sekaligus memberikan pemahaman mengenai situasi kebencanaan.

 

Pendekatan seperti itu menjadi penting karena anak-anak memiliki cara berbeda dalam merespons sebuah bencana. Bagi sebagian anak, gempa mungkin telah berlalu ketika getaran berhenti. Namun bagi sebagian lainnya, rasa takut dapat tetap tinggal—muncul ketika mendengar suara keras, merasakan getaran kecil, atau sekadar mengingat kembali kepanikan saat bencana terjadi.

 

Di sinilah trauma healing memainkan peran penting. Polres Sikka berupaya menghadirkan kembali suasana yang akrab dan menggembirakan agar anak-anak tidak terus terperangkap dalam bayang-bayang ketakutan. Melalui permainan dan hiburan, sekat antara aparat dan siswa dicairkan. Polisi tidak hadir dengan wajah formal dan kaku, tetapi sebagai sosok yang dapat diajak berbicara, bermain, dan berbagi kegembiraan.

 

Tawa anak-anak menjadi bahasa pemulihan yang paling sederhana. Selain kepada siswa, pendampingan juga diberikan kepada para guru melalui terapi USEFT. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga para pendidik yang berada di garis depan dalam mendampingi siswa ketika kegiatan belajar mengajar kembali dimulai.

 

Guru memiliki posisi strategis dalam proses pemulihan. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga menjadi figur yang setiap hari berinteraksi langsung dengan siswa. Kondisi psikologis guru yang lebih kuat dan siap akan membantu menciptakan suasana belajar yang lebih tenang dan suportif bagi anak-anak.

 

Dalam kegiatan tersebut, personel Polres Sikka juga memberikan edukasi mengenai masa tanggap bencana. Informasi disampaikan dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia anak, sehingga pesan tentang kesiapsiagaan tidak berubah menjadi sumber ketakutan baru.

 

Sebaliknya, edukasi tersebut diarahkan untuk menumbuhkan pemahaman bahwa menghadapi bencana membutuhkan ketenangan, kewaspadaan, dan kesiapan. Kepedulian Polres Sikka tidak berhenti pada pendampingan psikologis. Para personel juga membawa makanan ringan dan air mineral untuk mendukung kegiatan bersama para siswa.

 

Dukungan tersebut berupa Biskuit Roma Kelapa sebanyak dua dus, Roma Marie Susu sebanyak tiga dus, serta air mineral Cleo sebanyak 10 bundel. Nilainya mungkin sederhana, tetapi pesan kemanusiaan di baliknya jauh lebih besar: bahwa dalam situasi sulit, masyarakat tidak berjalan sendirian.

 

Apresiasi pun datang dari para guru MIN 1 Sikka. Mereka menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian dan kepedulian jajaran Polres Sikka yang secara langsung hadir menemui para guru dan siswa.

 

Kehadiran tersebut sekaligus mempertegas wajah Polri yang tidak hanya berbicara tentang penegakan hukum dan keamanan, tetapi juga hadir dalam ruang-ruang kemanusiaan ketika masyarakat membutuhkan dukungan.

 

Bencana menguji ketangguhan sebuah daerah, tetapi cara sebuah institusi hadir di tengah masyarakat menunjukkan seberapa kuat nilai kemanusiaan yang dibawanya.

 

Melalui kegiatan trauma healing ini, Polres Sikka memperlihatkan bahwa menjaga masyarakat tidak selalu dilakukan dengan seragam, kendaraan dinas, ataupun tindakan kepolisian yang bersifat represif. Ada kalanya perlindungan diberikan melalui senyum, permainan, sentuhan kepedulian, dan kata-kata yang mampu membuat seorang anak kembali merasa aman.

 

Lebih dari itu, kolaborasi antara Bag SDM, Unit Kamsel Satlantas dan Polwan Polres Sikka menunjukkan adanya sinergi lintas fungsi dalam merespons dampak bencana. Pendekatan keamanan dipadukan dengan pendekatan psikologis dan edukatif untuk memastikan masyarakat, khususnya anak-anak, dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap.

 

Sekolah pun dipandang bukan sekadar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Dalam situasi pascabencana, sekolah menjadi ruang penting untuk memulihkan rutinitas, membangun kembali rasa aman, dan mengembalikan kepercayaan diri anak-anak.

 

Karena itu, mengembalikan siswa ke sekolah tanpa memperhatikan kondisi psikologis mereka bukanlah pemulihan yang utuh. Pemulihan sejati adalah ketika seorang anak berani kembali duduk di bangku sekolah tanpa dihantui rasa takut. Dan itulah yang coba dibangun melalui kegiatan trauma healing Polres Sikka di MIN 1 Sikka.

 

Kegiatan yang berakhir pada pukul 11.10 WITA tersebut berlangsung aman dan lancar. Namun, makna dari kegiatan itu tidak berhenti ketika personel meninggalkan halaman sekolah.

 

Ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian. Keberanian bagi anak-anak untuk kembali tersenyum. Keberanian bagi guru untuk kembali mengajar. Dan keberanian bagi masyarakat untuk menatap hari-hari setelah bencana dengan keyakinan bahwa kehidupan harus terus berjalan.

 

Sebab gempa mungkin mampu mengguncang tanah, meretakkan bangunan, dan menghadirkan kepanikan dalam hitungan detik. Tetapi semangat untuk bangkit tidak boleh ikut runtuh.

 

Di tengah masa pemulihan itu, Polres Sikka memilih hadir—bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi sebagai bagian dari kekuatan masyarakat untuk kembali berdiri.

 

Karena bagi anak-anak yang baru saja melewati ketakutan, satu hal sederhana dapat menjadi sangat berarti: merasa bahwa mereka tidak sendirian. [Cm24] "POLDA NTT PENUH KASIH DARI TIMUR MENGUATKAN INDONESIA"