Menembus Bumi Menjemput Harapan, Kapolda NTT Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Kampung Garam Sikka

Bantuan sumur bor dari Kapolda NTT di Kampung Garam menjadi langkah nyata dalam mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Dengan dukungan kepolisian, tenaga teknis, pemerintah daerah, dan partisipasi warga, pengeboran yang telah mencapai sekitar 21 meter tersebut diharapkan menghasilkan sumber air yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi masyarakat Sikka.

Menembus Bumi Menjemput Harapan, Kapolda NTT Hadirkan Sumur Bor untuk Warga Kampung Garam Sikka
Mesin Bor Menembus Tanah, Harapan Air Bersih Warga Kampung Garam Sikka Mengalir dari Kepedulian Kapolda NTT

Maumere, 24 September 2026. Tribratanewssikka.com— Ketika air bersih menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar, setiap upaya untuk menghadirkannya memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan sebuah fasilitas. 

Bagi masyarakat, air adalah kehidupan. Dari kebutuhan rumah tangga hingga keberlangsungan aktivitas sehari-hari, ketersediaan air bersih menjadi salah satu penopang utama kualitas hidup.

Semangat itulah yang kini terlihat di Kampung Garam, RT 006/RW 004, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Sebuah mesin pengeboran berdiri di atas lahan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka. Suaranya memecah kesunyian, menembus lapisan tanah demi mencari sumber air yang diharapkan dapat menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat.

 

Pengeboran tersebut merupakan bagian dari bantuan Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

 

Pekerjaan pengeboran mulai dilaksanakan pada Selasa, 22 September 2026, pukul 08.00 WITA. Sebelumnya, pada Senin, 21 September 2026, proses mobilisasi peralatan telah dilakukan dengan pengawalan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kota Uneng, Aipda Hironimus Taji Werang.

 

Kehadiran alat bor di Kampung Garam sejak sehari sebelumnya langsung mendapat sambutan positif masyarakat. Warga bersama Ketua RT ikut membantu menurunkan mesin dan berbagai perlengkapan pengeboran dari kendaraan pengangkut menuju titik lokasi yang telah ditentukan.

 

Di tengah aktivitas tersebut, terlihat satu pesan sederhana namun kuat: masyarakat tidak hanya menunggu hasil, tetapi ikut mengambil bagian dalam proses menghadirkan fasilitas yang nantinya akan mereka gunakan bersama.

 

Mesin kemudian dipasang. Peralatan teknis disiapkan. Titik pengeboran ditentukan. Namun sebelum mata bor menyentuh tanah, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan prosesi adat di lokasi.

 

Prosesi tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan. Ia menunjukkan bahwa pembangunan di tengah masyarakat tidak hanya berbicara mengenai mesin, teknologi dan pekerjaan teknis, tetapi juga menyentuh ruang sosial dan kearifan lokal yang hidup dan dijunjung masyarakat. Setelah seluruh persiapan dilakukan, proses pengeboran dimulai pada Selasa pagi.

 

Pekerjaan teknis dipercayakan kepada CV. ATB Kupang dengan dukungan tenaga teknis dan peralatan pengeboran sesuai kebutuhan. Proses dilakukan secara bertahap dengan harapan mata bor dapat mencapai lapisan yang memiliki kandungan air dan menghasilkan debit yang memadai.

 

Pengeboran bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan hanya dengan menghitung kedalaman. Di balik setiap meter tanah yang ditembus, ada harapan masyarakat yang menunggu hasil.

 

Laporan perkembangan terakhir menyebutkan, pengeboran pada titik pertama di Kampung Garam telah mencapai kedalaman sekitar 21 meter dan hingga kini masih terus berlangsung.

 

Setiap tahapan dikerjakan secara bertahap. Mulai dari persiapan lokasi dan peralatan, pengeboran pada titik yang telah ditentukan, penggalian hingga mencapai sumber air, pengecekan kondisi dan debit air, hingga pemasangan pipa atau casing sebagai bagian dari konstruksi sumur. Setelah proses pengeboran dinyatakan selesai, tahapan berikutnya akan diarahkan pada pemasangan pompa serta sarana penyaluran air.

 

Dengan demikian, pekerjaan tersebut tidak berhenti pada keberhasilan menemukan sumber air. Tahap berikutnya justru menjadi bagian penting agar air yang diperoleh dapat disalurkan dan dimanfaatkan masyarakat secara maksimal.

 

Bantuan sumur bor tersebut membawa pesan yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang sebuah lubang yang dibor hingga puluhan meter ke dalam tanah. Ia berbicara tentang bagaimana kebutuhan dasar masyarakat diterjemahkan menjadi sebuah tindakan nyata.

 

Air bersih adalah kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga. Karena itu, kehadiran fasilitas sumber air di tengah masyarakat memiliki nilai strategis bagi kehidupan sehari-hari.

 

Dalam konteks tersebut, bantuan Kapolda NTT menjadi bentuk kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya penyediaan dan ketersediaan air bersih. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana proses tersebut dibangun bersama masyarakat.

 

Bhabinkamtibmas Kelurahan Kota Uneng, Aipda Hironimus Taji Werang, sejak proses awal turut mengawal mobilisasi peralatan menuju lokasi. Pengawalan tersebut memastikan kegiatan dapat berlangsung secara aman dan tertib, sekaligus memperkuat komunikasi antara aparat kepolisian dan masyarakat.

 

Warga pun memberikan respons positif. Ketua RT bersama masyarakat menyatakan kesiapan untuk membantu dan bekerja sama selama proses pengeboran berlangsung.

 

Keterlibatan warga menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan. Sebab fasilitas yang dibangun untuk masyarakat akan memiliki nilai lebih ketika masyarakat ikut merasa memiliki, menjaga, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

 

Di titik inilah kehadiran polisi mengambil ruang yang lebih luas. Bukan semata-mata sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

 

Pengeboran di Kampung Garam merupakan titik pertama dari rangkaian kegiatan yang direncanakan. Setelah pengerjaan pada titik pertama selesai, kegiatan akan dilanjutkan pada titik kedua yang berada di Nangalimang, RT 010/RW 004, Kelurahan Nangalimang, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

 

Artinya, pekerjaan tersebut tidak berhenti pada satu lokasi. Ada rangkaian ikhtiar yang masih harus diselesaikan untuk menghadirkan sumber air bersih di titik-titik yang telah ditentukan.

 

Pekerjaan pun masih berjalan. Hasil akhir pengeboran, termasuk kondisi sumber air dan debit yang diperoleh, masih menunggu penyelesaian seluruh tahapan teknis. Karena itu, setiap perkembangan di lapangan terus dipantau dan dilaporkan.

 

Semakin dalam mata bor bergerak, semakin jauh pula manusia menembus permukaan tanah untuk mencari sesuatu yang tidak terlihat dari atas. Begitu pula dengan harapan masyarakat. Ia tidak selalu terlihat, tetapi dirasakan. Ia tumbuh dari kebutuhan sehari-hari dan dari keinginan sederhana agar air bersih dapat tersedia ketika dibutuhkan.

 

Di Kampung Garam, harapan itu kini sedang diperjuangkan dari kedalaman tanah. Pada kedalaman sekitar 21 meter, pekerjaan masih berlangsung. Mesin masih bekerja. Tenaga teknis masih menjalankan tugasnya. Masyarakat masih menunggu.

 

Dan di balik suara mesin pengeboran tersebut, ada harapan yang jauh lebih besar: agar dari dalam tanah itu mengalir sumber air yang dapat menghidupi masyarakat.

 

Jika proses ini berhasil hingga tahap akhir, maka yang hadir nantinya bukan hanya sebuah sumur, melainkan sebuah fasilitas yang dapat memberikan manfaat nyata bagi warga.

 

Pekerjaan tersebut juga memperlihatkan bahwa persoalan kebutuhan dasar masyarakat dapat didekati melalui kolaborasi. Kepolisian hadir melalui dukungan dan pengawalan, tenaga teknis bekerja menjalankan fungsi profesionalnya, pemerintah daerah menyediakan lokasi, sementara masyarakat memberikan dukungan serta partisipasi di lapangan. Semuanya bertemu pada satu kebutuhan yang sama: air bersih untuk kehidupan masyarakat.

 

Hingga perkembangan terakhir, seluruh kegiatan pengerjaan sumur bor di Kampung Garam berlangsung aman dan tertib. Pengeboran masih dilanjutkan sesuai tahapan teknis yang telah ditentukan. Setelah titik pertama rampung, pekerjaan akan bergerak menuju titik berikutnya di Nangalimang.

 

Satu demi satu titik akan ditembus. Satu demi satu harapan akan diuji. Sebab bagi masyarakat, air bersih bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Air adalah kebutuhan dasar, sumber kehidupan, dan bagian dari martabat masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dan dari Kampung Garam, ikhtiar itu kini dimulai—menembus tanah untuk menjemput harapan. [Cm24]