“Panen Jagung Serentak di Sikka: Sinergi Polres Sikka dan Petani Berbuah Manis di Tengah Cuaca Tak Menentu”

Kegiatan panen jagung serentak di Kabupaten Sikka menunjukkan bahwa sinergi antara Polri, pemerintah, dan masyarakat mampu mendorong keberhasilan program ketahanan pangan. Meski dihadapkan pada kendala cuaca dan teknis budidaya, hasil panen relatif baik dan memberi dampak positif bagi ketersediaan pangan serta ekonomi petani.

“Panen Jagung Serentak di Sikka: Sinergi Polres Sikka dan Petani Berbuah Manis di Tengah Cuaca Tak Menentu”
Panen Jagung Serentak di Sikka: Polri Turun Tangan, Hasil Melimpah di Tengah Tantangan Cuaca

Tribratanewssikka.com - 4 Mei 2026. Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di Kabupaten Sikka menunjukkan hasil nyata. Di tengah cuaca yang tak menentu, jajaran Polres Sikka bersama pemerintah dan kelompok tani sukses menggelar panen jagung hibrida serentak di sejumlah wilayah. 

Produksi yang meningkat menjadi bukti bahwa sinergi antara Polri dan masyarakat bukan sekadar slogan, tetapi kerja nyata di lapangan. Sabtu, 2 Mei 2026, menjadi hari yang sibuk sekaligus menggembirakan bagi para petani di Kabupaten Sikka. 

Sejak pagi hingga sore, aktivitas panen jagung berlangsung di berbagai kecamatan, mulai dari Alok Barat, Lela, Kewapante hingga Mego. Kegiatan ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang dikawal langsung oleh jajaran Kepolisian Republik Indonesia melalui Polres Sikka.

 

Di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, panen jagung hibrida jenis JFR 71 yang dikelola Kelompok Tani Tati Nahing menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi, petani mampu menghasilkan sekitar 1,2 ton jagung tongkol basah. 

 

Angka ini meningkat dibandingkan musim sebelumnya, meski petani masih harus bergulat dengan kendala klasik: curah hujan yang tak menentu yang menghambat proses pengeringan. Kapolsek Alok bersama jajaran turun langsung ke lokasi, didampingi lurah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani. 

 

Kehadiran aparat kepolisian bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari komitmen untuk memastikan program ketahanan pangan berjalan efektif dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

 

Sementara itu, capaian lebih besar terlihat di Desa Kolidetung, Kecamatan Lela. Di lahan yang dikelola BUMDes Watu Jong, panen jagung hibrida jenis BISI 18 menghasilkan sekitar 6 ton dalam sekali panen dari luas lahan lebih dari satu hektare. 

 

Dengan harga pasar mencapai Rp5.000 per kilogram, hasil tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat desa.

 

Kapolsek Lela yang memimpin langsung kegiatan ini menegaskan pentingnya pemanfaatan lahan masyarakat secara optimal. Di tengah keterbatasan lahan, kolaborasi antara warga dan BUMDes menjadi strategi efektif untuk menjaga produktivitas.

 

Di wilayah Kewapante, tepatnya Desa Watukobu, panen jagung oleh BUMDes Tunas Baru mencatat hasil sekitar 1,2 ton dari lahan 0,25 hektare. Meski tergolong baik, hasil tersebut diakui belum maksimal. Minimnya pemupukan dan perawatan menjadi faktor utama yang mempengaruhi produktivitas.

 

Kasat Binmas Polres Sikka dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa pendampingan kepada petani akan terus dilakukan. Polri, melalui peran Bhabinkamtibmas, tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga hadir sebagai penggerak pembangunan, termasuk dalam sektor pertanian.

 

Gambaran serupa terlihat di Desa Gera, Kecamatan Mego. Panen jagung dengan sistem tumpang sari menghasilkan estimasi antara 1 hingga 1,5 ton dari lahan setengah hektare. Namun, metode tanam yang dikombinasikan dengan tingginya curah hujan turut mempengaruhi hasil produksi.

 

Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Warga dan pemerintah kecamatan menyatakan siap mendukung penuh program ketahanan pangan yang digagas pemerintah pusat. Sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama keberhasilan program ini.

 

Rangkaian panen jagung di berbagai wilayah Kabupaten Sikka hari itu bukan sekadar kegiatan pertanian biasa. Ia adalah potret nyata kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan pangan di tingkat lokal.

 

Di tengah cuaca yang kian sulit diprediksi dan keterbatasan sarana produksi, para petani tetap berdiri tegak—didampingi aparat, didukung pemerintah, dan digerakkan oleh semangat kemandirian.

 

Jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Sikka akan menjadi salah satu lumbung jagung yang diperhitungkan di Nusa Tenggara Timur. [Cm24]