Pasca Gempa, Bhayangkari Sasar Warga dan 30 Pelajar Sikka Paga, Seragam hingga Sembako Disalurkan

Penyaluran bantuan sosial Ketua Umum Bhayangkari di Paga menjadi wujud nyata kepedulian Polri dan Bhayangkari terhadap masyarakat terdampak gempa. Bantuan kebutuhan pokok bagi warga serta perlengkapan sekolah bagi 30 pelajar diharapkan meringankan beban sekaligus memulihkan semangat anak-anak untuk kembali belajar dan menatap masa depan pascabencana.

Pasca Gempa, Bhayangkari Sasar Warga dan 30 Pelajar Sikka Paga, Seragam hingga Sembako Disalurkan
Tak Hanya Sembako, Bhayangkari Sasar 30 Pelajar Sikka Paga untuk Pulihkan Semangat Belajar Pascagempa

Maumere, 2 September 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah puing-puing dan kecemasan yang masih membekas setelah gempa bumi mengguncang kehidupan masyarakat, kepedulian hadir bukan sekadar dalam bentuk bantuan, tetapi juga sebagai pesan bahwa para korban tidak berjalan sendirian.

Semangat itulah yang dibawa Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K. bersama Ketua Bhayangkari Cabang Sikka Ny. Fitri Bambang ketika menyalurkan bantuan sosial Ketua Umum Bhayangkari kepada masyarakat terdampak gempa bumi dan para pelajar di wilayah hukum Polsek Paga, Kabupaten Sikka, Rabu (2/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.10 hingga 12.30 Wita tersebut menyasar dua kelompok sekaligus: masyarakat yang terdampak langsung bencana serta siswa-siswi SD, SMP, dan SMA yang ikut merasakan dampak gempa dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas pendidikan mereka.

Bantuan itu menjadi lebih dari sekadar paket kebutuhan. Bagi masyarakat yang rumah dan kehidupannya terguncang bencana, sembako dan kasur lipat adalah bagian dari upaya membantu memenuhi kebutuhan dasar. Sementara bagi anak-anak sekolah, seragam, sepatu, tas, hingga perlengkapan belajar menjadi dorongan agar gempa tidak memutus langkah mereka menuju ruang kelas.

 

Sebanyak 10 warga terdampak gempa menerima bantuan berupa 10 paket sembako dan kasur lipat. Di sisi lain, perhatian khusus diberikan kepada 30 siswa-siswi dari berbagai jenjang pendidikan. Mereka terdiri dari 10 siswa SD, 10 siswa SMP, dan 10 siswa SMA Roledelu.

 

Masing-masing penerima mendapatkan kebutuhan sekolah berupa baju dan celana atau rok seragam lengkap dengan topi, sepatu, serta tas sekolah. Tas tersebut tidak dibiarkan kosong, melainkan dilengkapi berbagai perlengkapan belajar seperti buku, bolpoin, pensil, kotak pensil, penghapus atau tipeks pemutih, peruncing pensil, hingga botol air minum.

 

Kelengkapan tersebut memperlihatkan bahwa bantuan dirancang bukan hanya untuk meringankan beban sesaat, tetapi juga untuk membantu anak-anak kembali menjalani aktivitas pendidikan dengan lebih percaya diri.

 

Di tengah situasi pascabencana, keberadaan perlengkapan sekolah memiliki makna tersendiri. Anak-anak yang sebelumnya mungkin harus berhadapan dengan rasa takut akibat gempa, kehilangan kenyamanan di rumah, atau melihat kondisi lingkungan yang berubah, kembali diingatkan bahwa sekolah dan masa depan mereka tetap penting.

 

Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno bersama Ny. Fitri Bambang hadir langsung dalam penyaluran tersebut. Kehadiran pimpinan kepolisian bersama Bhayangkari menjadi simbol bahwa penanganan dampak bencana tidak berhenti pada aspek keamanan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat.

 

Kegiatan tersebut turut melibatkan Kapolsek Paga Ipda Hasan Sabon, pengurus Bhayangkari Cabang Sikka, Ketua Ranting Bhayangkari Paga Ibu Ningsih Hasan Sabon bersama anggota Bhayangkari Ranting Paga, serta Kasium, para Kanit dan Bhabinkamtibmas Polsek Paga.

 

Keterlibatan jajaran kepolisian hingga tingkat kewilayahan membuat penyaluran bantuan berlangsung dekat dengan masyarakat. Polisi tidak hanya hadir ketika situasi membutuhkan pengamanan, tetapi juga berada di tengah warga ketika mereka membutuhkan dukungan untuk bangkit dari situasi sulit.

 

Bagi keluarga terdampak gempa, bantuan sembako menjadi penyangga kebutuhan dasar. Bagi para pelajar, perlengkapan sekolah menjadi bekal untuk kembali melangkah. Dua bentuk bantuan tersebut bertemu pada satu pesan yang sama: bencana boleh mengguncang kehidupan, tetapi tidak boleh mematikan harapan.

 

Kepedulian Ketua Umum Bhayangkari melalui bantuan sosial tersebut sekaligus menunjukkan bahwa solidaritas dalam menghadapi bencana harus menyentuh kelompok yang paling membutuhkan, termasuk anak-anak sekolah.

 

Pasalnya, pemulihan pascabencana tidak semata-mata diukur dari berdirinya kembali bangunan atau tersalurkannya bantuan logistik. Ada pemulihan lain yang tidak kalah penting, yakni mengembalikan rasa aman, kepercayaan diri dan semangat masyarakat untuk menjalani kehidupan secara normal.

 

Bagi seorang pelajar, kembali mengenakan seragam, memakai sepatu sekolah, menggendong tas dan membawa buku ke ruang kelas mungkin terlihat sederhana. Namun setelah bencana, hal-hal sederhana itu dapat menjadi tanda bahwa kehidupan mulai bergerak kembali.

 

Dari Paga, bantuan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk memastikan masyarakat terdampak gempa tidak merasa ditinggalkan dan anak-anak tetap memiliki alasan untuk menatap hari esok.

 

Seluruh rangkaian kegiatan penyaluran bantuan sosial berlangsung aman dan lancar. Pada akhirnya, bantuan yang diberikan mungkin akan habis digunakan. Sembako akan dikonsumsi, kasur akan digunakan untuk beristirahat, seragam akan dipakai ke sekolah, dan buku-buku akan terisi catatan pelajaran.

 

Namun nilai terbesar dari bantuan itu justru terletak pada pesan yang menyertainya: di tengah bencana, masih ada tangan yang mengulurkan bantuan, masih ada kepedulian yang datang, dan masih ada harapan yang harus dijaga bersama. [Cm24]