Jadi Jembatan Kembali ke Ruang Kelas Pascagempa, Polri Pulihkan Mental 250 Pelajar Sikka Lewat Trauma Healing
Trauma healing Polri terhadap sekitar 250 siswa dan guru MTs Muhammadiyah Wuring serta MA Muhammadiyah Nangahure menjadi bukti bahwa pemulihan pascagempa tidak hanya menyangkut bangunan dan fasilitas, tetapi juga pemulihan mental manusia di dalamnya. Melalui Terapi USEFT, Polri membangun kembali rasa aman dan keberanian generasi muda Sikka agar mereka tidak berhenti belajar hanya karena pernah diguncang bencana
Maumere, 2 September 2026. Tribratanewssikka.com — Gempa bumi mungkin telah berhenti mengguncang tanah, tetapi bagi sebagian anak-anak, getarannya masih tertinggal di dalam ingatan. Ketakutan, kecemasan, dan bayangan akan gempa susulan dapat menjadi beban psikologis yang tak terlihat ketika mereka kembali duduk di bangku sekolah.

Di tengah kondisi itulah Kepolisian Negara Republik Indonesia hadir bukan sekadar dengan seragam dan kewenangan, tetapi dengan pendekatan kemanusiaan.
Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka turun langsung memberikan pendampingan psikologi dan trauma healing melalui Terapi USEFT kepada siswa, siswi, dan guru di MTs Muhammadiyah Wuring serta MA Muhammadiyah Nangahure, Kabupaten Sikka, Rabu, 2 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di MTs Muhammadiyah Wuring, Nangahure Lembah, Kecamatan Alok Barat, tersebut menjadi bagian penting dalam mengawali kembali proses belajar mengajar setelah aktivitas pendidikan sempat dihentikan akibat bencana alam gempa bumi yang mengguncang wilayah Kabupaten Sikka.
Sekitar 150 siswa dan guru MTs Muhammadiyah Wuring serta 100 siswa dan guru MA Muhammadiyah Nangahure mengikuti kegiatan tersebut. Dengan demikian, sekitar 250 warga sekolah mendapatkan sentuhan pendampingan psikologis dalam upaya membangun kembali rasa aman dan keberanian mereka untuk kembali menjalani aktivitas pendidikan.
Kegiatan trauma healing dipimpin Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, didampingi Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan personel Bag SDM Polres Sikka.
Pendekatan yang digunakan bukan sekadar menghibur anak-anak agar melupakan bencana. Terapi USEFT diarahkan untuk membantu peserta mengelola rasa takut dan trauma yang muncul setelah mengalami peristiwa gempa bumi, terutama ketika mereka harus kembali memasuki lingkungan sekolah dan memulai proses belajar mengajar.
Sebab, kembali ke sekolah setelah bencana bukan perkara sederhana. Bagi sebagian anak, ruang kelas yang sebelumnya identik dengan belajar, bermain, dan bertemu teman dapat berubah menjadi tempat yang mengingatkan mereka pada kecemasan. Suara benda bergeser, getaran kecil, atau bahkan sekadar bayangan tentang gempa susulan dapat memunculkan kembali rasa takut.
Karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memastikan bangunan berdiri dan kegiatan belajar kembali berjalan. Mental anak-anak juga harus dipulihkan. Di titik inilah kehadiran personel Polri mengambil peran yang lebih dalam.
Melalui pendekatan psikologis, siswa dan guru diajak membangun kembali rasa percaya diri, ketenangan, serta kesiapan mental untuk menghadapi aktivitas sehari-hari. Trauma healing menjadi jembatan antara pengalaman bencana yang menakutkan dengan keberanian untuk menatap kembali masa depan.
Bagi dunia pendidikan, langkah tersebut memiliki arti strategis. Sebab, sekolah bukan hanya membutuhkan murid yang hadir secara fisik, tetapi juga anak-anak yang merasa cukup aman untuk belajar, berinteraksi, dan kembali bermimpi.
Polri memahami bahwa bencana meninggalkan dampak yang jauh lebih luas daripada kerusakan fisik. Ada luka psikologis yang tidak terlihat, terutama pada anak-anak yang belum memiliki kemampuan emosional sepenuhnya untuk memahami dan mengelola pengalaman traumatis. Karena itu, pendekatan trauma healing menjadi bentuk nyata kehadiran Polri dalam fase pemulihan pascabencana.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian media dan turut meliput pelaksanaan trauma healing, sekaligus merekam sisi lain dari penanganan pascabencana yang kerap luput dari pemberitaan: bagaimana negara hadir memulihkan keberanian anak-anak setelah mereka diguncang bencana.
Yang menarik, kegiatan itu tidak berhenti pada sesi terapi. Dokumentasi yang disiapkan juga memuat video testimoni dan ucapan terima kasih kepada Polri dari para siswa, menjadi gambaran bahwa sentuhan psikologis dan perhatian yang diberikan telah diterima sebagai bentuk kepedulian di tengah situasi sulit.
Pesan yang muncul sederhana, tetapi kuat: setelah gempa mengguncang tanah, jangan biarkan rasa takut mengguncang masa depan anak-anak.
Kehadiran Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan Bag SDM Polres Sikka menunjukkan bahwa tugas kepolisian dalam situasi bencana tidak berhenti pada pengamanan lokasi atau menjaga ketertiban masyarakat. Polri juga hadir dalam ruang yang lebih personal—mendampingi masyarakat ketika mereka berusaha bangkit dari rasa takut.
Bagi 250 warga sekolah MTs Muhammadiyah Wuring dan MA Muhammadiyah Nangahure, trauma healing tersebut menjadi bagian dari proses untuk kembali menjalani kehidupan secara normal. Sekolah harus kembali menjadi ruang aman. Guru harus kembali mengajar dengan tenang. Dan anak-anak harus kembali mengejar cita-cita tanpa terus dibayangi rasa takut.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 10.15 WITA dalam keadaan aman dan lancar. Namun, nilai penting dari kegiatan tersebut jauh melampaui durasi pelaksanaannya. Sebab dalam penanganan bencana, membangun kembali tembok sekolah memang penting. Tetapi membangun kembali keberanian anak untuk memasuki sekolah adalah pekerjaan yang tidak kalah besar.
Dan di Sikka, Polri memilih hadir di sana—menyentuh sisi kemanusiaan, menguatkan mental, dan membantu anak-anak kembali percaya bahwa ruang kelas mereka masih merupakan tempat untuk belajar, bertumbuh, dan menjemput masa depan. [Cm24]


