Saat Bumi Sikka Diguncang Gempa M 7,7: Ribuan Penumpang di Lorens Say Berhamburan, Dua Nyawa Terenggut

Gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) berdampak pada kawasan Pelabuhan Lorens Say Maumere, memicu kepanikan penumpang dan masyarakat serta menyebabkan kerusakan pada ruang tunggu terminal. Sementara dua orang dilaporkan meninggal dunia, proses pendataan dan verifikasi korban maupun kerusakan masih berlangsung. Personel Polres Sikka bersama TNI, KSOP, Pelni, Basarnas, BPBD dan instansi terkait bergerak cepat melakukan evakuasi, sterilisasi serta pengamanan kawasan. Situasi saat ini terpantau kondusif, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan terhadap kemungkinan gempa susulan dan perkembangan potensi tsunami.

Saat Bumi Sikka Diguncang Gempa M 7,7: Ribuan Penumpang di Lorens Say Berhamburan, Dua Nyawa Terenggut
Detik-Detik Mencekam di Lorens Say: Gempa M 7,7 Guncang Bumi Sikka, Ribuan Penumpang Berhamburan, Dua Nyawa Terenggut

Maumere, 15 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Suasana Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Sabtu (15/8/2026) pagi, mendadak berubah menjadi kepanikan. Aktivitas pelayanan penumpang yang sebelumnya berjalan normal seketika terguncang setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur sekitar pukul 06.06 WITA.

Guncangan kuat yang dirasakan hingga kawasan Pelabuhan Lorens Say membuat masyarakat dan para pengguna jasa pelabuhan berhamburan keluar dari bangunan. Kepanikan tidak terhindarkan. Penumpang yang berada di kawasan terminal berusaha menyelamatkan diri dengan menjauh dari bangunan dan mencari lokasi yang dinilai lebih aman.

Situasi tersebut terjadi ketika kawasan pelabuhan sedang berada dalam aktivitas pelayanan kapal penumpang KM Bukit Siguntang, kapal milik PT Pelni yang melayani pergerakan penumpang dari Makassar menuju sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur.

Sebelum gempa terjadi, KM Bukit Siguntang tercatat tiba di Pelabuhan Lorens Say Maumere pada Sabtu pagi sekitar pukul 05.30 WITA dari Makassar. Dalam aktivitas pelabuhan tersebut, tercatat 436 penumpang naik, 886 penumpang turun, sementara 1.964 penumpang lainnya merupakan penumpang lanjutan.

Arus pergerakan penumpang yang cukup besar itu membuat kawasan pelabuhan berada dalam kondisi padat aktivitas ketika guncangan gempa tiba-tiba terjadi.

 

Berdasarkan informasi yang diterima petugas di lapangan, gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat maupun para pengguna jasa pelabuhan. Guncangan tersebut menyebabkan kepanikan dan membuat masyarakat serta penumpang berupaya keluar dari bangunan terminal untuk menyelamatkan diri.

 

Bangunan ruang tunggu penumpang Pelabuhan Lorens Say, khususnya bagian lantai dua, mengalami kerusakan hingga sebagian mengalami keruntuhan akibat kuatnya guncangan.

 

Kondisi tersebut dengan cepat mendapat perhatian personel pengamanan yang berada di kawasan pelabuhan. Petugas bergerak melakukan evakuasi, mengarahkan masyarakat menjauh dari bangunan yang mengalami kerusakan sekaligus melakukan sterilisasi terhadap area yang dinilai rawan.

 

Tidak sekadar menghadapi kepanikan massa, petugas juga harus memastikan agar masyarakat tidak kembali memasuki bangunan yang telah mengalami kerusakan. Ancaman reruntuhan susulan menjadi salah satu risiko yang harus diantisipasi di tengah situasi pascagempa.

 

Di tengah proses evakuasi dan pendataan, petugas menemukan adanya korban jiwa. Untuk sementara, dua orang dilaporkan meninggal dunia dan telah dilakukan pendataan serta identifikasi awal.

 

Korban pertama diketahui bernama Barnadus Muda, laki-laki berusia 66 tahun, kelahiran Lewo Pao Adonara Flores Timur, 1 Juli 1960. Korban tercatat sebagai warga Pelawan, RT 002, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

 

Barnadus Muda diketahui berprofesi sebagai petani/pekebun. Berdasarkan pendataan awal petugas, korban meninggal dunia diduga akibat syok saat kejadian gempa.

 

Korban kedua adalah Maria Diana Meliana, perempuan berusia 54 tahun, kelahiran Maumere, 2 Mei 1972, yang beralamat di Jalan Kimang Buleng, Maumere. Maria Diana Meliana dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan terminal penumpang.

 

Kedua korban selanjutnya menjadi bagian dari proses pendataan dan penanganan petugas bersama instansi terkait. Namun demikian, aparat masih melakukan verifikasi lapangan secara menyeluruh untuk memastikan data korban serta mengantisipasi kemungkinan adanya korban lain yang belum teridentifikasi.

 

Gempa tersebut berdasarkan informasi BMKG memiliki parameter sementara Magnitudo 7,7, dengan episentrum sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, pada kedalaman sekitar 15 kilometer.

 

Gempa tersebut juga berpotensi menimbulkan tsunami sehingga peringatan dini tsunami turut menjadi perhatian serius bagi petugas di kawasan pesisir, termasuk Pelabuhan Lorens Say Maumere.

 

Dalam kondisi seperti itu, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Personel Polres Sikka melalui pengamanan KPPP Laut Maumere langsung melakukan pemantauan situasi sekaligus membantu proses evakuasi masyarakat dan penumpang.

 

Petugas mengarahkan warga agar tidak mendekati bangunan yang rusak maupun mengalami keretakan. Masyarakat juga diimbau tidak panik dan mengikuti setiap arahan petugas serta informasi resmi yang disampaikan BMKG, BPBD, maupun instansi berwenang lainnya.

 

Penanganan situasi di Pelabuhan Lorens Say tidak dilakukan oleh kepolisian seorang diri. Sejumlah instansi terkait turut terlibat dalam pengamanan dan penanganan pascakejadian. Personel KPPP Laut Maumere dipimpin Ka Pospol AIPTU P. N. B. Harving bersama sejumlah personel melaksanakan pengamanan dan pemantauan di kawasan pelabuhan.

 

Kekuatan pengamanan tersebut diperkuat personel dari Lanal Maumere sebanyak enam orang, KSOP Maumere enam orang, KKP Maumere tiga orang, PT Pelni Maumere sepuluh orang, serta Karantina Maumere satu orang.

 

Kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi penting mengingat kawasan pelabuhan merupakan salah satu titik vital pergerakan masyarakat, khususnya setelah terjadinya gempa kuat yang berpotensi diikuti gempa susulan maupun perkembangan situasi lainnya.

 

Koordinasi juga dilakukan dengan pihak KSOP Kelas II Maumere, Pelindo, Basarnas/SAR Maumere, BPBD Kabupaten Sikka, serta instansi terkait lainnya untuk memastikan proses evakuasi, pencarian, pendataan korban dan pemeriksaan kerusakan dapat berlangsung secara terpadu.

 

Kerusakan pada ruang tunggu penumpang, terutama bagian lantai dua, menjadi perhatian utama aparat. Area tersebut langsung disterilisasi untuk mencegah masyarakat memasuki lokasi yang berpotensi membahayakan.

 

Petugas juga melakukan pemeriksaan awal terhadap fasilitas pelabuhan lainnya. Pendataan kerusakan masih berlangsung dan belum seluruhnya dapat dipastikan mengingat proses pemeriksaan harus dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan.

 

Situasi di sekitar pelabuhan secara bertahap dikendalikan. Petugas berupaya mencegah kepanikan berkembang menjadi situasi yang lebih luas dengan memberikan arahan kepada masyarakat serta memastikan jalur evakuasi tetap dapat digunakan. Di tengah situasi darurat tersebut, aparat juga terus memantau kemungkinan terjadinya gempa susulan serta perkembangan informasi terkait peringatan dini tsunami. 

 

Sebelum kejadian gempa, aktivitas KM Bukit Siguntang di Pelabuhan Lorens Say berlangsung dalam situasi yang relatif normal. Kapal tiba dari Makassar pada pagi hari dan membawa aktivitas pergerakan penumpang dalam jumlah besar. Tercatat 886 penumpang turun, 436 penumpang naik, dan 1.964 penumpang merupakan penumpang lanjutan.

 

Jumlah tersebut menunjukkan betapa strategisnya kawasan Pelabuhan Lorens Say sebagai simpul mobilitas masyarakat. Karena itu, ketika gempa terjadi, pengamanan tidak hanya diarahkan untuk mencegah gangguan keamanan, tetapi juga memastikan keselamatan ribuan penumpang dan masyarakat yang berada di kawasan pelabuhan.

 

Personel kepolisian bersama instansi terkait bergerak cepat melakukan pengamanan, evakuasi dan sterilisasi. Fokus utama diarahkan pada penyelamatan jiwa, pengendalian massa serta pencegahan jatuhnya korban tambahan akibat bangunan yang rusak.

 

Di tengah kepanikan yang sempat terjadi, personel pengamanan terus berada di lapangan. Masyarakat diarahkan agar tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang justru dapat membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

 

Petugas juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Setiap perkembangan mengenai gempa, potensi tsunami maupun gempa susulan diimbau mengacu pada sumber resmi. Langkah tersebut menjadi penting karena situasi pascagempa sangat rentan terhadap munculnya informasi simpang siur yang dapat memicu kepanikan baru.

 

Sementara itu, proses pendataan korban dan kerusakan terus dilakukan. Aparat memastikan setiap informasi yang muncul dari lapangan harus melalui proses verifikasi sebelum dinyatakan sebagai data resmi.

 

Peristiwa gempa di Pelabuhan Lorens Say Maumere kembali memperlihatkan betapa cepatnya situasi dapat berubah di ruang publik yang dipadati masyarakat. Dalam hitungan detik, aktivitas pelabuhan yang sebelumnya berjalan normal berubah menjadi situasi darurat yang menuntut kecepatan, ketenangan dan koordinasi.

 

Dua korban jiwa menjadi catatan paling memilukan dari kejadian tersebut. Sementara kerusakan bangunan terminal menjadi peringatan serius bahwa keselamatan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan aktivitas lainnya.

 

Polres Sikka bersama unsur terkait masih melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi. Pemeriksaan terhadap fasilitas pelabuhan, pendataan korban, pengamanan kawasan terdampak serta antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan terus dilakukan.

 

Hingga berita ini disusun, situasi di kawasan Pelabuhan Lorens Say Maumere terpantau kondusif dalam pengawasan petugas. Namun kewaspadaan tetap ditingkatkan menyusul potensi gempa susulan dan perkembangan peringatan dini tsunami.

 

Aparat mengimbau masyarakat agar tidak panik, menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak, tidak kembali memasuki kawasan berbahaya, serta senantiasa mengikuti arahan petugas dan informasi resmi dari BMKG, BPBD dan instansi terkait.

 

Proses pendataan dan verifikasi korban maupun kerusakan masih berlangsung. Perkembangan situasi akan diupdate lebih lanjut setelah seluruh data lapangan berhasil dihimpun dan diverifikasi. [Cm24]