Pekarangan Jadi Ladang Harapan, Polsek Kewapante Polres Sikka Pimpin Gerakan Pangan Bergizi

Kegiatan Bhabinkamtibmas Polsek Kewapante dalam monitoring dan pendampingan pemanfaatan lahan pekarangan bergizi di Desa Namangkewa berjalan aman dan kondusif serta memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kehadiran Polri tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai motor penggerak ketahanan pangan yang mampu memotivasi warga untuk memanfaatkan lahan secara produktif guna mendukung kemandirian pangan dan peningkatan ekonomi keluarga, meskipun masih menghadapi kendala cuaca dan keterbatasan sarana pengendalian hama.

Pekarangan Jadi Ladang Harapan, Polsek Kewapante Polres Sikka Pimpin Gerakan Pangan Bergizi
Polsek Kewapante Polres Sikka Turun ke Lahan, Bhabinkamtibmas Jadi Motor Penggerak Ketahanan Pangan di Desa Namangkewa

Tribratanewssikka.com - Maumere, 26 Maret 2026 – Di tengah tantangan perubahan cuaca dan keterbatasan sarana pertanian, peran aktif aparat kepolisian kembali terlihat nyata. Melalui sentuhan humanis dan pendekatan langsung ke masyarakat, Bhabinkamtibmas Polsek Kewapante menunjukkan bahwa Polri tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi penggerak ketahanan pangan dari tingkat paling dasar.

Pada Kamis, 26 Maret 2026, sekitar pukul 10.00 WITA, Bhabinkamtibmas Polsek Kewapante, AIPDA Dami Daty, melaksanakan kegiatan monitoring sekaligus pendampingan pemanfaatan lahan pekarangan bergizi di Dusun Rotat, Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program ketahanan pangan nasional yang selaras dengan kebijakan Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi bukti konkret kehadiran Polri dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.

 

Lahan yang dimonitor merupakan pekarangan milik anggota Polsek Kewapante dengan luas sekitar 30 x 40 meter persegi dan telah memiliki status legal bersertifikat. Di atas lahan tersebut tumbuh berbagai komoditas pangan bergizi yang dikelola secara mandiri, antara lain 6 pohon labu siam, 15 pohon terung ungu, 5 pohon cabai (lombok), serta 35 pohon ubi kayu.

 

Menariknya, seluruh proses pengelolaan dilakukan secara swadaya, mulai dari penyediaan bibit hingga pemupukan menggunakan NPK Ponska sebanyak 12 kilogram. Dengan usia tanam yang telah mencapai tiga bulan, sebagian tanaman seperti cabai dan terung telah menunjukkan hasil dengan mulai berbunga bahkan berbuah, sementara labu siam diperkirakan akan mulai berproduksi dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

 

Dalam kegiatan tersebut, AIPDA Dami Daty tidak hanya melakukan monitoring, tetapi juga aktif memberikan pendampingan serta edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan lahan yang efektif, produktif, dan ramah lingkungan. Ia juga mendorong warga untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi sekaligus peluang peningkatan ekonomi keluarga.

 

Kami ingin masyarakat melihat bahwa pekarangan rumah memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik. Ini bukan hanya soal tanaman, tetapi tentang kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan,” ungkapnya di sela kegiatan.

 

Respons masyarakat pun sangat positif. Warga menilai kehadiran Polri melalui Bhabinkamtibmas mampu menjadi contoh nyata dan sumber motivasi. Mereka mengaku tergerak untuk mulai memanfaatkan lahan pekarangan masing-masing, mengikuti langkah yang telah ditunjukkan oleh anggota Polsek Kewapante.

 

Polri sudah memberikan contoh langsung. Ini sangat memotivasi kami untuk ikut menanam dan memanfaatkan lahan yang ada,” ujar salah satu warga setempat.

 

Meski demikian, kegiatan ini tidak lepas dari sejumlah kendala. Faktor cuaca yang tidak menentu serta keterbatasan obat pembasmi hama menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga produktivitas tanaman. Namun, semangat kolaborasi antara aparat dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi hambatan tersebut.

 

Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dalam keadaan aman dan kondusif, mencerminkan sinergi yang kuat antara Polri dan masyarakat dalam membangun ketahanan pangan berbasis komunitas.

 

Langkah kecil yang dimulai dari pekarangan ini menjadi bukti bahwa ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari skala besar. Justru dari desa, dari tanah sederhana, dan dari kepedulian bersama—kemandirian itu tumbuh dan memberi harapan.[Cm24]