Polri Menguatkan Mental 600 Anak Sikka: Trauma Healing Jadi Jembatan Bangkit dan Kembali ke Sekolah Pasca Gempa Flores
Kegiatan trauma healing oleh Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka kepada sekitar 600 siswa, siswi, dan guru SMPN Nuba Arat menjadi langkah nyata Polri dalam memulihkan kondisi psikologis pascagempa. Kehadiran Polri tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menguatkan mental generasi muda agar mampu kembali belajar, bangkit dari trauma, dan menatap masa depan dengan penuh keberanian.
Maumere, 1 September 2026. Tribratanewssikka.com – Gempa bumi tidak hanya mengguncang tanah. Bagi sebagian anak-anak, getarannya dapat meninggalkan ketakutan yang jauh lebih lama daripada durasi guncangan itu sendiri. Dinding sekolah mungkin kembali berdiri, ruang kelas kembali dapat digunakan, dan aktivitas belajar mengajar perlahan dimulai, tetapi rasa cemas dan trauma di benak siswa tidak serta-merta hilang.

Di titik itulah kehadiran negara dibutuhkan—bukan sekadar untuk memastikan keamanan fisik, tetapi juga untuk memulihkan keberanian, ketenangan, dan rasa percaya diri masyarakat yang terdampak bencana.

Pesan kemanusiaan itu terlihat di SMPN Nuba Arat, Jalan Nairoa, Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Selasa (1/9/2026). Setelah sempat menghentikan kegiatan belajar mengajar akibat bencana gempa bumi, sekolah tersebut kembali menjadi ruang pembelajaran sekaligus ruang pemulihan psikologis bagi sekitar 600 siswa, siswi, dan guru.

Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka hadir memberikan trauma healing melalui Terapi USEFT sebagai bagian dari upaya membantu warga sekolah melewati fase sulit pascabencana.

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WITA itu dipimpin Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, didampingi Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan personel Bag SDM Polres Sikka.
Kehadiran tim psikologi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada persoalan yang jauh lebih dalam yang hendak disentuh: rasa takut yang mungkin masih tersimpan di balik wajah anak-anak yang kembali duduk di bangku sekolah.
Bencana alam memiliki cara sendiri dalam meninggalkan jejak. Ketika guncangan berhenti, ancaman fisik mungkin berkurang, namun ingatan tentang kepanikan, suara benda berjatuhan, kepanikan orang-orang di sekitar, dan ketidakpastian terhadap gempa susulan dapat terus membekas.
Bagi seorang anak, pengalaman tersebut dapat menjadi sesuatu yang sulit dipahami dan dikelola seorang diri. Karena itu, kembalinya siswa ke sekolah pascagempa tidak cukup hanya dengan membuka kembali pintu kelas. Mereka juga membutuhkan ruang untuk mengelola ketakutan, mendapatkan penguatan, dan diyakinkan bahwa mereka mampu kembali menjalani rutinitas.
Melalui pendekatan tersebut, Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan Bag SDM Polres Sikka berupaya membantu para siswa dan guru mengurangi rasa trauma yang muncul setelah mengalami peristiwa gempa bumi.
Terapi diarahkan untuk membangun kembali rasa aman secara psikologis, sehingga proses kembali belajar tidak dibebani oleh kecemasan yang berlebihan. Sekolah kembali dibuka, tetapi mental para penghuninya juga harus dipulihkan.
Sekitar 600 orang yang terdiri dari siswa, siswi, dan guru mengikuti kegiatan trauma healing tersebut. Jumlah itu menggambarkan betapa luasnya dampak psikologis yang perlu diperhatikan dalam proses pemulihan pascabencana. Anak-anak membutuhkan dukungan untuk kembali beraktivitas, sementara guru juga harus memiliki ketenangan dan kesiapan mental untuk mendampingi peserta didik dalam suasana pascabencana.
Tim psikologi tidak datang dengan pendekatan yang kaku. Kegiatan dikemas melalui metode Terapi USEFT agar para peserta dapat mengikuti proses pemulihan secara lebih nyaman. Tujuannya jelas: membantu mengikis rasa takut, menguatkan kondisi psikologis, dan mengembalikan keyakinan bahwa aktivitas sekolah dapat kembali dijalankan secara bertahap.
Pendekatan seperti ini menjadi penting karena pemulihan pascabencana pada hakikatnya bukan hanya tentang memperbaiki bangunan yang rusak, mendistribusikan bantuan, atau memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Ada satu bagian yang tidak kasatmata tetapi sangat menentukan, yakni pemulihan mental manusia yang mengalami bencana.
Kegiatan trauma healing di SMPN Nuba Arat memperlihatkan wajah lain dari pengabdian Polri. Di tengah situasi bencana, tugas kepolisian memang tidak berhenti pada pengamanan wilayah. Polri juga dituntut mampu membaca kebutuhan masyarakat dan hadir pada titik-titik yang membutuhkan dukungan.
Anak-anak sekolah adalah salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus. Mereka adalah generasi yang harus kembali belajar, kembali bermain, kembali bercita-cita, dan kembali memandang masa depan tanpa terus dihantui ketakutan akibat bencana yang baru saja mereka alami.
Karena itu, kehadiran Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka membawa pesan yang sederhana tetapi kuat: pemulihan pascagempa harus menyentuh manusia secara utuh.
Tidak cukup hanya memastikan sekolah dapat digunakan. Anak-anak yang belajar di dalamnya juga harus dibantu agar kembali memiliki keberanian untuk duduk di bangku sekolah. Dan tidak cukup hanya menghentikan dampak bencana secara fisik. Luka yang tidak terlihat juga harus dirawat.
Bagi para siswa SMPN Nuba Arat, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun kembali suasana positif setelah melewati pengalaman yang tidak mudah. Trauma healing menjadi jembatan antara masa ketika mereka berada dalam situasi penuh ketidakpastian dengan fase baru ketika mereka harus kembali menjalani kehidupan normal.
Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan. Sekolah juga merupakan ruang tempat anak-anak membangun keberanian, persahabatan, cita-cita, dan masa depan. Karena itu, memastikan anak-anak dapat kembali ke sekolah dengan kondisi psikologis yang lebih baik merupakan bagian penting dari pemulihan masyarakat Sikka.
Pesan yang hendak dibangun pun sangat jelas: gempa telah berlalu, tetapi masa depan tidak boleh ikut berhenti. Anak-anak harus kembali belajar. Guru harus kembali mengajar. Orang tua harus kembali membangun harapan. Dan masyarakat harus kembali berdiri dengan keyakinan bahwa setiap bencana dapat dilewati bersama.
Kegiatan trauma healing yang berlangsung hingga pukul 11.30 WITA tersebut berjalan aman dan lancar. Namun, nilai terpenting dari kegiatan itu tidak terletak pada berapa lama kegiatan berlangsung, melainkan pada pesan yang dibawanya.
Bahwa dalam menghadapi bencana, kehadiran negara harus terasa sampai ke ruang-ruang paling dekat dengan masyarakat. Di ruang kelas tempat anak-anak belajar. Di tengah guru yang kembali menjalankan tugas. Di lingkungan keluarga yang masih menyimpan kecemasan. Dan di tengah masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari situasi sulit.
Trauma healing menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian Polri dalam memastikan proses pemulihan berjalan menyeluruh. Sebab bencana memang dapat merobohkan bangunan, mengganggu aktivitas, dan mengguncang rasa aman. Tetapi dengan pendampingan, kepedulian, dan kebersamaan, rasa takut dapat perlahan digantikan oleh keberanian.
Dari SMPN Nuba Arat, pesan itu kembali ditegaskan: Polri hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dari ancaman, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan kekuatan untuk bangkit.
Dan bagi sekitar 600 siswa, siswi, serta guru yang mengikuti kegiatan tersebut, trauma healing bukan sekadar terapi. Ia adalah sebuah pesan bahwa setelah bumi berhenti berguncang, kehidupan harus kembali berjalan—dan masa depan anak-anak Sikka tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut. [Cm24]


