“13 Diakon Ditahbiskan Menjadi Imam di Ledalero, Polsek Nita Polres Sikka Pastikan Situasi Kamtibmas Kondusif"
Pentahbisan 13 diakon menjadi imam di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero berlangsung khidmat dan dihadiri sekitar 1.000 orang. Kegiatan yang dipimpin Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, berakhir pukul 12.30 WITA dalam keadaan aman dan kondusif, dengan pemantauan oleh Kanit Intelkam Polsek Nita.
Maumere, 12 Oktober 2026. Tribratanewssikka.com – Sebanyak 13 diakon resmi menerima Tahbisan Imamat dalam Perayaan Ekaristi Pentahbisan Imam yang berlangsung khidmat di Aula Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Dusun Poma, Desa Takaplager, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Sabtu (10/10/2026).

Perayaan sakral yang dipimpin Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, tersebut dihadiri sekitar 1.000 orang, terdiri atas para imam, biarawan dan biarawati, frater, keluarga imam baru, serta tamu undangan.

Pentahbisan ini menjadi momentum penting dalam kehidupan Gereja Katolik. Bagi ke-13 diakon yang menerima tahbisan, peristiwa tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan awal dari tanggung jawab pelayanan imamat yang menuntut kesetiaan, pengorbanan, keteladanan, dan pengabdian kepada Gereja serta umat.
Perayaan yang dimulai pukul 09.00 WITA itu berlangsung dengan rangkaian liturgi yang tertata, mulai dari Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Upacara Pentahbisan, Liturgi Ekaristi, hingga Ritus Penutup.
Di hadapan umat yang memenuhi lokasi perayaan, Mgr. Maksimus Regus memimpin secara langsung prosesi pentahbisan terhadap 13 diakon yang telah menjalani proses pembinaan dan pendidikan calon imam.
Rangkaian perayaan diawali dengan prosesi liturgi dari halaman Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero menuju tempat perayaan. Prosesi tersebut melibatkan petugas liturgi, para pembantu uskup, pembawa salib dan lilin, para calon imam yang didampingi orang tua masing-masing, para imam konselebran, serta uskup pentahbis.
Suasana perayaan semakin sakral ketika rangkaian Liturgi Sabda dilaksanakan melalui pembacaan Kitab Suci, mazmur tanggapan, dan pembacaan Injil sebagai bagian dari persiapan menuju inti perayaan, yakni penerimaan Tahbisan Imamat.
Dalam upacara pentahbisan, ke-13 diakon dipanggil untuk tampil ke depan dan menjalani tahapan liturgi yang menjadi bagian penting dari penerimaan tugas imamat. Rangkaian tersebut mencakup penerimaan calon imam, homili, janji kesetiaan, Litani Para Kudus, penumpangan tangan, dan doa tahbisan imam.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pengurapan tangan, pengenaan perlengkapan liturgi, serta penyerahan Injil dan buku Ibadat Harian. Setiap tahapan menegaskan makna pelayanan imamat yang tidak hanya berorientasi pada tugas-tugas gerejawi, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan spiritual dalam mendampingi kehidupan umat.
Bagi para imam baru, tahbisan tersebut menandai babak baru perjalanan panggilan mereka. Setelah menjalani pendidikan dan pembinaan, mereka kini memasuki tahap pelayanan dengan tanggung jawab yang lebih besar untuk mewartakan iman, melayani umat, serta menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Perayaan pentahbisan turut dihadiri sejumlah pimpinan Gereja dan tokoh pendidikan calon imam, di antaranya Ketua Provinsial SVD Ende, P. Eman Embu, SVD; Ketua Yayasan Persekolahan Santo Paulus, P. Yulius Kuway, SVD; serta Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, RP. Dr. Yosef Keladu Koten, SVD. Hadir pula para imam konselebran, biarawan dan biarawati, para frater, keluarga dari 13 imam baru, serta tamu undangan lainnya.
Kehadiran keluarga menjadi bagian bermakna dalam perayaan tersebut. Di balik setiap tahbisan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan pendidikan, pendampingan rohani, pengorbanan, dan dukungan keluarga.
Karena itu, penerimaan Tahbisan Imamat bukan hanya menjadi kebahagiaan bagi para imam baru, tetapi juga menjadi momen penuh makna bagi keluarga dan komunitas Gereja yang mendampingi perjalanan panggilan mereka.
Setelah upacara pentahbisan, perayaan dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi, meliputi persiapan persembahan, Doa Syukur Agung, penerimaan komuni, dan doa sesudah komuni.
Pada Ritus Penutup, rangkaian kegiatan diisi dengan maklumat tahbisan, pemberian yurisdiksi, serta sambutan dari Uskup Pentahbis Mgr. Maksimus Regus, Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, perwakilan orang tua, dan perwakilan imam baru. Perayaan kemudian ditutup dengan lagu penutup sebelum dilanjutkan dengan acara perjamuan.
Di tengah kehadiran sekitar 1.000 orang, aspek keamanan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Monitoring dilakukan oleh Personel Polsek Nita, guna mengikuti perkembangan situasi selama berlangsungnya perayaan di wilayah hukum Polsek Nita, Polres Sikka.
Berdasarkan laporan kegiatan, Perayaan Ekaristi Pentahbisan Imam berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga berakhir pada pukul 12.30 WITA. Setelah rangkaian liturgi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan acara perjamuan.
Kelancaran pelaksanaan kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat menjadi bagian penting dalam menjaga suasana kehidupan bermasyarakat yang tertib. Pemantauan situasi kamtibmas pada kegiatan semacam ini juga mendukung terciptanya rasa aman bagi umat yang menjalankan ibadah serta para tamu yang menghadiri perayaan.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Kabupaten Sikka yang memiliki keberagaman latar belakang, keamanan kegiatan keagamaan merupakan unsur penting agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas ibadah secara tenang dan bermartabat.
Pentahbisan 13 diakon menjadi imam di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero membawa pesan mendalam tentang panggilan, kesetiaan, dan pengabdian. Tahbisan bukanlah garis akhir dari perjalanan panjang pembinaan, melainkan pintu masuk menuju tanggung jawab pelayanan yang lebih besar.
Para imam baru diharapkan mampu menjalankan tugas dengan integritas, kerendahan hati, dan semangat melayani, serta hadir sebagai gembala yang dekat dengan umat. Pelayanan tersebut tidak hanya menyangkut kehidupan rohani, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, toleransi, dan kepedulian sosial.
Sementara itu, kelancaran perayaan di Ledalero memperlihatkan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi terselenggaranya kegiatan keagamaan. Ketika umat dapat beribadah dengan tenang, kehidupan bersama pun memiliki ruang yang lebih kuat untuk bertumbuh dalam suasana damai dan saling menghormati.
Hingga pukul 12.30 WITA, seluruh rangkaian Perayaan Ekaristi Pentahbisan Imam di Aula Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero berakhir dalam keadaan aman dan kondusif. Pemantauan oleh Kanit Intelkam Polsek Nita, Aiptu Abdul Rais, menjadi bagian dari upaya mengikuti situasi keamanan selama kegiatan berlangsung.
Peristiwa ini menjadi momentum bersejarah bagi ke-13 imam baru, keluarga, dan komunitas Gereja Katolik. Lebih dari sekadar perayaan liturgis, pentahbisan tersebut menegaskan bahwa panggilan imamat membawa konsekuensi pelayanan: mengabdi dengan setia, mendampingi umat, dan menghadirkan nilai-nilai kasih di tengah kehidupan masyarakat. [Cm24]
"POLISI BERSAMA MASYARAKAT"


