“Gelora Samador Kembali Dipenuhi Tawa, 27 Polwan Polres Sikka Hadir Obati Trauma Anak Pengungsi”

Kegiatan trauma healing Polwan Polres Sikka di Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador menjadi wujud nyata kepedulian dan kehadiran Polri dalam memulihkan semangat anak-anak terdampak bencana. Melalui permainan, nyanyian dan berbagi makanan, Polwan menghadirkan tawa, rasa aman serta harapan di tengah suasana pengungsian.

“Gelora Samador Kembali Dipenuhi Tawa, 27 Polwan Polres Sikka Hadir Obati Trauma Anak Pengungsi”
“Gelora Samador Tak Lagi Sunyi, Polwan Polres Sikka Hadir Membawa Tawa dan Harapan bagi Anak Pengungsi”

Maumere, 28 Agustus 2026. Tribrayanewssikka.com — Di tengah suasana pengungsian yang masih menyisakan kecemasan dan ketidakpastian, tawa anak-anak kembali terdengar di Gelora Samador Maumere, Jumat pagi, 28 Agustus 2026.

Bukan karena bencana telah berakhir. Bukan pula karena mereka telah kembali ke rumah masing-masing. Tawa itu hadir karena 27 Polisi Wanita (Polwan) Polres Sikka datang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar bantuan material: perhatian, kehangatan dan harapan.

Sejak pukul 08.15 Wita, Posko Pengungsian Terpusat Gelora Samador Maumere di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, menjadi ruang kecil bagi anak-anak pengungsi untuk sejenak melupakan situasi sulit yang mereka hadapi.

 

Para Polwan Polres Sikka menggelar trauma healing dengan pendekatan sederhana namun menyentuh. Anak-anak diajak bernyanyi, bermain, bercanda dan berinteraksi dalam suasana yang jauh dari kesan formal.

 

Sebanyak 50 anak pengungsi menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Tidak ada jarak antara seragam dan anak-anak. Para Polwan membaur, mengajak mereka bermain dan menciptakan suasana ceria. Di sela-sela kegiatan, para anak juga mendapatkan makanan berupa roti yang dibagikan sebagai bentuk kepedulian.

 

Bagi orang dewasa, sepotong roti mungkin hanyalah makanan ringan. Namun bagi anak-anak yang sedang berada di pengungsian, pemberian itu dapat menjadi simbol bahwa di tengah keadaan yang serba terbatas, masih ada tangan yang datang untuk membantu dan masih ada orang-orang yang peduli terhadap keberadaan mereka.

 

Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan yang dapat dilihat mata. Ada luka lain yang tidak selalu tampak—rasa takut, cemas, kehilangan rasa aman, kejenuhan hingga kebingungan yang dapat dialami anak-anak ketika harus meninggalkan rumah dan hidup dalam suasana pengungsian.

 

Karena itu, trauma healing bukan sekadar kegiatan bermain. Di balik nyanyian dan permainan, terdapat upaya untuk menghadirkan kembali rasa aman bagi anak-anak. Mereka diberikan ruang untuk berekspresi, berinteraksi dan merasakan bahwa kehidupan masih memiliki sisi menyenangkan meskipun mereka sedang berada dalam situasi yang tidak mudah.

 

Polwan Polres Sikka memahami bahwa anak-anak tidak membutuhkan ceramah panjang tentang ketangguhan. Mereka membutuhkan seseorang yang mau duduk bersama mereka. Mau bermain. Mau bernyanyi. Mau tersenyum. Dan pagi itu, para Polwan hadir melakukan semua itu.

 

Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari kehadiran Polri dalam penanganan masyarakat terdampak bencana. Sebab, pemulihan tidak selalu dimulai dari pembangunan kembali rumah atau pemenuhan kebutuhan fisik. Pemulihan juga dapat dimulai dari hal paling sederhana: mengembalikan senyum anak-anak.

 

Kegiatan trauma healing tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menyongsong Hari Ulang Tahun Polisi Wanita ke-78, yang akan diperingati pada 1 September 2026. Momentum HUT Polwan tidak hanya diterjemahkan melalui kegiatan seremonial. Di Gelora Samador, peringatan tersebut justru diterjemahkan dalam bentuk pengabdian yang langsung menyentuh masyarakat.

 

Bahwa usia pengabdian Polwan tidak hanya dihitung dari perjalanan institusi, tetapi juga dari seberapa jauh keberadaan mereka mampu memberikan manfaat kepada masyarakat. Ketika masyarakat berada dalam kondisi normal, polisi menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban.

 

Tetapi ketika bencana datang dan kehidupan warga terguncang, tugas kemanusiaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengabdian tersebut. Di situlah kehadiran 27 Polwan Polres Sikka menemukan maknanya. Mereka datang bukan untuk mencari sorotan. Mereka datang untuk memastikan anak-anak pengungsi tidak merasa ditinggalkan.

 

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., Kasi Propam Polres Sikka AKP Fransiskus Somba Say, serta Ka Posko Tanggap Bencana Polres Sikka Ipda Nur Akis Lewa bersama anggota Regu 1 yang tersprin dalam Sprin Kapolres Sikka Nomor: Sprin/343/VIII/OPS.2.1./2026.

 

Kehadiran jajaran tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kondisi kebencanaan di wilayah hukum Polres Sikka dilakukan secara terpadu. Posko bukan hanya menjadi tempat menampung warga. Posko juga harus menjadi tempat di mana masyarakat merasa aman, diperhatikan dan mendapatkan dukungan. Terlebih anak-anak.

 

Mereka adalah kelompok yang paling mudah merasakan perubahan drastis akibat bencana. Dari rumah yang biasanya menjadi tempat bermain dan beristirahat, mereka harus berpindah ke tempat pengungsian. Dari rutinitas yang familiar, mereka berhadapan dengan suasana baru yang penuh keterbatasan.

 

Dalam kondisi seperti itu, kehadiran orang-orang yang memberikan perhatian dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Dan itulah yang dilakukan para Polwan Polres Sikka.

 

Pukul 09.00 Wita, kegiatan berakhir. Kurang lebih 45 menit, para Polwan berada bersama anak-anak pengungsi. Singkat jika dihitung dengan waktu.Namun tidak singkat jika diukur dari makna.

 

Sebab selama 45 menit itu, anak-anak tidak hanya bermain. Mereka mendapatkan kesempatan untuk tertawa, bernyanyi, berinteraksi dan merasakan suasana yang lebih ringan di tengah kehidupan pengungsian.

 

Tidak ada yang dapat menghapus begitu saja pengalaman sulit akibat bencana. Namun kepedulian dapat membantu seseorang melewati masa sulit tersebut. Dan bagi anak-anak, sebuah senyuman dapat menjadi awal dari keberanian untuk kembali bangkit. Gelora Samador pagi itu akhirnya tidak hanya menjadi tempat pengungsian. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan antara aparat kepolisian dan masyarakat dalam wajah yang paling manusiawi.

 

Seragam polisi yang biasanya identik dengan ketegasan dan kewibawaan, pagi itu hadir dengan wajah berbeda. Mereka bermain bersama anak-anak. Mereka bernyanyi bersama. Mereka membagikan roti. Mereka mendengarkan tawa. Dan dari sana, sebuah pesan besar kembali ditegaskan:

 

Polisi bukan hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan keamanan. Polisi juga harus hadir ketika masyarakat membutuhkan kekuatan untuk bangkit. Kegiatan berlangsung aman dan kondusif. Namun yang tertinggal bukan hanya laporan kegiatan. Yang tertinggal adalah senyum puluhan anak pengungsi yang untuk sesaat berhasil mengusir rasa takut dari wajah mereka.

 

Di tengah bencana, mungkin tidak semua luka dapat langsung disembuhkan. Tetapi satu hal dapat dilakukan setiap saat: jangan biarkan mereka menghadapi luka itu sendirian. Itulah yang dilakukan Polwan Polres Sikka.

 

Menjelang HUT Polwan ke-78, mereka tidak memilih sekadar merayakan usia pengabdian dengan seremoni. Mereka memilih turun ke tengah masyarakat, mendatangi anak-anak yang sedang berada dalam situasi sulit, lalu memberikan sesuatu yang sederhana tetapi sangat berarti: waktu, perhatian dan harapan.

 

Sebab pada akhirnya, ukuran pengabdian bukanlah seberapa meriah sebuah perayaan. Melainkan seberapa besar kehadiran itu mampu membuat masyarakat yang sedang terluka kembali percaya bahwa mereka tidak sendirian. [Cm24]