"As Mesin Kapal Patah di Tengah Laut, Dua Nelayan Sikka Berhasil Dievakuasi Tim SAR Gabungan
Operasi SAR Gabungan berhasil mengevakuasi dua nelayan yang mengalami kerusakan mesin kapal di tengah perjalanan dari Maumere menuju Pulau Karumpa. Setelah melalui pencarian dan penyisiran di sekitar perairan Pulau Sukun, keduanya berhasil ditemukan dalam keadaan selamat dan dibawa kembali ke Pelabuhan Wuring, Maumere. Keberhasilan ini menjadi bukti pentingnya respons cepat, kesiapsiagaan, serta sinergi antarunsur dalam menjaga keselamatan masyarakat di wilayah perairan.
Maumere, 20 September 2026. Tribratanewssikka.com — Laut kembali menguji ketangguhan dua nelayan asal Kabupaten Sikka. Perjalanan yang semula ditujukan menuju Pulau Karumpa, Kepulauan Selayar, berubah menjadi situasi darurat setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin dan tidak mampu melanjutkan pelayaran.

Dalam kondisi terombang-ambing di tengah perairan, harapan keselamatan kemudian bertumpu pada respons cepat Tim SAR Gabungan yang bergerak melakukan pencarian dan evakuasi. Setelah melalui rangkaian penyisiran di wilayah perairan Sikka, kedua nelayan akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat dan berhasil dibawa kembali ke Maumere, Minggu (20/9/2026).

Kedua nelayan tersebut masing-masing bernama Ahmad Junaidi (49) dan Jiar Junaidi Mendome (16). Keduanya merupakan warga Wolomarang, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.

Peristiwa itu bermula pada Jumat, 18 September 2026 sekitar pukul 13.00 WITA. Ahmad Junaidi bersama Jiar Junaidi Mendome berangkat dari Maumere menuju Pulau Karumpa, Kepulauan Selayar, dengan menggunakan sebuah kapal kayu yang telah dilapisi fiber.
Perjalanan berlangsung hingga mereka memasuki wilayah perairan sekitar Pulau Madu. Namun, sekitar pukul 00.00 WITA, situasi berubah ketika mesin kapal mengalami kerusakan. Bagian as mesin kapal patah, menyebabkan kapal kehilangan kemampuan untuk bergerak dan melanjutkan perjalanan.
Kerusakan tersebut membuat perjalanan kedua nelayan terhenti di tengah laut. Informasi mengenai kondisi mereka kemudian diterima oleh pihak terkait dan ditindaklanjuti dengan operasi pencarian serta penyelamatan.
Menyikapi laporan tersebut, Tim SAR Gabungan segera mempersiapkan operasi pencarian. Upaya penyelamatan tidak hanya mengandalkan satu unsur, melainkan melibatkan sejumlah kekuatan yang memiliki kemampuan dan tugas masing-masing dalam operasi SAR di wilayah perairan.
Pada Minggu, 20 September 2026 pukul 08.00 WITA, Tim SAR Gabungan terlebih dahulu melaksanakan briefing untuk mematangkan pelaksanaan operasi. Briefing menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh personel memahami lokasi pencarian, pola penyisiran, serta langkah evakuasi yang akan dilakukan apabila korban berhasil ditemukan.
Setengah jam kemudian, tepat pukul 08.30 WITA, Tim SAR Gabungan bergerak menuju titik pencarian yang telah diplot di sekitar Pulau Sukun.
Penyisiran dilakukan dengan menyusuri wilayah perairan yang diperkirakan menjadi lokasi keberadaan kedua nelayan. Kondisi laut menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi tim dalam memastikan pencarian berjalan efektif dan keselamatan korban dapat segera dipastikan.
Setelah beberapa jam melakukan pencarian, titik terang akhirnya ditemukan. Sekitar pukul 11.30 WITA, Tim SAR Gabungan berhasil menemukan kapal yang membawa kedua nelayan tersebut di lokasi sekitar 7 mil sebelah barat laut Pulau Sukun. Keduanya ditemukan dalam keadaan selamat.
Tanpa membuang waktu, tim langsung melakukan proses evakuasi terhadap kedua korban. Kapal yang mengalami kerusakan mesin tersebut juga dibawa kembali menuju Maumere.
Operasi pencarian yang sebelumnya dipenuhi ketidakpastian akhirnya berujung pada kabar menggembirakan. Kedua nelayan berhasil keluar dari situasi darurat dan dibawa menuju tempat yang lebih aman. Sekitar pukul 13.00 WITA, Tim SAR Gabungan bersama kedua korban tiba kembali di Pelabuhan Wuring, Maumere.
Kepulangan tersebut sekaligus menandai berakhirnya operasi pencarian dan evakuasi terhadap dua nelayan yang mengalami kerusakan mesin di tengah perjalanan.
Keberhasilan operasi tersebut tidak terlepas dari keterlibatan berbagai unsur yang bergerak dalam satu koordinasi. Operasi SAR Gabungan melibatkan Basarnas Maumere sebanyak enam personel, Lanal Maumere satu personel, Dit Polair Polda NTT Marnit Sikka sebanyak dua personel, serta Sat Polairud Polres Sikka sebanyak tiga personel.
Dalam pelaksanaan operasi, tim menggunakan KN SAR Puntadewa beserta sejumlah peralatan evakuasi guna mendukung proses pencarian dan penyelamatan.
Keterlibatan lintas unsur tersebut memperlihatkan bahwa operasi penyelamatan di laut membutuhkan koordinasi yang terukur, komunikasi yang baik, serta kecepatan dalam mengambil langkah ketika informasi mengenai masyarakat yang mengalami keadaan darurat diterima.
Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada laut, kondisi darurat dapat muncul kapan saja. Kerusakan mesin, perubahan cuaca, maupun persoalan teknis lainnya dapat mengubah perjalanan biasa menjadi keadaan yang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, keberadaan dan kesiapsiagaan unsur SAR memiliki arti penting dalam memberikan rasa aman bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di wilayah perairan.
Dalam kasus ini, kerusakan mesin yang menyebabkan kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan akhirnya tidak berujung pada korban jiwa. Kedua nelayan berhasil ditemukan dan dievakuasi dalam keadaan selamat.
Perjalanan Ahmad Junaidi dan Jiar Junaidi Mendome yang sempat terhenti akibat kerusakan mesin akhirnya dapat diselesaikan dengan selamat.
Dari perjalanan menuju Pulau Karumpa, Kepulauan Selayar, keduanya harus menghadapi situasi tidak terduga setelah kapal mengalami kerusakan di tengah laut. Namun, setelah melalui proses pencarian, penyisiran, hingga evakuasi, keduanya akhirnya kembali menginjakkan kaki di Maumere. Operasi SAR Gabungan pun dinyatakan berlangsung aman, lancar, dan kondusif.
Keberhasilan menemukan kedua korban dalam kondisi selamat menjadi akhir dari operasi yang sejak awal diarahkan untuk satu tujuan utama: memastikan masyarakat yang mengalami keadaan darurat di laut dapat kembali dengan selamat.
Laut boleh menjadi ruang kehidupan sekaligus ruang yang penuh tantangan. Namun, ketika musibah terjadi, kecepatan informasi, kesiapsiagaan personel, serta soliditas antarunsur menjadi mata rantai penting dalam menyelamatkan nyawa.
Dalam operasi kali ini, mata rantai tersebut bekerja hingga akhirnya dua nelayan yang sempat kehilangan kemampuan untuk melanjutkan pelayaran dapat ditemukan dan dievakuasi kembali ke Maumere dalam keadaan selamat. [Cm24]


