“Duka Tak Dibiarkan Sendiri, Oikumene Polres Sikka Ulurkan Tangan bagi Keluarga Personel yang Telah Tiada”
Penyerahan santunan duka sebesar Rp15 juta dari Gereja Oikumene Polres Sikka kepada keluarga almarhum Aipda Charles Paulus Daniel Rondo menjadi wujud nyata kepedulian, solidaritas, dan semangat kekeluargaan. Bantuan tersebut bukan sekadar materi, tetapi juga bentuk kehadiran dan penguatan bagi keluarga yang tengah menghadapi kehilangan.
Maumere, 18 September 2026. Tribratanewssikka.com — Ketika kehilangan datang dan meninggalkan ruang kosong di tengah keluarga, tidak banyak hal yang mampu menghapus rasa duka.

Namun, kehadiran, kepedulian, dan uluran tangan dari orang-orang di sekitar dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka yang sedang berjuang menerima kenyataan. Semangat itulah yang ditunjukkan Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka kepada keluarga almarhum Aipda Charles Paulus Daniel Rondo.
Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti keluarga, Gereja Oikumene Polres Sikka tidak sekadar hadir menyampaikan belasungkawa. Kepedulian itu diwujudkan melalui penyerahan bantuan duka sebagai bentuk solidaritas dan perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kegiatan penyerahan santunan berlangsung pada Jumat, 18 September 2026, sekitar pukul 12.00 Wita, bertempat di rumah orang tua istri almarhum, Maria R. Ekawati Laga, di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.
Penyerahan bantuan dilakukan oleh Ketua Oikumene Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, S.M., bersama para pengurus Oikumene Polres Sikka yang hadir mewakili keluarga besar Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka.
Ketua Oikumene Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, S.M., mengatakan bahwa pemberian bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas keluarga besar Oikumene Polres Sikka kepada keluarga almarhum.
“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas kami dari Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka kepada keluarga almarhum Aipda Charles Paulus Daniel Rondo. Kami menyadari bahwa bantuan ini tidak dapat menggantikan rasa kehilangan yang dialami keluarga, tetapi kami berharap kehadiran dan perhatian ini dapat sedikit meringankan beban keluarga serta menjadi penguat di tengah suasana duka yang sedang dihadapi.
Kami juga ingin menunjukkan bahwa keluarga besar Oikumene Polres Sikka selalu berupaya hadir dalam suka maupun duka. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan dalam menghadapi masa kehilangan ini.”
Lebih lanjut, Leonardus menegaskan bahwa semangat kebersamaan dan saling peduli harus terus dirawat dalam kehidupan keluarga besar Polres Sikka. Menurutnya, kepedulian bukan hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata, terutama ketika ada keluarga yang sedang menghadapi musibah.
Dalam penyerahan tersebut, Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka memberikan bantuan duka berupa uang tunai sebesar Rp15.000.000 (lima belas juta rupiah). Santunan diterima langsung oleh istri almarhum, Maria R. Ekawati Laga, dengan disaksikan keluarga dan anak-anak almarhum.
Nilai bantuan tersebut tentu tidak dapat mengukur besarnya kehilangan yang sedang dirasakan keluarga. Sebab, kehilangan seorang suami, ayah, dan bagian penting dari keluarga bukan sesuatu yang dapat digantikan dengan materi.
Namun, bantuan itu memiliki makna lain. Ia menjadi simbol bahwa kepedulian masih hidup, bahwa solidaritas tidak berhenti pada kata-kata, dan bahwa keluarga yang sedang berduka masih memiliki saudara yang bersedia berdiri bersama mereka.
Dalam suasana seperti itu, sebuah uluran tangan sering kali memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar nominal. Ia menjadi pesan moral: ketika kesedihan datang, jangan biarkan seseorang menghadapinya seorang diri.
Kepedulian Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka kepada keluarga almarhum Aipda Charles Paulus Daniel Rondo merupakan bentuk nyata dari semangat kebersamaan yang terus dibangun di lingkungan keluarga besar Polres Sikka.
Gereja Oikumene tidak hanya menjadi ruang untuk menjalankan kehidupan kerohanian, tetapi juga menjadi wadah yang menumbuhkan rasa persaudaraan, kepedulian sosial, serta semangat saling menopang di antara sesama.
Kehadiran pengurus Oikumene dalam suasana duka tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh berhenti sebagai slogan. Nilai itu harus diterjemahkan dalam tindakan yang dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Sebab, dalam kehidupan bersama, ada saatnya seseorang berada dalam keadaan kuat dan mampu memberikan dukungan. Namun, ada pula masa ketika seseorang berada dalam titik paling rapuh dan membutuhkan orang lain untuk menguatkannya.
Pada titik itulah solidaritas menemukan maknanya. Kehadiran Gereja Oikumene Polres Sikka menjadi bukti bahwa ikatan kekeluargaan dapat melampaui sekat-sekat tugas dan rutinitas. Di balik seragam kedinasan dan tanggung jawab sebagai anggota Polri, terdapat sisi kemanusiaan yang tetap membutuhkan perhatian, terutama ketika sebuah keluarga kehilangan orang yang mereka cintai.
Bagi keluarga almarhum, santunan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban di tengah suasana duka yang sedang dihadapi. Lebih dari itu, kehadiran keluarga besar Gereja Oikumene Polres Sikka menjadi bentuk penguatan moral bagi istri dan anak-anak almarhum.
Pada akhirnya, Rp15 juta yang diserahkan bukan sekadar angka. Di balik nominal tersebut terdapat pesan solidaritas, penghormatan, kasih persaudaraan, dan kepedulian terhadap keluarga yang ditinggalkan.
Bantuan itu mungkin tidak mampu menghapus kesedihan, tetapi menjadi tanda bahwa di tengah kehilangan, masih ada tangan-tangan yang bersedia menopang dan hati-hati yang bersedia berbagi rasa. [Cm24]


