Buang Emosi Negatif, Bangun Energi Positif: Polres Sikka Sentuh Hati Para Tahanan Lewat Konseling Pemulihan Mental
Melalui kegiatan konseling bagi para tahanan, Polres Sikka menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pemulihan mental dan pembentukan karakter. Dengan membantu para tahanan mengenali serta mengelola emosi negatif, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan optimisme, kesadaran diri, dan semangat untuk memperbaiki kehidupan, sehingga mereka dapat kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan bermanfaat.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 21 Juni 2026– Di balik pintu besi dan tembok ruang tahanan, tersimpan beragam cerita kehidupan yang tidak semuanya dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Ada penyesalan yang terus menghantui, kecemasan tentang masa depan yang belum pasti, kerinduan mendalam terhadap keluarga, hingga pergulatan batin yang kerap menggerus harapan. Kondisi itulah yang sering menjadi beban psikologis bagi para tahanan selama menjalani proses hukum.

Menyadari bahwa pembinaan terhadap tahanan tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum dan pengamanan semata, Polres Sikka terus menghadirkan sentuhan kemanusiaan melalui program pembinaan mental dan psikologis.
Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut diwujudkan melalui kegiatan konseling yang digelar Bagian Sumber Daya Manusia (Bag SDM) Polres Sikka di ruang tahanan Polres Sikka, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WITA hingga 09.45 WITA itu dipimpin langsung oleh Kabag SDM Polres Sikka, AKP Susanto, S.E., dan diikuti oleh 16 orang tahanan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kasat Tahti Polres Sikka IPTU Abdul Gani, IPDA Yudi Mangge selaku mentor konseling, personel Unit Tahti, serta personel Humas Polres Sikka.
Meski berlangsung dalam suasana sederhana, kegiatan tersebut menyimpan makna yang sangat mendalam. Konseling yang diberikan bukan sekadar forum diskusi, melainkan menjadi ruang refleksi bagi para tahanan untuk memahami dirinya sendiri, mengenali luka batin yang selama ini dipendam, serta menemukan kembali harapan yang mungkin mulai memudar akibat situasi yang mereka hadapi.
Selama menjalani masa penahanan, tidak sedikit tahanan yang mengalami tekanan psikologis akibat keterbatasan ruang gerak, hilangnya kebebasan, terputusnya rutinitas kehidupan, serta kerinduan terhadap keluarga. Dalam kondisi seperti itu, berbagai emosi negatif kerap muncul dan berkembang menjadi sumber stres yang berpotensi memengaruhi kondisi mental maupun perilaku seseorang.
Melalui kegiatan konseling tersebut, para tahanan diajak mengenali berbagai bentuk emosi yang selama ini mereka rasakan, mulai dari rasa takut, marah, kecewa, cemas, putus asa, kesepian, hingga rasa bersalah yang terus menghantui pikiran mereka.
Dengan pendekatan yang humanis dan persuasif, para peserta diberikan pemahaman bahwa emosi negatif bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau dipendam. Sebaliknya, emosi tersebut perlu dikenali, dipahami, dan dikelola secara sehat agar tidak berkembang menjadi tekanan psikologis yang lebih berat.
Kabag SDM Polres Sikka, AKP Susanto, menegaskan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama untuk berubah dan memperbaiki kehidupannya.
Menurutnya, kesalahan yang pernah dilakukan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah terhadap masa depan. Justru pengalaman hidup yang pahit harus dijadikan pelajaran berharga untuk membangun pribadi yang lebih baik.
“Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Namun kesalahan itu bukan akhir dari perjalanan hidup seseorang. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari pengalaman tersebut, memperbaiki diri, dan memiliki kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan,” ungkap AKP Susanto di hadapan para peserta konseling.
Pernyataan tersebut disampaikan bukan sebagai nasihat formal semata, melainkan sebagai pesan moral yang ingin menanamkan kembali harapan di tengah keterbatasan yang sedang dihadapi para tahanan.
Sementara itu, IPDA Yudi Mangge yang menjadi mentor dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental selama menjalani proses hukum.
Menurutnya salah satu langkah awal untuk bangkit dari keterpurukan adalah keberanian seseorang untuk mengakui dan menerima kondisi yang sedang dihadapi. Dengan menerima kenyataan, seseorang akan lebih mudah melakukan evaluasi diri dan menyusun langkah-langkah perbaikan untuk masa depan.
Dalam suasana yang penuh keakraban, para tahanan diajak melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup masing-masing. Mereka diberikan ruang untuk memahami berbagai pengalaman yang pernah terjadi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Kecemasan tentang masa depan, rasa malu akibat perbuatan yang telah dilakukan, kemarahan terhadap keadaan, penyesalan yang mendalam, hingga perasaan kehilangan arah hidup menjadi topik yang mengemuka dalam sesi konseling tersebut.
Para peserta juga diajak memahami bahwa emosi negatif sebenarnya merupakan bagian dari pengalaman manusia yang normal. Namun apabila tidak dikelola dengan baik, emosi tersebut dapat berkembang menjadi sumber tekanan yang menghambat proses perubahan diri.
Sebaliknya, ketika seseorang mampu menerima, memahami, dan mengendalikan emosinya, maka energi negatif tersebut dapat diubah menjadi kekuatan untuk bangkit dan memperbaiki kehidupan.
Tidak hanya berfokus pada pelepasan beban psikologis, kegiatan konseling juga diarahkan untuk membangun pola pikir yang lebih sehat dan produktif. Para tahanan diberikan motivasi untuk menumbuhkan rasa syukur, optimisme, kepercayaan diri, serta keyakinan bahwa masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh kesalahan yang pernah terjadi.
Mereka diajak menyadari bahwa setiap manusia memiliki nilai dan martabat yang tidak hilang hanya karena pernah melakukan kekeliruan. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua selama memiliki kemauan untuk berubah.
Pesan inilah yang menjadi inti dari kegiatan konseling yang dilaksanakan Polres Sikka. Bahwa pembinaan terhadap tahanan tidak semata-mata bertujuan membuat mereka menjalani hukuman, tetapi juga membantu mereka menemukan kembali arah kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi gambaran nyata bahwa Polres Sikka tidak hanya hadir sebagai institusi penegak hukum, tetapi juga sebagai institusi yang peduli terhadap aspek kemanusiaan dan pemulihan mental masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalani masa penahanan.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan yang dihadapi para tahanan, konseling tersebut menjadi secercah harapan bahwa masa depan masih dapat diperjuangkan. Bahwa kesalahan masa lalu tidak harus menjadi hukuman seumur hidup dalam pikiran seseorang.
Melalui kegiatan konseling dan terapi psikologis yang dilaksanakan Bag SDM Polres Sikka, para tahanan tidak hanya mendapatkan pembinaan mental, tetapi juga ruang untuk melepaskan beban emosional yang selama ini mereka pendam. Sejumlah peserta mengaku merasa lebih lega, tenang, dan termotivasi setelah mengikuti sesi konseling tersebut. Mereka mengaku mendapatkan pemahaman baru tentang cara mengelola kecemasan, rasa bersalah, dan ketidakpastian yang selama ini membebani pikiran mereka.
Dengan pendekatan yang humanis dan penuh empati, kegiatan ini diharapkan mampu membangkitkan semangat para tahanan untuk memperbaiki diri, menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik, serta mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang lebih dewasa, bertanggung jawab, dan bermanfaat saat kembali ke tengah masyarakat. Karena sejatinya, perubahan selalu dimulai dari ketenangan hati, kesadaran diri, dan kemauan untuk bangkit menjadi lebih baik.
Sebab pada akhirnya, perubahan terbesar tidak lahir dari hukuman, melainkan dari kesadaran dalam diri seseorang untuk bangkit, memperbaiki kesalahan, dan berani melangkah menuju kehidupan yang lebih bermakna. Dan keberanian itu selalu bermula dari satu langkah sederhana: mengenali diri sendiri, melepaskan emosi negatif, lalu membangun energi positif untuk masa depan yang lebih baik. [Cm24]


