Gempa Boleh Berlalu, Trauma Jangan Dibiarkan: Polisi Pulihkan Mental Guru dan Siswa SD Mutiara Maumere”

Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka hadir memulihkan kondisi psikologis guru dan siswa SD Mutiara Kota Uneng pascagempa melalui terapi dan kegiatan hiburan. Pendampingan ini menjadi langkah nyata untuk menghapus trauma, mengembalikan rasa aman, serta menumbuhkan kembali semangat anak-anak untuk belajar dan beraktivitas.

Gempa Boleh Berlalu, Trauma Jangan Dibiarkan: Polisi Pulihkan Mental Guru dan Siswa SD Mutiara Maumere”
Bukan Sekadar Mengobati Luka, Polisi Pulihkan Mental Guru dan Siswa SD Mutiara Kota Uneng Pasca-Gempa

Maumere, 5 September 2026. Tribratanewssikka.com — Gempa bumi mungkin telah berhenti mengguncang tanah Flores, namun bagi sebagian guru dan anak-anak, rasa takut belum sepenuhnya reda. Getaran yang datang tiba-tiba meninggalkan jejak kecemasan, terutama bagi mereka yang masih harus kembali belajar dan beraktivitas di lingkungan sekolah.

Di tengah situasi itulah, Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka turun langsung memberikan pendampingan psikologi dan trauma healing kepada guru serta siswa-siswi SD Mutiara Kota Uneng Maumere, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Di balik permainan, hiburan dan terapi yang diberikan, terselip misi penting: mengembalikan keberanian anak-anak untuk tersenyum dan membantu para guru kembali tenang menjalankan tugasnya setelah menghadapi guncangan gempa.

 

Kegiatan dipimpin Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan personel Bag SDM Polres Sikka.

 

Sekitar 70 siswa mengikuti kegiatan dengan suasana yang dikemas ringan dan menyenangkan. Anak-anak diajak bermain dan mengikuti berbagai bentuk hiburan bersama, sementara para guru mendapatkan pendampingan melalui Terapi Useft dengan menggunakan media lagu.

 

Pendekatan tersebut sengaja dibuat tidak kaku. Sebab, trauma tidak selalu terlihat dalam bentuk tangisan. Pada anak-anak, rasa takut bisa muncul dalam bentuk diam, gelisah, sulit berkonsentrasi, mudah terkejut hingga enggan kembali beraktivitas seperti biasa.

 

Karena itu, trauma healing menjadi bagian penting dari pemulihan pascabencana. Polisi tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan pengamanan. Polisi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan rasa aman.

 

Pesan itulah yang terasa kuat dalam kegiatan di SD Mutiara Kota Uneng. Senyum dan tawa anak-anak menjadi bagian dari proses untuk mengikis bayang-bayang ketakutan akibat gempa.

 

Bagi para guru, pendampingan psikologis juga menjadi ruang untuk melepaskan tekanan sekaligus membangun kembali ketenangan. Mereka adalah orang-orang yang nantinya kembali berdiri di depan kelas, menjadi tempat anak-anak mencari rasa aman setelah bencana.

 

Dengan demikian, pemulihan pascagempa tidak berhenti pada bantuan fisik. Atap bisa diperbaiki, ruang kelas bisa dibenahi, logistik bisa didatangkan. Tetapi rasa takut di dalam diri manusia membutuhkan pendekatan yang berbeda.

 

Di situlah trauma healing mengambil peran. Melalui kegiatan tersebut, Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan Bag SDM Polres Sikka berupaya memastikan bahwa gempa tidak meninggalkan luka psikologis yang berkepanjangan bagi guru maupun anak-anak.

 

Kegiatan berakhir sekitar pukul 11.00 WITA dalam keadaan aman dan lancar. Namun, yang dibawa pulang dari sekolah itu bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Ada tawa yang kembali terdengar. Ada keberanian yang mulai tumbuh. Dan ada pesan tegas bahwa di tengah situasi pascabencana, masyarakat tidak berjalan sendirian.

 

Sebab setelah bumi berhenti berguncang, pekerjaan kemanusiaan belum selesai. Kini waktunya memulihkan hati, mengembalikan rasa aman, dan memastikan anak-anak kembali berani menatap hari esok. [Cm24]