Hari Bhayangkara Ke-80: SDM Polres Sikka Lepaskan Emosi Negatif ASN Lewat Terapi USEFT
Pelaksanaan terapi USEFT bagi ASN Polres Sikka dalam rangka Hari Bhayangkara Ke-80 menjadi wujud nyata kepedulian Polri terhadap kesehatan mental personelnya. Kegiatan ini berhasil membantu peserta melepaskan emosi negatif, meningkatkan ketenangan batin, membangkitkan semangat, serta memperkuat kesiapan psikologis ASN untuk memberikan pelayanan yang profesional, humanis, dan optimal kepada masyarakat.
Maumere, 1 Juli 2026. Tribratanewssikka.com– Di balik tuntutan tugas yang semakin kompleks, keberhasilan seorang anggota Polri maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak hanya ditentukan oleh kemampuan fisik dan intelektual, tetapi juga oleh ketangguhan mental dan kestabilan emosinya.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) Polres Sikka menghadirkan sebuah pendekatan yang berbeda dalam memperingati Hari Bhayangkara Ke-80 Tahun 2026, yakni melalui pelayanan Ultimate The Source Body, Mind & Soul Emotional Freedom Technique (USEFT) bagi ASN Polres Sikka.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 1 Juli 2026, pukul 11.00 hingga 11.30 WITA, bertempat di Ruang Kabag SDM Polres Sikka, bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian institusi terhadap kesehatan mental personel sebagai modal utama dalam mewujudkan pelayanan kepolisian yang profesional, humanis, dan berintegritas.
Pelaksanaan terapi dipimpin langsung oleh AKP Susanto, S.E. selaku Ketua Tim, didampingi IPDA Rusyudi Mangge, S.Psi., seorang praktisi sekaligus terapis USEFT, bersama AIPDA Herry Ariawan sebagai terapis. Sebanyak tiga orang ASN Polres Sikka mengikuti terapi secara intensif dalam suasana yang tenang, nyaman, dan penuh kekhusyukan.
Sejak awal kegiatan, para peserta diajak memahami bahwa setiap individu kerap menyimpan berbagai tekanan emosional yang lahir dari beban pekerjaan, persoalan keluarga, lingkungan sosial, maupun dinamika kehidupan sehari-hari. Apabila tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi stres, kecemasan, menurunnya motivasi kerja, bahkan berdampak pada kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Melalui metode USEFT, para peserta diperkenalkan pada teknik pengelolaan emosi yang memadukan pendekatan psikologis, relaksasi, afirmasi positif, dan stimulasi titik-titik energi tubuh. Terapi ini dirancang untuk membantu peserta mengenali, melepaskan, sekaligus menggantikan energi negatif dengan energi positif sehingga tercipta keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.
Sebelum memasuki sesi inti, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti tahapan perkenalan dan diberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari profesionalisme aparatur negara.
Tim terapis menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan emosi merupakan fondasi penting dalam menghadapi tekanan pekerjaan, mengambil keputusan secara objektif, serta menjaga hubungan sosial yang harmonis di lingkungan kerja maupun keluarga.
Suasana ruangan berubah menjadi lebih hening ketika sesi terapi dimulai. Para peserta diminta duduk dengan nyaman, memejamkan mata, kemudian memegang titik sore spot sambil melakukan gerakan memutar searah jarum jam.
Dalam kondisi rileks tersebut, mereka mengikuti setiap kalimat afirmasi yang dipandu oleh terapis sebagai bentuk ikhtiar untuk melepaskan berbagai emosi negatif yang selama ini tersimpan di alam bawah sadar.
Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan teknik tapping pada 17 titik energi tubuh, yang dilakukan secara serempak sambil mengucapkan afirmasi penuh keyakinan: "Saya niatkan untuk membuang semua emosi negatif ini."
Kalimat sederhana tersebut menjadi simbol tekad peserta untuk melepaskan rasa cemas, marah, kecewa, takut, sedih, kecewa terhadap diri sendiri, maupun berbagai beban emosional lain yang berpotensi mengganggu produktivitas dan kesehatan mental.
Setelah proses pelepasan emosi negatif selesai, terapi dilanjutkan dengan sesi charging, yakni proses mengisi kembali ruang batin peserta dengan berbagai afirmasi positif. Pada tahap ini, peserta diajak menanamkan nilai-nilai optimisme, ketenangan, rasa syukur, semangat, kepercayaan diri, keikhlasan, serta motivasi untuk terus memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Tidak berhenti sampai di situ, peserta juga memperoleh latihan teknik relaksasi melalui pengaturan napas secara perlahan dan teratur. Tarikan napas yang dalam kemudian dihembuskan secara perlahan diyakini mampu membantu tubuh menurunkan ketegangan, memperlambat denyut stres, sekaligus memberikan efek relaksasi yang lebih optimal.
Sebagai penyempurna terapi, seluruh peserta mengikuti latihan Looking and Feeling, yaitu mengetuk titik-titik tertentu pada sela jari sambil melakukan koordinasi gerakan mata, bergumam lagu Happy Birthday, serta melakukan teknik Eye Rolling.
Rangkaian latihan tersebut bertujuan membantu sinkronisasi antara fungsi otak, pikiran, dan respons emosional sehingga peserta mampu mencapai kondisi psikologis yang lebih stabil dan seimbang.
Di penghujung kegiatan, salah seorang peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan testimoni mengenai perubahan yang dirasakan. Dengan penuh rasa syukur, peserta mengungkapkan bahwa setelah menjalani terapi, dirinya merasakan perubahan yang cukup signifikan.
Perasaan yang sebelumnya dipenuhi beban perlahan berubah menjadi lebih ringan. Pikiran menjadi lebih jernih, hati terasa lega, tubuh lebih rileks, serta muncul semangat baru untuk kembali menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai aparatur negara.
Secara umum, hasil yang dicapai dari pelaksanaan terapi menunjukkan dampak yang sangat positif. Seluruh peserta mengaku merasakan hati yang lebih lega, pikiran yang tenang, tubuh menjadi rileks, suasana batin yang bahagia, semangat kerja yang meningkat, serta hilangnya beban emosional yang sebelumnya dirasakan. Kondisi tersebut diharapkan menjadi modal penting dalam meningkatkan produktivitas, disiplin, loyalitas, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa transformasi sumber daya manusia Polri tidak hanya diarahkan pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan mental sebagai fondasi utama dalam membangun personel yang tangguh, adaptif, dan berkarakter.
Di tengah dinamika tugas kepolisian yang semakin kompleks, kemampuan mengelola emosi merupakan investasi jangka panjang bagi terwujudnya organisasi yang sehat dan profesional.
Melalui momentum Hari Bhayangkara Ke-80, Polres Sikka menunjukkan bahwa pelayanan kepolisian tidak hanya ditujukan kepada masyarakat, tetapi juga dimulai dari perhatian terhadap kesejahteraan psikologis personelnya sendiri. Sebab, personel yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pelayanan yang tulus, humanis, berkeadilan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar. Para peserta menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada Bagian SDM Polres Sikka atas terselenggaranya layanan terapi USEFT yang dinilai memberikan manfaat nyata dalam menjaga kesehatan mental, memperkuat keseimbangan emosi, serta membangun semangat baru untuk terus mengabdi dengan hati yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan jiwa yang lebih kuat demi mewujudkan Polri Presisi yang semakin dicintai masyarakat. [ Cm24]


