Mengembalikan Senyum di Tengah Posko Pengungsian, Polri Gelar Trauma Healing bagi Warga Pengungsian Sikka

Kegiatan trauma healing oleh Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT, Polda Bali, dan Bag SDM Polres Sikka menjadi bentuk nyata kepedulian Polri terhadap pemulihan psikologis warga terdampak gempa di Desa Iligai. Melalui pendampingan psikologis, permainan, bernyanyi, hiburan, serta bantuan logistik, sebanyak 346 warga mendapatkan dukungan untuk memulihkan rasa aman, ketenangan, dan semangat setelah bencana. Kegiatan berlangsung aman dan lancar, sekaligus menegaskan bahwa penanganan bencana tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga pemulihan mental dan kemanusiaan para penyintas.

Mengembalikan Senyum di Tengah Posko Pengungsian, Polri Gelar Trauma Healing bagi Warga Pengungsian Sikka
346 Warga Terdampak Gempa di Sikka Ikuti Trauma Healing, Polri Pulihkan Semangat dan Harapan Penyintas

Maumere, 22 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah situasi pascabencana gempa bumi yang mengguncang dan meninggalkan rasa cemas bagi masyarakat, upaya pemulihan tidak hanya dilakukan melalui bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga dengan menyentuh sisi psikologis para penyintas. 

Langkah tersebut dilakukan jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT, Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali bersama Bag SDM Polres Sikka dengan menggelar kegiatan trauma healing bagi warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, tersebut dipusatkan di Posko Tanggap Bencana Dusun Hubing dan Posko Tanggap Bencana Dusun Woloukak, Desa Iligai, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka. 

Sejak pukul 10.00 WITA, suasana posko yang sebelumnya lekat dengan kepanikan dan kekhawatiran perlahan berubah menjadi ruang interaksi yang lebih hangat, penuh senyum, permainan, nyanyian, serta berbagai aktivitas yang dirancang untuk membantu masyarakat, khususnya anak-anak, melewati tekanan psikologis akibat bencana.

Kegiatan trauma healing tersebut dipimpin Kasubagdalpers Bag SDM Polres Sikka Ipda A. Rusyudi Mangge, S.Psi, didampingi personel Biro SDM Polda NTT dan Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali.

 

Tidak kurang dari 346 warga mendapatkan pelayanan trauma healing dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas kelompok orang dewasa maupun anak-anak yang berada di dua titik pengungsian.

 

Di Posko Bencana Dusun Hubing, tercatat sebanyak 189 orang mengikuti kegiatan, dengan rincian 139 orang dewasa dan 50 anak-anak. Sementara di Posko Bencana Dusun Woloukak, kegiatan diikuti 147 orang, terdiri dari 87 orang dewasa dan 60 anak-anak.

 

Jumlah tersebut bukan sekadar angka. Di balik ratusan peserta yang hadir, terdapat keluarga-keluarga yang tengah berusaha memulihkan rasa aman setelah mengalami langsung situasi bencana. 

 

Karena itu, pendekatan psikologis menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat agar dampak bencana tidak berhenti pada kerusakan fisik, tetapi juga tidak meninggalkan luka psikologis berkepanjangan.

 

Dalam pelaksanaannya, tim tidak datang sekadar memberikan hiburan. Trauma healing dirancang sebagai ruang pemulihan psikologis dengan pendekatan yang lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

 

Tim memberikan Terapi Useft, kemudian dilanjutkan dengan permainan atau games, bernyanyi bersama serta berbagai kegiatan hiburan lainnya. Pendekatan tersebut terutama diarahkan untuk menciptakan suasana positif sehingga warga dapat sejenak melepaskan ketegangan, kecemasan, maupun tekanan emosional yang muncul setelah menghadapi bencana.

 

Bagi anak-anak, permainan dan nyanyian menjadi jembatan untuk kembali membangun rasa nyaman. Tawa dan keceriaan yang muncul di tengah posko pengungsian menjadi gambaran bahwa pemulihan pascabencana tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, pemulihan justru dimulai dari ruang sederhana, sebuah permainan, sebuah lagu, dan kehadiran orang-orang yang bersedia mendengarkan serta menemani.

 

Sementara bagi orang dewasa, kehadiran tim psikologi memberikan ruang untuk mengelola tekanan dan kecemasan yang muncul selama berada dalam situasi pengungsian.

 

Pendekatan semacam ini menjadi penting karena bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan terhadap lingkungan dan fasilitas, tetapi juga dapat mengguncang rasa aman seseorang. Ketika rumah, lingkungan, dan rutinitas kehidupan berubah dalam waktu singkat, dukungan psikologis menjadi salah satu kebutuhan yang tidak boleh diabaikan.

 

Kegiatan tersebut juga memperlihatkan adanya sinergi lintas satuan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak bencana.

 

Hadir dalam kegiatan tersebut Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, bersama anggota Biro SDM Polda NTT. Turut hadir Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., serta empat personel Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali yang dipimpin Iptu Nyoman Trijaya Putra, S.Psi, bersama personel Bag SDM Polres Sikka.

 

Kehadiran personel dari Polda NTT dan Polda Bali menunjukkan bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kolaborasi dan kepedulian bersama. Kepolisian tidak hanya hadir dalam fungsi pengamanan dan penanganan situasi darurat, tetapi juga mengambil bagian dalam proses pemulihan masyarakat secara lebih menyeluruh.

 

Di tengah keterbatasan yang dihadapi warga di lokasi pengungsian, tim juga tidak datang dengan tangan kosong. Pada dua titik kegiatan, tim trauma healing turut menyalurkan bantuan berupa air kemasan ukuran 1,5 liter sebanyak 8 dos, snack dan makanan ringan sebanyak 18 dos, serta Pop Mie sebanyak 7 dos.

 

Bantuan tersebut menjadi pelengkap dari kegiatan psikologis yang diberikan. Kehadiran petugas di tengah warga sekaligus menjadi pesan bahwa para penyintas tidak menghadapi masa sulit tersebut sendirian. Bencana mungkin datang dalam hitungan detik, tetapi proses untuk mengembalikan rasa aman membutuhkan waktu. Karena itu, trauma healing menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian penanganan pascabencana.

 

Di Posko Hubing dan Woloukak, pendekatan yang dilakukan tim diarahkan untuk menciptakan suasana yang lebih cair dan manusiawi. Anak-anak diajak bermain dan bernyanyi, sementara warga dewasa diberikan ruang untuk mengikuti aktivitas pemulihan secara bersama-sama.

 

Kehadiran petugas psikologi di tengah masyarakat juga menjadi bentuk nyata bahwa penanganan bencana tidak berhenti setelah kondisi dinyatakan aman. Justru setelah situasi darurat berlalu, perhatian terhadap kondisi mental dan emosional para penyintas menjadi semakin penting.

 

Pemulihan sejatinya bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak, memperbaiki fasilitas yang terdampak, atau memastikan kebutuhan logistik tersedia. Pemulihan juga berarti mengembalikan keberanian, rasa percaya diri, ketenangan, dan senyum masyarakat yang sempat hilang karena bencana.

 

Melalui kegiatan trauma healing tersebut, ratusan warga di Desa Iligai mendapatkan kesempatan untuk kembali berinteraksi dalam suasana positif. Bagi anak-anak, tawa yang kembali terdengar di tengah posko menjadi sinyal kecil namun berarti bahwa mereka perlahan dapat kembali merasakan dunia yang lebih aman.

 

Sementara bagi para orang dewasa, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam menghadapi masa sulit, dukungan sosial dan kehadiran orang lain memiliki arti yang sangat besar. Kegiatan trauma healing berlangsung hingga pukul 15.00 WITA dan berakhir dalam keadaan aman, tertib, dan lancar.

 

Dari Dusun Hubing hingga Dusun Woloukak, pesan yang dibawa sederhana namun kuat: ketika bencana mengguncang kehidupan, pemulihan harus menyentuh seluruh sisi manusia—bukan hanya tubuh dan tempat tinggal, tetapi juga hati dan pikiran. Dan di tengah puing-puing kecemasan itu, kehadiran polisi melalui sentuhan psikologis menjadi bagian dari upaya untuk menyalakan kembali harapan masyarakat Sikka. [Cm24]