Bantuan Bhayangkari Menyapa Anak Korban Gempa Flores, 114 Siswa di Sikka Terima Perlengkapan Sekolah
Bantuan sosial Bhayangkari kembali menunjukkan kepedulian nyata kepada anak-anak terdampak gempa Flores. Sebanyak 114 siswa di wilayah Kewapante dan Waigete menerima perlengkapan sekolah, sebagai dukungan agar keterbatasan akibat bencana tidak memutus semangat mereka untuk terus belajar dan meraih masa depan.
Maumere, 16 September 2026. Tribratanewssikka.com— Gempa bumi boleh mengguncang tanah Flores, tetapi tidak boleh mengguncang masa depan anak-anaknya. Di tengah situasi pascabencana yang masih menyisakan luka dan keterbatasan, kepedulian justru bergerak mendatangi mereka yang membutuhkan. Pada Sabtu, 5 September 2026, bantuan sosial dari Ibu Ketua Umum Bhayangkari disalurkan kepada anak-anak terdampak gempa bumi di wilayah hukum Polres Sikka. Bukan sekadar bantuan yang datang. Yang dibawa adalah pesan bahwa anak-anak korban bencana tidak berjalan sendirian.

Sebanyak 114 siswa di wilayah hukum Polsek Kewapante dan Polsek Waigete mendapat bantuan perlengkapan sekolah. Bantuan tersebut disalurkan secara langsung melalui jajaran Bhayangkari Cabang Sikka dan Bhayangkari Ranting, bersama personel kepolisian di lapangan.

Dari Kewapante, 98 Anak Mendapat Perhatian. Di Mako Polsek Kewapante, Jalan Wairwerut 1 Kewapante, bantuan disalurkan mulai pukul 10.00 Wita. Sebanyak 98 siswa SD dan SMP yang terdampak gempa bumi sekaligus berasal dari keluarga kurang mampu menerima bantuan.

Rinciannya, 68 siswa tingkat SD mendapatkan bantuan. Sebanyak 39 anak menerima paket lengkap berupa sepatu, tas sekolah dan seragam, sementara 29 anak lainnya menerima sepatu sekolah.
Sementara itu, 30 siswa SMP, terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan, menerima seragam sekolah. Bantuan diserahkan secara langsung kepada para siswa. Momen tersebut bukan hanya tentang penyerahan paket, tetapi juga tentang menghadirkan kembali semangat belajar bagi anak-anak yang kehidupannya ikut terdampak bencana.
Kegiatan dipimpin oleh Ketua Bhayangkari Cabang Sikka yang dalam kegiatan tersebut diwakili Ibu Widy Susanto, bersama Bhayangkari Cabang Sikka dan Bhayangkari Ranting Kewapante yang dipimpin Ibu Rika Chairil.
Kapolsek Kewapante Iptu Chairil Syafar bersama anggota turut hadir mendampingi kegiatan tersebut. Orang tua dan pendamping siswa juga hadir menyaksikan penyaluran bantuan.
Di tengah kondisi pascagempa, sepatu, tas, dan seragam sekolah mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak penerimanya, benda-benda itu dapat menjadi modal kecil untuk kembali menatap sekolah dan masa depan.
Menyusuri Nebe, Bantuan Kembali Bergerak. Gerakan kepedulian tidak berhenti di Kewapante. Pada pukul 11.00 Wita, bantuan kembali disalurkan di Polsubsektor Nebe, Polsek Waigete. Sebanyak 16 paket perlengkapan sekolah diserahkan kepada siswa terdampak gempa bumi Flores.
Penyaluran dipimpin Ibu Paula Donis, didampingi Kapolsek Waigete Iptu Muhammadong, Ketua Bhayangkari Ranting Waigete serta Bhayangkari PJU Polres Sikka. Para penerima mendapatkan paket yang berisi sepatu, tas sekolah, perlengkapan menulis dan baju seragam sekolah.
Anak-anak penerima berasal dari wilayah Desa Nebe dan merupakan bagian dari kelompok siswa yang terdampak bencana. Personel Polsubsektor Nebe, Kanit Propam Polsek Waigete, Bhabinkamtibmas Bripka Chrisye Renggi serta jajaran Bhayangkari turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Bantuan itu menjadi bentuk nyata perhatian Bhayangkari kepada anak-anak yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana. Bukan Sekadar Paket, Tetapi Menjaga Harapan. Bencana sering kali meninggalkan persoalan yang lebih panjang daripada sekadar kerusakan bangunan.
Di balik rumah yang rusak dan kehidupan yang terganggu, ada anak-anak yang tetap harus sekolah. Mereka tetap harus membuka buku, mengenakan seragam, memakai sepatu dan duduk di ruang kelas. Karena itu, bantuan perlengkapan sekolah menjadi sangat berarti.
Apa yang dilakukan Bhayangkari melalui jajaran Polres Sikka menunjukkan bahwa respons terhadap bencana tidak hanya berbicara tentang logistik kebutuhan dasar. Masa depan anak-anak juga harus diselamatkan.
Sebanyak 114 siswa yang menerima bantuan hari itu menjadi bagian dari pesan yang lebih besar: gempa boleh merobohkan bangunan, tetapi semangat untuk belajar tidak boleh ikut runtuh.
Dari Kewapante hingga Nebe, bantuan bergerak menyentuh langsung anak-anak korban gempa. Dan di balik setiap sepatu, tas, seragam serta perlengkapan sekolah yang diserahkan, ada harapan agar mereka kembali melangkah—perlahan, tetapi pasti—menuju sekolah dan masa depan.
Kegiatan penyaluran bantuan di Kewapante berakhir pukul 11.30 Wita dalam keadaan aman dan lancar. Sementara kegiatan di Nebe berakhir pukul 13.30 Wita dengan situasi kondusif dan termonitor oleh jajaran Polsek Waigete. Bantuan telah diserahkan. Namun yang sesungguhnya sedang dibangun adalah harapan. [Cm24]


