Kolaborasi Humanis Sat Binmas–SDM Polres Sikka, Bangkitkan Semangat Pelajar Pascagempa Lewat Trauma Healing

Trauma healing Sat Binmas Polres Sikka di SDI Wolomarang menjadi wujud nyata kehadiran Polri dalam membantu pemulihan psikologis pelajar pascagempa. Dengan pendekatan empati, permainan, edukasi kebencanaan dan pendampingan humanis, Polri berupaya mengembalikan rasa aman sekaligus menyalakan kembali semangat anak-anak untuk belajar, bermain dan menatap masa depan tanpa dibelenggu rasa takut

Kolaborasi Humanis Sat Binmas–SDM Polres Sikka, Bangkitkan Semangat Pelajar Pascagempa Lewat Trauma Healing
Kolaborasi Sat Binmas dan SDM Polres Sikka Pulihkan Trauma, Kembalikan Senyum Pelajar Pascagempa

Maumere, 11 September 2026. Tribratanewssikka.com — Di balik guncangan gempa bumi, ada ketakutan yang tidak selalu terlihat. Ada kecemasan yang tersimpan dalam benak anak-anak, ada rasa takut yang dapat membekas, bahkan ketika situasi telah kembali tenang.

Menyadari kondisi tersebut, Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polres Sikka mengambil langkah humanis dengan hadir langsung di tengah para pelajar melalui kegiatan trauma healing di SDI Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 10.00 WITA itu bukan sekadar aktivitas bersama anak-anak. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Polri membantu memulihkan rasa aman, keberanian dan semangat para pelajar setelah menghadapi situasi bencana alam gempa bumi.

Dengan pendekatan yang hangat dan penuh empati, personel Sat Binmas berusaha membangun kembali ruang psikologis yang nyaman bagi anak-anak. Mereka diajak berbicara, bercerita dan mengungkapkan perasaan tanpa rasa takut untuk dihakimi.

 

Setiap cerita didengarkan. Setiap rasa takut dihargai. Setiap kesedihan diberi ruang untuk disampaikan. Pendekatan sederhana tersebut menjadi pintu masuk untuk membantu anak-anak memahami bahwa rasa takut setelah menghadapi bencana merupakan sesuatu yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana rasa tersebut perlahan dikelola sehingga tidak berubah menjadi trauma berkepanjangan.

 

Suasana kemudian dicairkan melalui terapi bermain, bernyanyi bersama dan berbagai permainan sederhana. Tawa dan keceriaan anak-anak perlahan kembali memenuhi ruang kegiatan.

 

Di tengah permainan itu, pesan yang dibangun sebenarnya sangat kuat: bencana boleh mengguncang bumi, tetapi tidak boleh mematahkan semangat untuk bangkit.

 

Tidak berhenti pada pemulihan emosional, para pelajar juga diberikan edukasi ringan mengenai kebencanaan. Materi disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami agar anak-anak memiliki pengetahuan dasar mengenai langkah yang dapat dilakukan ketika kembali menghadapi situasi bencana.

 

Kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kembali semangat para pelajar dalam menjalankan aktivitas belajar mengajar, mengurangi rasa takut dan cemas akibat gempa bumi, serta mengembalikan rasa aman dan keceriaan yang sempat terganggu.

 

Lebih dari itu, trauma healing menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan mental anak. Anak-anak didorong untuk memiliki keberanian menghadapi situasi sulit dan mampu bangkit ketika berhadapan dengan tekanan di kemudian hari.

 

Bagi Polri, kehadiran di tengah masyarakat dalam situasi pascabencana tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan tugas menjaga keamanan dan ketertiban. Kehadiran itu juga merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial dan psikologis masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.

 

Melalui pendekatan tersebut, Polres Sikka berupaya memperkuat kepercayaan masyarakat bahwa tugas kepolisian memiliki dimensi kemanusiaan yang luas.

 

Kanit Bintibmas Sat Binmas Polres Sikka Aiptu Gabrielis Ivony Making, Kaur Mintu Sat Binmas Aipda Ridwan, dan Bamin Sat Binmas Bripka Vera Hehanussa terlibat dalam kegiatan tersebut. Turut hadir pula anggota SDM Polres Sikka.

 

Kehadiran personel Polri bersama para pelajar sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergitas antara kepolisian, dunia pendidikan dan masyarakat dalam menghadapi dampak bencana.

 

Sebab, pemulihan pascabencana bukan hanya persoalan membangun kembali sarana yang rusak. Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dipulihkan, yakni rasa aman dan ketenangan manusia yang mengalaminya.

 

Di sinilah peran Polri menjadi semakin berarti. Dengan pendekatan yang humanis, polisi tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan penguatan untuk bangkit.

 

Kegiatan trauma healing tersebut akhirnya menjadi ruang sederhana untuk menanamkan kembali optimisme kepada anak-anak. Mereka diajak bermain, bernyanyi, belajar dan tersenyum kembali.

 

Dari sebuah ruang sekolah, pesan kemanusiaan itu mengemuka dengan jelas: ketika bencana meninggalkan rasa takut, kepedulian harus hadir membawa keberanian. Ketika anak-anak kehilangan keceriaan, tangan-tangan kemanusiaan harus hadir mengembalikan senyum mereka.

 

Melalui kegiatan tersebut, Sat Binmas Polres Sikka tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan masyarakat, tetapi juga menunjukkan bahwa Polri hadir bersama masyarakat—mendengar, mendampingi dan membantu mereka bangkit dari rasa takut. [Cm24]