Perang Melawan Bullying dan Candu Digital, Polres Sikka Sasar SD Inpres Kota Uneng
Polres Sikka melakukan aksi nyata pembentukan karakter remaja dengan memimpin apel bendera di SD Inpres Kota Uneng. Langkah persuasif-edukatif ini berfokus pada tiga poin krusial: memerangi perundungan (bullying), mengedukasi siswa agar bijak bersosial media, serta mengajak para guru bersinergi menciptakan lingkungan sekolah yang aman demi mencetak generasi emas yang disiplin dan berakhlak mulia.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 20 July 2026– Sektor pendidikan hari ini tidak hanya menghadapi tantangan akademis, melainkan juga hantaman krisis karakter di era digital yang kian agresif. Menyadari realitas tersebut, Kepolisian Resor (Polres Sikka) mengambil langkah taktis dengan turun langsung ke akar rumput, menyasar generasi paling muda di bangku sekolah dasar.

Pada Senin pagi (20/7/2026), suasana riuh khas anak-anak di lapangan SD Inpres Kota Uneng, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, mendadak khidmat. Di bawah kibaran bendera Merah Putih tepat pukul 07.00 WITA, Kanit Bhabinkamtibmas Polres Sikka, AIPTU Polikarpus Arifin, berdiri tegak di podium bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup).
Kehadiran korps berbaju cokelat ini bukan untuk penegakan hukum, melainkan mengemban misi kemanusiaan yang jauh lebih krusial: menyelamatkan moral generasi penerus bangsa.
Dalam amanatnya yang lugas dan mengalir tanpa retorika kosong, AIPTU Polikarpus Arifin menyoroti dua isu sensitif yang kerap mengintai anak-anak usia sekolah, yakni bahaya laten perundungan (bullying) dan jebakan dunia maya. Beliau menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang aman, bukan medan intimidasi yang merusak mental siswa.
"Jangan pernah ada ruang untuk perundungan di sekolah ini, baik fisik maupun verbal. Anak-anakku sekalian, jadilah teman yang saling merangkul, bukan saling memukul," tegas Polikarpus di hadapan ratusan pasang mata pelajar yang menyimak dengan saksama.
Tidak kalah tajam, Polikarpus juga menyoroti fenomena telepon genggam (smartphone) dan media sosial yang kini telah merambah anak-anak usia dini. Di era di mana algoritma digital dengan mudah mendikte pikiran anak, Polres Sikka mengimbau para siswa untuk bijak dan tidak menjadi budak teknologi. Penggunaan gawai secara serampangan dinilai mampu mengikis fokus, menurunkan minat baca, hingga memicu kedisiplinan yang rapuh.
"Gunakan teknologi untuk memperluas ilmu, bukan untuk mencari hal-hal yang belum saatnya kalian konsumsi. Giatlah belajar, karena masa depan Kabupaten Sikka dan bangsa ini kelak berada di pundak kalian," tambahnya, memicu motivasi di sanubari para siswa.
Membangun karakter anak tidak bisa dilakukan secara sepihak. Oleh karena itu, pesan Polres Sikka juga menyasar barisan para pendidik. Polikarpus mengingatkan bahwa guru adalah benteng pertahanan moral di lingkungan sekolah. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, para guru dituntut untuk melampaui tugas sekadar 'mengajar', tetapi juga 'mendidik' dengan hati.
Polres Sikka mengajak para guru untuk terus memupuk kesabaran, ketulusan, dan dedikasi tinggi demi melahirkan atmosfer belajar yang nyaman, aman, sekaligus kondusif. Sinergi antara ketegasan aturan sekolah dan kelembutan kasih sayang guru diyakini menjadi formula terbaik dalam meredam potensi penyimpangan perilaku siswa.
Dalam agenda pembinaan ini, AIPTU Polikarpus Arifin tidak sendirian. Beliau didampingi oleh Kanit Bintibmas AIPTU Gabrielis I. Making serta Bamin Bripda Emanuel Rikardo, memperlihatkan keseriusan Satuan Binmas Polres Sikka dalam mengawal jalannya edukasi.
Secara terpisah, Kapolres Sikka melalui Satuan Binmas menegaskan bahwa kehadiran Polri di sekolah-sekolah bukan sekadar formalitas seremonial Senin pagi. Ini adalah komitmen jangka panjang kepolisian untuk memperkuat sinergi dengan dunia pendidikan. Melalui pendekatan yang humanis, Polri ingin meruntuhkan sekat pembatas dengan anak-anak sekaligus menanamkan benih kepatuhan hukum, disiplin, dan akhlak mulia sejak dini.
Tepat pukul 07.45 WITA, apel bendera dibubarkan dengan tertib dan lancar. Kehadiran para personel Polres Sikka pagi itu meninggalkan impresi yang mendalam. Respons positif dan senyum sumringah dari para guru serta pelajar menjadi sinyal kuat bahwa pendekatan persuasif-edukatif seperti ini adalah instrumen yang sangat dirindukan masyarakat demi mencetak generasi emas yang berintegritas. [Kd29]


