"Sepekan Menggema dari Ladang: Polres Sikka Kawal Panen Jagung, Swasembada Pangan Tak Lagi Sekadar Wacana”
Dalam sepekan terakhir, Polres Sikka menunjukkan peran strategis dalam mengawal program ketahanan pangan melalui pendampingan panen, peninjauan lahan, dan koordinasi lintas sektor. Meski menghadapi berbagai kendala, sinergi yang terbangun mampu mendorong optimisme kuat menuju swasembada pangan nasional.
Tribratanewssikkamcom - Maumere, 27 April 2026. Dalam sepekan ini, denyut ketahanan pangan di Kabupaten Sikka terasa semakin nyata. Dari ladang-ladang jagung yang membentang di desa hingga kelurahan, jajaran Polres Sikka bergerak senyap namun pasti, mengawal, mendampingi, sekaligus memastikan program swasembada pangan nasional benar-benar hidup di akar rumput.

Rangkaian kegiatan panen jagung, peninjauan lahan, hingga koordinasi lintas sektor berlangsung intens di berbagai wilayah. Bhabinkamtibmas tidak lagi sekadar hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi menjelma menjadi penggerak kolaborasi antara petani, pemerintah, dan pihak swasta.

Di Perkebunan SVD Patiahu, Desa Runut, Kecamatan Waigete, geliat itu tampak jelas. Lahan seluas 14 hektare menghasilkan optimisme besar dengan estimasi panen mencapai ±60 ton jagung varietas unggul NK Sumo Sakti 7328 S.
Kolaborasi antara Seminari Tinggi Ledalero, PT. Silvano Maynar Jaya, dan pengelola lokal menjadi bukti bahwa sinergi lintas sektor mampu mengubah lahan tidur menjadi sumber kekuatan pangan.
Namun, di sisi lain, realitas berbeda terlihat di Desa Nelle Urung. Dari lahan 1 hektare yang dikelola secara mandiri, hasil panen hanya mencapai sekitar 500 kilogram. Curah hujan tinggi, minimnya perawatan, serta pola tanam tumpang sari menjadi faktor yang menahan produktivitas.
Potret ini menegaskan bahwa swasembada pangan bukan hanya soal luas lahan, tetapi juga kualitas pengelolaan dan ketahanan menghadapi faktor alam.
Sementara itu, capaian menggembirakan hadir dari Desa Tanaduen. Jagung hibrida jenis Bisi 18 yang ditanam di lahan 0,7 hektare mampu menghasilkan sekitar 5,2 ton jagung tongkol basah.
Meski masih dibayangi hama tikus dan kendala pengeringan akibat cuaca yang tidak menentu, hasil ini menjadi sinyal positif bahwa produktivitas dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang lebih baik.
Tak berhenti pada panen, Polres Sikka juga aktif melakukan peninjauan lokasi sebagai bagian dari persiapan Panen Raya Jagung Kuartal II Tahun 2026. Di Kelurahan Wolomarang dan Desa Waihawa, aparat bersama penyuluh pertanian memastikan kesiapan tanaman yang diproyeksikan menghasilkan antara 2 hingga 5 ton.
Langkah ini menunjukkan pendekatan yang tidak reaktif, tetapi terencana dan berkelanjutan. Di sisi lain, penguatan sistem juga dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di Kecamatan Doreng dan Paga.
Sinkronisasi data, monitoring bersama, serta komitmen kolaborasi menjadi fondasi penting agar program ketahanan pangan tidak berjalan parsial, melainkan terpadu dan berkesinambungan.
Seluruh rangkaian ini memperlihatkan transformasi nyata peran Polri di tengah masyarakat. Bhabinkamtibmas kini menjadi simpul strategis yang menghubungkan kepentingan petani, pemerintah, dan stakeholder lainnya dalam satu tujuan besar: kemandirian pangan.
Meski tantangan masih membentang—mulai dari cuaca ekstrem, serangan hama, hingga keterbatasan perawatan—semangat kolaborasi yang terus tumbuh menjadi modal utama. Dari ladang-ladang sederhana di pelosok Sikka, pesan kuat itu bergema: swasembada pangan bukan lagi sekadar rencana di atas kertas, tetapi sedang dikerjakan, dijaga, dan diperjuangkan setiap hari.[Cm24]


