Revolusi Pangan Dimulai dari Desa: Polres Sikka Jadi Motor Penggerak Ketahanan Pangan Rakyat

Apa yang terjadi di Kabupaten Sikka adalah cermin bahwa ketahanan pangan hanya bisa terwujud jika semua pihak turun tangan. Dan di sini, Polri telah membuktikan satu hal penting: menjaga negara tidak hanya soal keamanan, tetapi juga memastikan rakyatnya tetap bisa menanam, memanen, dan bertahan.

Revolusi Pangan Dimulai dari Desa: Polres Sikka Jadi Motor Penggerak Ketahanan Pangan Rakyat
Dari Lahan ke Ketahanan: Polres Sikka Tak Sekadar Mengawal, Tapi Menggerakkan Revolusi Pangan Rakyat

Tribratanewssikka.com - Maumere, 27 April 2026. Di tengah tantangan global yang kian menekan sektor pangan, langkah nyata justru tumbuh dari akar rumput. Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Polri melalui jajaran Polres hingga Bhabinkamtibmas desa membuktikan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar jargon—melainkan gerakan hidup yang digarap serius, terukur, dan menyentuh langsung denyut nadi masyarakat.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung sepanjang 21 hingga 26 April 2026 menjadi potret nyata bagaimana aparat kepolisian bertransformasi: dari penjaga keamanan menjadi penggerak produktivitas rakyat.

Momentum itu dimulai pada Selasa, 21 April 2026, di Nangahure Bukit, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat. Di lahan seluas satu hektare milik Kelompok Tani Kembang Wangi, panen kacang tanah jenis dua kelinci digelar dengan hasil yang tidak bisa dipandang sebelah mata—sekitar 750 kilogram. 

 

Angka ini bukan sekadar hasil panen, melainkan simbol keberhasilan kolaborasi antara petani, pemerintah, dan aparat keamanan. Bhabinkamtibmas AIPDA Taofik yang hadir langsung di lokasi tak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian dari proses panjang pendampingan yang memastikan petani tidak berjalan sendiri.

 

Langkah tersebut berlanjut pada Kamis, 23 April 2026, di Desa Masebewa, Kecamatan Paga. Di sana, Bhabinkamtibmas AIPDA Kadek Maradona melakukan monitoring intensif terhadap lahan pekarangan milik Kelompok Wanita Tani. 

 

Di atas lahan sederhana berukuran 10x20 meter, tumbuh sekitar 2.000 tanaman buncis—ditanam dengan semangat swadaya dan harapan besar akan kemandirian pangan keluarga.

 

Di titik ini, Polri tidak hanya hadir sebagai pengawas, tetapi sebagai katalisator—memberi motivasi, membangun kepercayaan, dan mendorong masyarakat agar berani memaksimalkan potensi kecil menjadi kekuatan ekonomi nyata.

 

Gelombang gerakan pangan ini semakin menguat sehari kemudian, Jumat 24 April 2026, di Desa Nenbura, Kecamatan Doreng. Dalam skala yang jauh lebih besar, penanaman hortikultura dilakukan di lahan satu hektare dengan total 15.000 anakan—terdiri dari 10.000 cabai dan 5.000 tomat.

 

Didukung anggaran dana desa sebesar Rp208 juta, program ini menjadi bukti bahwa kebijakan pemerintah dapat tepat sasaran ketika dikawal secara serius di lapangan. Bhabinkamtibmas bersama pemerintah desa, BUMDes, dan kelompok tani Sinar Napun Wulat bergerak serempak, memastikan bahwa setiap bibit yang ditanam adalah investasi masa depan.

 

Tidak berhenti di situ, Sabtu 25 April 2026, Polsek Nelle turut menguatkan langkah melalui Program Pangan Lestari (P2L). Lahan pekarangan dimanfaatkan secara maksimal dengan penanaman kangkung, buncis, dan sawi putih—komoditas sederhana namun vital bagi kebutuhan gizi masyarakat.

 

Di hari yang sama, di Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, aktivitas monitoring dan panen cabai menjadi bukti bahwa siklus pertanian terus bergerak. Tanaman pepaya California yang mulai berbuah menambah optimisme bahwa sektor hortikultura mampu menjadi tulang punggung ekonomi desa.

 

Puncak rangkaian kegiatan terjadi pada Minggu, 26 April 2026, saat Bhabinkamtibmas Polsek Kewapante bersama Kelompok Tani Megu Balik melakukan penanaman terung ungu sebanyak 200 anakan. 

 

Tidak hanya itu, tanaman pepaya dan singkong yang telah lebih dulu ditanam mulai menunjukkan hasil, meski tantangan seperti cuaca tak menentu dan keterbatasan pestisida masih menjadi kendala nyata.

 

Namun di balik semua keterbatasan itu, ada satu hal yang tidak goyah: semangat masyarakat. Respons warga menjadi indikator paling jujur atas keberhasilan program ini. 

 

Kehadiran Polri di tengah aktivitas pertanian bukan hanya memberikan rasa aman, tetapi juga memantik motivasi. Masyarakat melihat langsung bagaimana aparat negara tidak hanya memberi perintah, tetapi ikut bekerja, mendampingi, dan memberi contoh.

 

Ketahanan pangan di Sikka kini tidak lagi berdiri di atas wacana. Ia tumbuh dari tanah, dirawat dengan kerja keras, dan dijaga dengan komitmen bersama.

 

Lebih dari sekadar program nasional, ini adalah gerakan sosial yang hidup—di mana Polri mengambil peran strategis sebagai penggerak, penjaga, sekaligus mitra masyarakat dalam membangun kemandirian pangan. [Cm24]