“Tawa dan Yel-Yel Warnai Edukasi Lalu Lintas, Polres Sikka Tanamkan Pesan Keselamatan bagi Anak-Anak Pulau Palue”
Kegiatan sosialisasi lalu lintas di SDN UWA I menjadi langkah preventif Polri dalam menanamkan kesadaran keselamatan sejak dini, khususnya bagi anak-anak terdampak gempa di Palue. Edukasi sederhana namun tegas ini diharapkan membentuk budaya tertib berlalu lintas sekaligus menekan risiko kecelakaan dan memperkuat perlindungan terhadap anak.
Maumere, 7 September 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah situasi masyarakat yang masih berhadapan dengan dampak gempa bumi, perhatian terhadap keselamatan anak-anak tidak boleh ikut terguncang. Keselamatan justru harus ditanamkan sejak dini, termasuk ketika mereka beraktivitas di jalan.

Pesan itulah yang dibawa Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana bersama Anggota Satuan Lalu Lintas Polres Sikka Aipda Paulus Nong Sendi saat menyambangi SDN UWA I, Dusun Uwa, Desa Maluriwu, Kecamatan Palue, Senin (26/8/2026) pukul 09.00 Wita.
Di hadapan para siswa, polisi tidak sekadar berbicara tentang rambu dan aturan. Edukasi dikemas dengan bahasa sederhana, ringan, dan mudah dicerna anak-anak. Sebab, keselamatan di jalan bukan sekadar urusan orang dewasa, melainkan pengetahuan dasar yang harus melekat sejak langkah pertama seorang anak mengenal jalan. “Keselamatan adalah yang utama.” Semboyan itu menjadi benang merah dalam sosialisasi tersebut.
Anak-anak diajak memahami hal-hal sederhana namun sangat menentukan keselamatan. Saat berjalan kaki, mereka diingatkan untuk menggunakan trotoar atau bahu jalan dan tidak berjalan di tengah arus kendaraan.
Ketika hendak menyeberang, mereka diajarkan pola sederhana yang mudah diingat: berhenti, lihat kiri, lihat kanan, kemudian lihat kiri lagi sebelum menyeberang.
Pesan lainnya tak kalah tegas. Jalan raya bukan tempat bermain. Kejar-kejaran, bermain bola maupun bermain layang-layang di badan jalan dapat berubah menjadi ancaman dalam hitungan detik.
Polisi juga menanamkan kesadaran bahwa keselamatan anak sangat bergantung pada kebiasaan orang dewasa. Saat dibonceng sepeda motor, anak wajib menggunakan helm berstandar SNI. Saat berada di dalam mobil, sabuk pengaman wajib digunakan.
Termasuk satu pesan yang terdengar sederhana, tetapi kerap diabaikan: Jangan menjadi penumpang tiga di atas sepeda motor. Sepeda motor bukan kendaraan untuk mengangkut tiga orang. Kebiasaan semacam itu bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan anak.
Sosialisasi juga mengajak para siswa mengenal simbol-simbol dasar lalu lintas yang menjadi bahasa universal di jalan. Lampu merah berarti berhenti. Lampu kuning berarti hati-hati dan bersiap.Lampu hijau berarti jalan. Sedangkan zebra cross menjadi tempat yang lebih aman untuk menyeberang.
Materi tersebut disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak. Bahasa yang ringan dipadukan dengan yel-yel sehingga pesan keselamatan tidak terasa sebagai ceramah yang kaku.
Hasilnya terlihat dari antusiasme para siswa. Mereka tampak mudah menerima materi dan aktif mengikuti kegiatan yang diberikan oleh petugas.
Di balik kesederhanaan kegiatan itu, terdapat pesan yang jauh lebih besar: membangun budaya tertib berlalu lintas tidak harus menunggu seseorang dewasa, mengalami kecelakaan, atau berhadapan dengan hukum. Kesadaran dapat dibangun sejak seorang anak pertama kali mengenal jalan.
Kegiatan di SDN UWA I sekaligus memperlihatkan wajah Polri yang hadir tidak hanya ketika terjadi gangguan keamanan maupun kecelakaan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan edukasi dan perlindungan.
Terlebih bagi anak-anak di wilayah yang tengah menghadapi dampak bencana, perhatian terhadap keselamatan menjadi bagian penting dari upaya menjaga mereka tetap tumbuh dalam lingkungan yang aman.
Bagi para siswa, edukasi tersebut menjadi bekal untuk lebih berhati-hati saat berangkat maupun pulang sekolah. Bagi pihak sekolah, kehadiran polisi menjadi dukungan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih tertib dan aman.
Sementara bagi kamtibmas secara keseluruhan, edukasi sejak dini diharapkan mampu menekan potensi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak-anak di wilayah Kecamatan Palue.
Kepala Sekolah SDN UWA I bersama para guru turut hadir dalam kegiatan tersebut. Respons positif pun mengiringi kegiatan yang berlangsung lancar itu.
Sebab keselamatan tidak lahir dari keberuntungan. Keselamatan dibangun dari pengetahuan, kebiasaan, disiplin, dan keberanian untuk mematuhi aturan.
Dan di Palue, pesan itu sedang ditanamkan kepada generasi paling muda—agar mereka tidak hanya tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, tetapi juga anak-anak yang tahu bagaimana menjaga dirinya ketika berhadapan dengan kerasnya jalan raya. [Cm24]


