Di Tengah Luka Gempa Sikka, 70 Anak Pengungsi Diajak Kembali Tersenyum: Trauma Healing Menjadi Jembatan Memulihkan Harapan
Kegiatan trauma healing oleh Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT, Polda Bali, dan Bag SDM Polres Sikka menjadi langkah nyata dalam membantu sekitar 70 anak pengungsi terdampak gempa di Magelo’o memulihkan kondisi psikologisnya. Melalui permainan, bernyanyi, edukasi dan pemberian makanan, anak-anak diajak kembali ceria, mengurangi kejenuhan serta membangun keberanian dan rasa aman. Kegiatan ini menegaskan bahwa penanganan bencana tidak hanya menyentuh kebutuhan fisik, tetapi juga wajib menjaga dan memulihkan kesehatan psikologis anak-anak sebagai generasi penerus.
Maumere, 26 Agustus 2926. Tribratanewssikka.com — Gempa bumi tidak hanya mengguncang tanah. Bagi anak-anak yang mengalaminya, bencana dapat mengguncang rasa aman, memutus rutinitas, menjauhkan mereka dari kenyamanan rumah dan memaksa mereka hidup dalam situasi yang sama sekali tidak mereka pilih.

Di tengah kondisi itulah, sekitar 70 anak-anak terdampak gempa bumi yang kini berada di Posko Pengungsian Magelo’o, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, mendapatkan satu ruang untuk kembali menjadi anak-anak.
Pada Rabu, 26 Agustus 2026, suasana di posko pengungsian tidak hanya diwarnai aktivitas penanganan korban dan kebutuhan dasar. Sekitar pukul 11.20 Wita, tawa anak-anak mulai terdengar ketika Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT, Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka hadir melaksanakan kegiatan trauma healing.
Kehadiran tim psikologi tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan dampak bencana, khususnya bagi kelompok anak-anak yang secara psikologis membutuhkan perhatian khusus setelah menghadapi situasi yang menakutkan dan penuh ketidakpastian.
Bukan ceramah panjang yang diberikan. Bukan pula pendekatan yang membuat anak-anak merasa sedang menjalani sebuah proses formal. Mereka justru diajak bernyanyi, bermain, berhitung, menebak lagu hingga menjawab pertanyaan seputar nama-nama pahlawan nasional. Sederhana, tetapi tepat sasaran.
Sebab, di tengah pengungsian, anak-anak membutuhkan ruang untuk kembali tertawa. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengalihkan perhatian dari kecemasan, mengembalikan konsentrasi, membangun interaksi positif dan merasakan kembali suasana yang menyerupai kehidupan normal.
Kegiatan trauma healing tersebut dipimpin oleh Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, didampingi Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., IPTU I Nyoman Trijaya Putra, S.Psi, serta personel Biro SDM Polda NTT, Biro SDM Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka.
Di balik permainan yang mengundang tawa, terdapat pendekatan psikologis untuk membantu anak-anak menghadapi situasi pascabencana. Anak-anak diarahkan mengikuti kegiatan secara aktif. Mereka bernyanyi bersama, mengikuti hitungan matematika, bermain tebak lagu dan menguji pengetahuan dengan menebak nama pahlawan nasional.
Aktivitas tersebut membuat suasana pengungsian yang semula identik dengan kepanikan dan kejenuhan berubah menjadi lebih hidup. Ada suara anak-anak yang menjawab pertanyaan. Ada tawa ketika jawaban keliru. Ada keberanian ketika mereka mencoba menjawab kembali. Dan ada kegembiraan ketika permainan dilakukan secara bersama-sama. Di situlah nilai penting trauma healing tersebut.
Bencana memang tidak bisa dihapus dari ingatan dalam sekejap. Namun pengalaman positif dapat membantu anak-anak membangun kembali rasa nyaman dan kepercayaan diri setelah mengalami peristiwa yang mengguncang kehidupan mereka.
Bagi orang dewasa, kehidupan di pengungsian mungkin dipandang sebagai persoalan tempat tinggal sementara, kebutuhan pangan, air bersih, keamanan dan logistik. Namun bagi anak-anak, pengungsian berarti hilangnya banyak hal yang selama ini menjadi bagian dari keseharian mereka. Rumah tidak lagi menjadi tempat bermain. Rutinitas sekolah terganggu. Lingkungan yang biasanya akrab berubah. Kehidupan keluarga ikut berubah. Dan yang paling berat, rasa aman dapat terguncang setiap kali mereka mengingat kembali peristiwa gempa.
Karena itu, trauma healing menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan kembali dunia yang dekat dengan anak-anak: bermain, bernyanyi, tertawa dan berinteraksi. Melalui metode terapi dan permainan yang diterapkan, tim berusaha memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan diri secara lebih bebas.
Permainan matematika, misalnya, bukan hanya soal benar atau salah. Aktivitas tersebut juga melatih konsentrasi dan mengajak anak-anak kembali menggunakan kemampuan berpikir secara aktif.
Begitu pula permainan tebak lagu dan tebak nama pahlawan nasional. Kegiatan tersebut menjadi sarana membangun komunikasi, keberanian dan interaksi di antara anak-anak maupun dengan para pendamping. Dengan cara yang ringan, anak-anak diajak memahami bahwa berada di pengungsian bukan berarti seluruh kehidupan mereka harus berhenti.
Ada satu hal yang tampak sederhana tetapi memiliki arti besar di lokasi pengungsian: tawa anak-anak. Tawa itu bukan berarti mereka melupakan bencana. Tawa itu justru menjadi bagian dari proses untuk menghadapi pengalaman tersebut.
Ketika anak-anak mulai berani bernyanyi, menjawab pertanyaan, mengikuti permainan dan berinteraksi, mereka mendapatkan kesempatan untuk keluar sejenak dari tekanan situasi yang mereka hadapi.
Karena itulah kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan terapi terhadap trauma sekaligus hiburan agar anak-anak tetap memiliki semangat dan tidak larut dalam kejenuhan selama berada di lokasi pengungsian.
Pendekatan semacam ini menjadi semakin penting karena pemulihan pascabencana tidak semata-mata berbicara mengenai pemulihan bangunan atau pemenuhan kebutuhan material. Ada manusia yang harus dipulihkan. Ada keluarga yang harus dikuatkan. Dan ada anak-anak yang harus diyakinkan bahwa mereka tetap aman, tetap diperhatikan dan masih memiliki masa depan yang panjang.
Dalam kegiatan tersebut, perhatian tim juga diwujudkan melalui pembagian konsumsi kepada anak-anak. Sebanyak 15 dos makanan ringan dan 5 dos air mineral dibagikan kepada peserta kegiatan. Pemberian makanan dan minuman tersebut menjadi pelengkap dalam kegiatan kemanusiaan yang berlangsung di tengah kondisi pengungsian.
Namun yang paling penting bukan semata-mata apa yang dibagikan. Yang lebih bernilai adalah pesan yang dibawa bersama pemberian tersebut: bahwa anak-anak korban bencana tidak boleh merasa ditinggalkan. Mereka harus merasakan bahwa ada pihak-pihak yang hadir, mendengar, menemani dan membantu mereka melewati masa sulit.
Kegiatan trauma healing di Magelo’o juga memperlihatkan adanya sinergi antara Biro SDM Polda NTT, Biro SDM Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak bencana.
Kolaborasi tersebut memperkuat respons kemanusiaan di lapangan, khususnya dalam aspek psikologis yang kerap tidak terlihat tetapi memiliki dampak panjang. Sebab, ketika perhatian publik sering tertuju pada kerusakan fisik akibat gempa, persoalan psikologis para korban dapat berjalan lebih sunyi. Tidak semua ketakutan terlihat. Tidak semua kecemasan diucapkan. Dan tidak semua trauma langsung dapat dikenali. Terlebih bagi anak-anak.
Mereka mungkin tidak mampu menjelaskan dengan bahasa orang dewasa mengenai apa yang mereka rasakan. Karena itu, pendekatan melalui permainan, interaksi dan pendampingan menjadi penting untuk membuka ruang komunikasi yang lebih natural.
Selama berlangsungnya kegiatan, suasana di Posko Pengungsian Magelo’o menjadi lebih cair. Anak-anak yang sebelumnya berada dalam rutinitas pengungsian mendapatkan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan. Permainan menjadi media untuk membangun kembali keceriaan. Bernyanyi menjadi ruang untuk mengekspresikan diri. Berhitung menjadi cara untuk mengasah konsentrasi.
Sementara tebak nama pahlawan nasional menjadi permainan edukatif yang sekaligus membangun keberanian anak-anak untuk tampil dan menjawab. Di tengah situasi bencana, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa proses pemulihan dapat dilakukan dengan pendekatan yang sederhana, dekat dengan kehidupan anak-anak dan tidak membuat mereka merasa sedang menghadapi tekanan baru.
Kegiatan trauma healing tersebut berakhir sekitar pukul 13.00 Wita. Seluruh rangkaian berjalan aman dan lancar. Namun, apa yang dilakukan selama kurang lebih dua jam tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih panjang. Pemulihan anak-anak korban bencana bukan pekerjaan sehari.
Trauma tidak selalu hilang hanya karena satu kali kegiatan. Tetapi setiap kesempatan untuk menghadirkan rasa aman, keceriaan dan perhatian merupakan langkah yang berarti. Hari itu, di Magelo’o, anak-anak tidak hanya diajak bermain. Mereka diajak kembali percaya bahwa kehidupan masih bisa menghadirkan kegembiraan setelah ketakutan. Mereka diajak memahami, melalui bahasa permainan, bahwa bencana bukan akhir dari segalanya.
Dan yang tidak kalah penting, mereka diperlihatkan bahwa di tengah kesulitan, masih ada orang-orang yang datang untuk berdiri bersama mereka. Di lokasi pengungsian, ketika sebagian orang dewasa sibuk memikirkan bagaimana melewati hari esok, suara tawa anak-anak menjadi pengingat bahwa ada masa depan yang juga harus dijaga. Sebab, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak. Pemulihan juga berarti membangun kembali keberanian anak-anak untuk bermimpi.
Dan di Magelo’o, upaya itu dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah lagu, sebuah permainan, sebuah pertanyaan, sebuah jawaban, sebungkus makanan ringan, sebotol air mineral, dan kehadiran orang-orang yang memilih untuk datang ketika anak-anak korban gempa membutuhkan teman untuk kembali tersenyum. Karena gempa boleh mengguncang bumi Sikka, tetapi tidak boleh dibiarkan mengguncang masa depan anak-anaknya [Cm24]


