“Mahasiswa Turun ke Jalan, Pengamanan Ketat Polres Sikka Warnai Aksi Evaluasi Kinerja Bupati Sikka”
Aksi demonstrasi jilid II oleh Aliansi Cipayung Plus, BEM Unipa, dan LMND Sikka yang berlangsung di Kantor Bupati Sikka berjalan aman, tertib, dan kondusif tanpa adanya kejadian menonjol. Massa menyampaikan sejumlah tuntutan strategis terkait evaluasi kinerja pemerintah daerah, khususnya di bidang infrastruktur, kesehatan, dan lingkungan. Kegiatan diakhiri dengan audiensi bersama Wakil Bupati serta penyerahan rekomendasi, sementara situasi kamtibmas tetap terkendali.
Tribratanewssikka.com - Maumere, 8 April 2026 — Gelombang kritik terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Sikka kembali mengemuka. Rabu (8/4/2026) siang, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus Sikka bersama BEM Unipa Maumere dan LMND Sikka menggelar aksi demonstrasi jilid II di Kantor Bupati Sikka, Jalan El Tari, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.30 WITA itu merupakan kelanjutan dari demonstrasi sebelumnya pada 1 April 2026, dengan tajuk besar “Evaluasi Satu Tahun Kinerja Bupati Sikka”.

Sekitar 30 orang massa aksi turun ke jalan dengan membawa atribut organisasi seperti bendera GMNI, HMI, LMND, serta BEM Unipa, dilengkapi satu unit mobil pick-up dan perangkat pengeras suara.

Massa sebelumnya berkumpul di Lapangan Kota Baru, lalu bergerak menuju Kampus Unipa Maumere untuk menggalang dukungan tambahan. Namun, tidak ada penambahan massa, sehingga rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kantor Bupati Sikka melalui sejumlah ruas jalan utama kota.

Setibanya di lokasi sekitar pukul 13.50 WITA, massa langsung melakukan orasi di depan pintu masuk kantor. Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti berbagai persoalan mendasar yang dinilai belum terselesaikan secara optimal oleh pemerintah daerah, mulai dari infrastruktur, layanan kesehatan, hingga persoalan lingkungan.
Tak lama berselang, massa aksi dipersilakan masuk untuk melakukan audiensi bersama Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriyadi. Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Rokatenda lantai II dan dimoderatori oleh Asisten III Setda Sikka, Drs. Rudolfus Ali, M.Si.
Dalam forum tersebut, masing-masing perwakilan organisasi menyampaikan evaluasi tajam. GMNI Sikka menyoroti ketimpangan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.
Mereka mengungkapkan masih banyak jalan dan jembatan dalam kondisi rusak berat, akses listrik yang belum merata, serta keterbatasan jaringan telekomunikasi yang membuat sejumlah wilayah terisolasi.
Tak hanya itu, GMNI juga mendesak pemerintah untuk meningkatkan pengawasan proyek konstruksi, mempercepat pembangunan ruas jalan strategis, serta segera menangani kerusakan jembatan vital yang menghubungkan jalur utama lintas utara Flores.
Sementara itu, HMI Sikka mengangkat isu krusial di sektor kesehatan. Mereka menyoroti kekurangan tenaga medis, belum meratanya distribusi dokter, hingga keterlambatan pembayaran gaji ratusan tenaga kesehatan sejak awal tahun 2026. Kondisi ini dinilai berpotensi menurunkan kualitas pelayanan publik di fasilitas kesehatan.
HMI juga menekankan pentingnya peningkatan fasilitas RSUD dr. TC. Hillers Maumere, termasuk kebutuhan alat medis modern seperti MRI, serta transparansi dalam pengelolaan anggaran dan jasa pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, BEM Unipa Maumere mengkritisi buruknya sistem pengelolaan sampah dan drainase di wilayah kota. Mereka menilai keterbatasan armada pengangkut sampah dan minimnya fasilitas pendukung telah menyebabkan penumpukan sampah serta meningkatkan risiko banjir di kawasan perkotaan.
Menanggapi berbagai tuntutan tersebut, Wakil Bupati Sikka mengakui masih adanya sejumlah tantangan pembangunan. Ia menyebutkan bahwa kondisi keuangan daerah saat ini tengah mengalami tekanan akibat kebijakan efisiensi anggaran, sehingga sejumlah program belum dapat berjalan maksimal.
Meski demikian, pemerintah daerah diklaim telah melakukan berbagai upaya, seperti penyelesaian sebagian utang daerah, pemenuhan tenaga medis, hingga perencanaan program strategis di sektor perikanan dan perumahan.
Pemerintah juga berkomitmen menyelesaikan persoalan secara bertahap, termasuk peningkatan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, serta penanganan masalah sampah di wilayah perkotaan.
Audiensi berlangsung dinamis namun tetap kondusif. Di akhir pertemuan, massa aksi menyerahkan dokumen rekomendasi berisi delapan poin tuntutan utama, di antaranya percepatan pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan kesehatan, pemerataan bantuan sosial, pengadaan armada sampah, hingga perbaikan drainase kota.
Kegiatan audiensi ditutup dengan sesi foto bersama sekitar pukul 16.15 WITA. Seluruh rangkaian aksi berakhir pada pukul 16.20 WITA dalam keadaan aman dan tertib.
Pengamanan kegiatan dilakukan oleh personel Polres Sikka sesuai surat perintah Kapolres Sikka. Selama aksi berlangsung, tidak ditemukan adanya insiden menonjol maupun gangguan keamanan.
Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa kontrol sosial dari kalangan mahasiswa di Kabupaten Sikka masih berjalan aktif. Dengan isu-isu strategis yang diangkat, bukan tidak mungkin gelombang serupa akan kembali muncul apabila tuntutan yang disampaikan belum mendapatkan tindak lanjut konkret dari pemerintah daerah. [Cm24]


