Pulihkan Luka di Tengah Bencana, Tim Psikologi Polri Hadir Menyentuh Warga Terdampak Gempa di Nangahale Sikka

Kegiatan trauma healing di Posko Pengungsian Nangahale Kabupaten Sikka menjadi bentuk nyata kepedulian Polri dalam membantu warga terdampak gempa memulihkan kondisi psikologis. Melalui terapi bagi orang dewasa, hiburan untuk anak-anak, serta pemberian bantuan kebutuhan dasar, tim berupaya mengurangi trauma, kejenuhan, dan kecemasan sekaligus menumbuhkan kembali semangat serta harapan para pengungsi untuk bangkit pascabencana.

Pulihkan Luka di Tengah Bencana, Tim Psikologi Polri Hadir Menyentuh Warga Terdampak Gempa di Nangahale Sikka
Pulihkan Luka Pascagempa, Tim Psikologi Polri Hadir Bangkitkan Semangat Warga Pengungsi di Nangahale Sikka

Maumere, 25 Agustus 2026. Tribrayanewssikka.com — Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan fasilitas, tetapi juga menyisakan luka psikologis yang tak kasatmata. Di tengah situasi pengungsian yang penuh keterbatasan, rasa cemas, kejenuhan, ketakutan, hingga trauma menjadi beban lain yang harus ditanggung para korban, terutama anak-anak.

Menyadari kondisi tersebut, Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka turun langsung ke tengah warga terdampak gempa bumi di Posko Pengungsian Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Senin (24/8/2026).

 

Kehadiran tim bukan sekadar menjalankan kegiatan kedinasan. Mereka datang membawa pendekatan kemanusiaan—menyentuh sisi psikologis para pengungsi sekaligus menciptakan ruang aman agar warga dapat kembali membangun semangat setelah diguncang bencana.

 

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WITA tersebut dipimpin Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, didampingi Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, S.E., IPTU I Nyoman Trijaya Putra, S.Psi, serta personel Biro SDM Polda NTT, Biro SDM Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka.

 

Di lokasi pengungsian, tim tidak hanya berbicara tentang bencana. Mereka berupaya mengembalikan rasa nyaman dan kepercayaan diri warga melalui kegiatan Terapi Useft bagi orang dewasa, sementara anak-anak diajak keluar sejenak dari bayang-bayang bencana melalui aktivitas bermain, bernyanyi dan hiburan bersama.

 

Sebanyak 25 orang dewasa mengikuti terapi psikologis tersebut. Sementara 35 anak-anak mendapatkan pendampingan melalui kegiatan yang dikemas lebih ringan, menyenangkan dan sesuai dengan dunia mereka.

 

Di tengah suasana pengungsian yang biasanya dipenuhi wajah-wajah lelah dan kekhawatiran, tawa anak-anak menjadi pemandangan yang memiliki arti tersendiri. Permainan dan nyanyian bukan semata-mata hiburan, tetapi menjadi bagian dari upaya membantu anak-anak melepaskan ketegangan psikologis yang muncul setelah mengalami bencana.

 

Bagi orang dewasa, pendekatan terapi diarahkan untuk membantu mengelola tekanan dan beban psikologis. Sedangkan bagi anak-anak, ruang bermain diberikan agar mereka dapat kembali merasakan suasana yang lebih normal di tengah kondisi yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

 

Pesan yang dibawa tim sederhana namun penting: bencana boleh mengguncang tempat tinggal, tetapi tidak boleh mematahkan semangat para penyintas untuk bangkit.

 

 

Kepedulian tim juga diwujudkan melalui pemberian bantuan kebutuhan konsumsi kepada warga di lokasi pengungsian. Sebanyak 6 dos makanan ringan, 5 dos Pop Mie, 5 dos mi instan, 1 dos kopi sachet dan 2 dos air mineral disalurkan kepada warga terdampak.

 

Bantuan tersebut memang tidak serta-merta menghapus seluruh persoalan yang dihadapi para pengungsi. Namun, dalam situasi bencana, setiap bentuk perhatian memiliki nilai kemanusiaan yang besar. Bantuan menjadi tanda bahwa warga yang sedang menghadapi masa sulit tidak berjalan sendirian.

 

Lebih dari sekadar paket bantuan, interaksi langsung antara personel dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kembali rasa aman dan kepercayaan setelah bencana.

 

Anak-anak merupakan kelompok yang rentan mengalami dampak psikologis pascabencana. Perubahan lingkungan secara mendadak, kehilangan kenyamanan rumah, berada di lokasi pengungsian, serta pengalaman merasakan guncangan gempa dapat meninggalkan ketakutan yang mendalam.

 

Karena itu, kegiatan bermain dan bernyanyi yang dilakukan tim memiliki tujuan lebih jauh daripada sekadar membuat anak-anak tertawa. Mereka diberikan kesempatan untuk kembali menjadi anak-anak—bermain, bernyanyi, berinteraksi dan menikmati suasana tanpa terus-menerus dibayangi kecemasan. Di tengah situasi bencana, tawa seorang anak dapat menjadi simbol kecil dari proses pemulihan yang sedang dimulai.

 

Respons positif juga terlihat dari warga yang mengikuti kegiatan terapi. Sejumlah warga menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus memberikan testimoni setelah mendapatkan pendampingan psikologis dari tim.

 

Testimoni tersebut menjadi gambaran bahwa kehadiran personel di tengah pengungsian tidak hanya dipandang sebagai aktivitas formal, tetapi dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

 

Pendekatan semacam ini sekaligus menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya berorientasi pada kebutuhan fisik. Pemulihan psikologis harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar.

 

Sebab, ketika bangunan mulai diperbaiki, kebutuhan pangan mulai terpenuhi dan kondisi lingkungan kembali tertata, masih ada satu pekerjaan besar yang tidak terlihat: memulihkan keberanian manusia untuk kembali menjalani kehidupan.

 

Kegiatan trauma healing di Nangahale memperlihatkan wajah lain dari tugas kepolisian. Di tengah tugas menjaga keamanan dan ketertiban, personel kepolisian juga hadir sebagai bagian dari kekuatan kemanusiaan yang memberikan dukungan kepada masyarakat saat berada dalam situasi paling rentan.

 

Kehadiran Tim Psikologi Polda NTT, Polda Bali dan Bag SDM Polres Sikka menjadi pesan bahwa penanganan bencana bukan hanya tentang bagaimana masyarakat diselamatkan dari ancaman fisik, tetapi juga bagaimana mereka dibantu untuk bangkit dari luka batin. Sekitar pukul 12.00 WITA, seluruh rangkaian kegiatan trauma healing berakhir. Kegiatan berlangsung dalam keadaan aman dan lancar. Namun, pekerjaan pemulihan tentu tidak berhenti ketika kegiatan berakhir.

 

Bagi warga Nangahale yang masih berada di tengah situasi pascabencana, proses untuk kembali pulih membutuhkan waktu. Karena itu, kehadiran pendampingan psikologis menjadi penting agar trauma tidak berubah menjadi luka berkepanjangan.

 

Di tengah puing-puing ketakutan akibat gempa, tawa anak-anak, ketenangan warga setelah mengikuti terapi, dan ucapan terima kasih kepada para pendamping menjadi tanda bahwa harapan masih hidup.

 

Dan di sanalah makna sesungguhnya dari trauma healing: bukan menghapus ingatan tentang bencana, melainkan membantu manusia menemukan kembali kekuatan untuk menatap hari esok. [Cm24]