Sat Binmas Polres Sikka Tebar Keceriaan dan Kepedulian di TK San Karlos Habi
Kegiatan trauma healing Sat Binmas Polres Sikka di TK San Karlos Habi menjadi wujud nyata kehadiran Polri yang humanis, tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menanamkan rasa aman, membangun kepercayaan, serta menghadirkan keceriaan bagi anak-anak sejak usia dini.
Maumere, 22 September 2026. Tribratanewssikka.com – Senyum anak-anak menjadi warna tersendiri ketika jajaran Satuan Binmas Polres Sikka hadir di tengah-tengah mereka. Bukan dengan suasana formal yang kaku, melainkan melalui sapaan hangat, permainan, edukasi, dan kebersamaan yang menghadirkan rasa aman sekaligus keceriaan.

Kehadiran tersebut mewarnai kegiatan sosialisasi dan trauma healing yang digelar Sat Binmas Polres Sikka bersama para pelajar TK San Karlos, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WITA itu dipimpin Kanit Bhabinkamtibmas Aiptu Polikarpus Arifin. Sejak awal kegiatan, pendekatan humanis menjadi bagian utama dalam membangun komunikasi dengan anak-anak.
Di usia yang masih sangat dini, anak-anak tidak cukup hanya diberikan nasihat. Mereka membutuhkan rasa aman, perhatian, dan pengalaman positif. Karena itu, kehadiran personel Sat Binmas dikemas dalam suasana yang ringan dan menyenangkan agar pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima tanpa menghadirkan jarak antara polisi dan anak-anak.
Di hadapan para pelajar, personel Sat Binmas menyampaikan edukasi sederhana mengenai pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat atau Kamtibmas. Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, sekaligus mengajak anak-anak mengenal nilai-nilai kebersamaan, saling menghargai, dan menjaga lingkungan sekitar.
Polisi hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan. Polisi juga hadir sebelum persoalan itu terjadi—dengan membangun komunikasi, menanamkan kesadaran, dan menciptakan rasa percaya. Pesan itulah yang secara tidak langsung dibangun melalui kegiatan tersebut.
Para pelajar juga diajak memahami bahwa menjaga keamanan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Kepolisian. Lingkungan yang aman lahir dari kepedulian bersama, dimulai dari hal-hal sederhana seperti menjaga sikap, menghormati orang lain, tidak membuat keributan, serta berani menyampaikan kepada orang dewasa apabila menemukan sesuatu yang dapat mengganggu keamanan.
Dalam kesempatan itu, personel Sat Binmas juga memberikan pemahaman agar setiap persoalan tidak diselesaikan dengan cara main hakim sendiri. Masyarakat, termasuk generasi muda, diharapkan memahami bahwa setiap permasalahan memiliki jalur penyelesaian yang tepat. Ketika terjadi gangguan Kamtibmas, langkah yang benar adalah melaporkan kepada pihak Kepolisian terdekat atau memanfaatkan layanan pengaduan Polisi 110, bukan mengambil tindakan sendiri yang justru dapat memperkeruh keadaan.
Pesan tersebut menjadi penting karena membangun Kamtibmas tidak hanya berbicara tentang bagaimana Kepolisian bertindak ketika sebuah persoalan muncul, tetapi juga bagaimana kesadaran masyarakat dibentuk agar persoalan dapat dicegah sejak awal.
Membangun keamanan dimulai dari membangun kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari jarak, melainkan dari kedekatan. Untuk mencairkan suasana, personel Sat Binmas kemudian mengajak para pelajar mengikuti berbagai permainan bersama. Suasana yang sebelumnya dipenuhi pesan-pesan edukatif berubah menjadi ruang penuh tawa dan keceriaan.
Anak-anak tampak menikmati setiap momen kebersamaan. Tidak ada sekat antara polisi dan pelajar. Personel Kepolisian berbaur, bermain, dan menciptakan suasana yang membuat anak-anak merasa nyaman.
Keceriaan tersebut bukan sekadar pelengkap kegiatan. Dalam pendekatan trauma healing, suasana positif menjadi bagian penting untuk membantu membangun rasa nyaman dan pengalaman emosional yang menyenangkan. Senyum anak-anak menjadi pesan yang sederhana, tetapi kuat: bahwa polisi dapat hadir sebagai sosok yang dekat, ramah, peduli, dan memberikan rasa aman.
Perhatian juga diberikan melalui pembagian makanan dan minuman kepada para pelajar. Meski terlihat sederhana, perhatian tersebut menjadi simbol kepedulian sekaligus memperkuat hubungan emosional antara personel Kepolisian dengan anak-anak.
Bagi Sat Binmas Polres Sikka, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari upaya memperluas ruang komunikasi antara Polri dengan masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan. Anak-anak diperkenalkan sejak dini bahwa polisi bukan hanya identik dengan seragam dan kewenangan, tetapi juga dengan pelayanan, perlindungan, dan kepedulian.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kanit Bintibmas Aiptu Gabrielis I.M, Kanit Binpolmas Aiptu Maria Avelina, Kaurmintu Sat Binmas Aipda Ridwan, Bamin Sat Binmas Bripka Vera Hehanusa, serta Bamin Sat Binmas Bripda Emanuel Rikardo.
Kehadiran para personel tersebut semakin memperlihatkan bahwa fungsi pembinaan masyarakat terus dikedepankan sebagai bagian dari upaya menciptakan situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah hukum Polres Sikka.
Sekitar pukul 10.00 WITA, seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Selama pelaksanaan, kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Namun, yang dibawa pulang dari kegiatan itu bukan sekadar berakhirnya sebuah agenda Kepolisian.
Ada pesan yang lebih dalam: bahwa keamanan tidak selalu dibangun dengan suara keras, tetapi dapat tumbuh dari percakapan yang hangat, tangan yang terulur, permainan yang sederhana, dan senyum yang tulus.
Kehadiran Sat Binmas Polres Sikka di TK San Karlos menjadi gambaran bahwa wajah Kepolisian dapat hadir dalam banyak bentuk. Ketika masyarakat membutuhkan perlindungan, polisi hadir. Ketika anak-anak membutuhkan rasa aman, polisi mendekat. Dan ketika kepercayaan harus dibangun, polisi memilih untuk hadir dan berkomunikasi.
Sebab, menjaga Kamtibmas bukan hanya tentang mencegah gangguan keamanan, tetapi juga tentang menanamkan rasa aman sejak dini. Dan dari ruang kecil tempat anak-anak tertawa itulah, sebuah harapan besar sedang dibangun: generasi yang mengenal polisi bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa percaya. (L-09)


