“Tragedi di Kebun Lontar Waituri, Tim Identifikasi Polres Sikka Bersama Polsek Waigete Lakukan Olah TKP”

Y. N Luren (32), warga Waituri, Desa Wailamung, Kecamatan Talibura, ditemukan meninggal dunia di bawah pohon lontar setelah sebelumnya pergi mengiris tuak. Hasil pemeriksaan medis tidak menemukan tanda-tanda kekerasan dan menyebut korban meninggal akibat cedera kepala. Keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan otopsi

“Tragedi di Kebun Lontar Waituri, Tim Identifikasi Polres Sikka Bersama Polsek Waigete Lakukan Olah TKP”
“Tragedi Kebun Lontar Waituri, Polres Sikka dan Polsek Waigete Turun Tangan Ungkap Fakta di Balik Kematian Y. N Luren”

Maumere, 30 September 2026. Tribratanewssikka.com — Senja di Waituri, Dusun Wailamung, Desa Wailamung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Selasa (29/9/2026), berubah menjadi suasana duka. Di tengah hamparan kebun yang selama ini menjadi tempat warga menggantungkan hidup, seorang pria ditemukan tak bernyawa di bawah pohon lontar.

Pria tersebut adalah Y. N Luren (32), seorang petani asal Waituri, RT 004/RW 002, Dusun Wailamung, Desa Wailamung, Kecamatan Talibura.

Y.N ditemukan sekitar pukul 19.00 WITA setelah keluarga bersama sejumlah saksi melakukan pencarian selama kurang lebih sehari. Ia sebelumnya diketahui pergi ke kebun untuk menjalankan aktivitas mengiris tuak pada pohon lontar.

 

Peristiwa itu bermula pada Senin (28/9/2026) sekitar pukul 16.00 WITA. Yulius meninggalkan rumah menuju kebun miliknya untuk mengiris tuak. Aktivitas tersebut merupakan pekerjaan yang biasa dilakukan korban. Namun, waktu terus berjalan. Hingga sekitar pukul 19.00 WITA, Y.N belum juga kembali ke rumah.

 

Kondisi tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran keluarga. Sejumlah anggota keluarga kemudian berusaha mencari korban di kebun, tepatnya di lokasi yang biasa digunakan korban untuk mengiris tuak.

 

Korban tidak ditemukan di lokasi. Keluarga kemudian kembali ke rumah dengan dugaan bahwa Y.N mungkin mengikuti istrinya yang saat itu berada di Talibura.

 

Pada Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 16.00 WITA, istri korban kembali dari Talibura. Setibanya di rumah, keluarga kemudian menanyakan apakah Y.N ikut bersamanya ke Talibura. Jawabannya tidak. Korban ternyata tidak pernah ikut bersama istrinya.

 

Keterangan tersebut kembali membuka kekhawatiran keluarga. Pencarian pun dilanjutkan. Sekitar pukul 18.30 WITA, keluarga dan para saksi kembali menyisir kawasan kebun tempat korban sebelumnya diketahui pergi mengiris tuak.

 

Sekitar pukul 19.00 WITA, pencarian itu akhirnya menemukan titik terang sekaligus membawa kabar duka. Y.N ditemukan di bawah pohon lontar dalam kondisi telah meninggal dunia.

 

Temuan tersebut kemudian disampaikan kepada keluarga. Peristiwa itu selanjutnya dilaporkan kepada Kepolisian Subsektor Nebe. Piket Subsektor Nebe meneruskan laporan kepada Polsek Waigete untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

 

Personel kepolisian kemudian bergerak menuju lokasi kejadian. Pemeriksaan awal dilakukan, termasuk mendatangi tempat kejadian perkara, mengumpulkan bahan keterangan dari para saksi serta melakukan koordinasi dengan tenaga medis dan Tim Identifikasi Polres Sikka.

 

Dalam penanganan perkara tersebut, kepolisian juga menghubungi Tim Identifikasi Polres Sikka untuk melakukan olah TKP. Olah TKP dipimpin oleh Baur Identifikasi Polres Sikka AIPDA Kristoforus Suri, didampingi Kanit Reskrim Polsek Waigete AIPDA Agustinus A. Soa.

 

Pemeriksaan medis terhadap jenazah juga dilakukan oleh dokter Puskesmas Watubaing, dr. Servasius Suwaldus Situ. Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Dokter menyatakan korban meninggal dunia akibat cedera kepala. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan peristiwa yang oleh keluarga diterima sebagai sebuah musibah.

 

Pihak keluarga juga menyatakan menerima kematian Y.N. Keluarga menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah dan dituangkan dalam surat pernyataan penolakan otopsi yang ditandatangani oleh adik kandung korban, Donatus Dongi.

 

Setelah seluruh proses pemeriksaan awal selesai dilakukan, jenazah Y.N kemudian dibawa dan disemayamkan di rumah duka yang berada di RT 004/RW 002 Waituri, Dusun Wailamung, Desa Wailamung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

 

Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Pekerjaan yang setiap hari dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup justru berakhir dengan musibah tragis di tengah kebun.

 

Bagi keluarga, pencarian yang semula dilakukan karena kecemasan akhirnya berujung pada kepastian paling pahit—menemukan orang yang mereka cari dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

 

Kepolisian sendiri telah melakukan sejumlah langkah penanganan, mulai dari menerima laporan, mendatangi TKP, melaporkan kejadian kepada Kapolsek Waigete, berkoordinasi dengan dokter Puskesmas Watubaing, menghubungi Tim Identifikasi Polres Sikka, mengumpulkan bahan keterangan dari para saksi, hingga melaksanakan olah TKP.

 

Dari rangkaian pemeriksaan awal tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Keterangan medis menyebut korban mengalami cedera kepala yang menyebabkan kematian.

 

Jenazah kini telah berada di rumah duka. Keluarga bersiap mengantar Yulius ke peristirahatan terakhir, sementara peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas sehari-hari di lingkungan kebun, termasuk memanjat pohon lontar, memiliki risiko yang tidak boleh diabaikan.

 

Tragedi di kebun lontar Waituri itu pun berakhir dalam kesunyian duka. Sehari sebelumnya Yulius pergi menjalankan rutinitas mencari nafkah. Sehari kemudian, ia ditemukan tak bernyawa di bawah pohon yang menjadi bagian dari kesehariannya.

 

Sebuah pekerjaan sederhana berubah menjadi tragedi, meninggalkan keluarga yang kehilangan seorang anak, saudara, dan anggota keluarga untuk selamanya. [ Cm24]