Turun ke Tengah Puing Gempa, Polsek Paga Polres Sikka Ulurkan Bantuan dan Tenaga untuk Warga Maulo’o

Kehadiran Polsek Paga di tengah warga terdampak gempa Flores 7,7 magnitudo menjadi wujud nyata kepedulian dan kemanusiaan Polri. Tidak hanya menyalurkan bantuan, personel juga turun langsung membantu membersihkan puing dan memindahkan perabot warga, sekaligus memberikan semangat agar masyarakat Maulo’o tetap kuat dan bangkit menghadapi dampak bencana.

Turun ke Tengah Puing Gempa, Polsek Paga Polres Sikka Ulurkan Bantuan dan Tenaga untuk Warga Maulo’o
Gempa Mengguncang, Kepedulian Bergerak: Polsek Paga Bantu Warga Maulo’o

Maumere, 16 Setember 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah luka yang belum sepenuhnya pulih akibat gempa bumi Flores berkekuatan 7,7 magnitudo, kepedulian kembali menemukan bentuk nyatanya. Bukan sekadar hadir dengan seragam dan kewenangan, personel Polsek Paga Polres Sikka memilih turun langsung ke tengah warga, menyentuh kehidupan mereka yang porak-poranda akibat bencana.

Rabu, 16 September 2026, sejak pukul 10.00 hingga 11.30 Wita, Kapolsek Paga IPDA Hasan Sabon bersama personel Polsek Paga menyambangi sejumlah warga terdampak gempa di Desa Maulo’o, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka.

 

Kegiatan sosial dan kemanusiaan tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah kondisi darurat pascabencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan berupa materi. Mereka juga membutuhkan kehadiran, perhatian, tenaga, dan keyakinan bahwa masih ada tangan yang bersedia membantu ketika keadaan sedang tidak berpihak.

 

Kunjungan pertama dilakukan di kediaman Domi Jogo Dine, yang berada di Nuateu, RT/RW 007/005, Desa Maulo’o. Di rumah tersebut, Kapolsek Paga bersama personel menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp550.000 sebagai bentuk uluran tangan untuk meringankan beban Domi yang terdampak gempa.

 

Rumah Domi memang masuk kategori rusak ringan, namun kerusakan tersebut bukan berarti persoalannya ringan. Retakan terlihat di sejumlah sisi bangunan. Kondisi itu membuat Domi belum berani kembali menempati rumahnya sebagaimana sebelum bencana. Untuk sementara, ia memilih bertahan di bagian dapur rumah.

 

Di balik kondisi tersebut tersimpan persoalan sederhana namun berat: ketika rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung berubah menjadi ruang yang tidak lagi sepenuhnya memberikan rasa aman, warga harus mencari cara sendiri untuk bertahan sambil menunggu bantuan dan kepastian pemulihan.

 

Dari rumah Domi, rombongan Polsek Paga kemudian bergerak menuju kediaman Agustinus Bula di Seroara, RT/RW 008/006, Desa Maulo’o. Situasi yang ditemukan di lokasi kedua jauh lebih berat.

 

Rumah Agustinus mengalami kerusakan berat hingga kategori rusak total. Bangunan yang sebelumnya menjadi tempat berlindung keluarga kini menyisakan persoalan besar bagi penghuninya. Agustinus bersama keluarganya harus tinggal sementara di sebuah rumah darurat. Di lokasi tersebut, personel Polsek Paga kembali menyerahkan bantuan uang sebesar Rp550.000.

 

Namun, kepedulian tidak berhenti pada penyerahan bantuan. Personel polisi ikut turun tangan membantu memindahkan perabot rumah tangga serta membersihkan material bangunan yang roboh.

 

Tangan-tangan yang sehari-hari bertugas menjaga keamanan itu kali ini bekerja di antara sisa-sisa bangunan yang runtuh. Debu, puing, dan barang-barang rumah tangga menjadi bagian dari pekerjaan kemanusiaan yang mereka lakukan.

 

Di sinilah makna kehadiran polisi terasa lebih dekat. Ketika masyarakat sedang kehilangan sebagian ruang hidupnya, kehadiran aparat bukan hanya soal menjaga situasi tetap aman, tetapi juga tentang bagaimana berdiri bersama warga ketika mereka berada dalam titik paling sulit.

 

Kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Telegram Kapolda NTT Nomor: STR/324/1/OPS.1.3./2026, sebagai bagian dari kepedulian Polri terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

 

Bagi Domi Jogo Dine dan Agustinus Bula, bantuan yang diterima mungkin belum mampu mengembalikan rumah mereka seperti sediakala. Namun, bantuan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar nominal.

 

Ada pesan kemanusiaan yang dibawa bersama bantuan itu: bahwa penderitaan akibat bencana adalah persoalan bersama dan pemulihan tidak dapat dibebankan kepada korban seorang diri.

 

Kedua warga tersebut juga berharap agar perhatian dan bantuan pemerintah terus berlanjut. Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Sikka, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur hingga Pemerintah Pusat dapat memberikan dukungan kepada masyarakat yang rumah dan kehidupannya terdampak gempa.

 

Harapan itu menjadi suara warga yang sedang berjuang untuk kembali berdiri setelah bencana mengguncang kehidupan mereka. Apa yang dilakukan Polsek Paga menjadi potret kecil dari semangat gotong royong di tengah situasi pascabencana. 

 

Bantuan uang, tenaga, dan kehadiran mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi warga yang sedang berhadapan dengan rumah retak, bangunan roboh, dan ketidakpastian tempat tinggal, kepedulian semacam itu memiliki arti yang jauh lebih besar. Polri hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan pengamanan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan kepedulian.

 

Di antara retakan dinding dan puing-puing rumah, Polsek Paga menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas tugas. Ada saatnya polisi berdiri menjaga ketertiban, dan ada saatnya polisi harus turun langsung mengangkat puing bersama warga.

 

Sebab pada akhirnya, keamanan bukan hanya tentang keadaan yang bebas dari gangguan, tetapi juga tentang memastikan masyarakat yang sedang tertimpa musibah tetap merasa bahwa mereka tidak sendirian. Kegiatan sosial dan kemanusiaan Polsek Paga tersebut berlangsung dalam keadaan aman, tertib, dan lancar. [Cm24]

 

"POLDA NTT PENUH KASIH DARI TIMUR MENGUATKAN INDONESIA"