Polres Sikka Tak Berpaling: Gempa Boleh Mengguncang, Kepedulian Polisi Tak Boleh Tumbang
Pemberian bantuan sembako oleh Unit Propam Polres Sikka kepada masyarakat kurang mampu terdampak gempa bumi di Kelurahan Kota Uneng merupakan wujud konkret kepedulian sosial dan kehadiran Polri di tengah masyarakat. Langkah tersebut mempertegas bahwa Polri tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari kekuatan kemanusiaan dalam membantu masyarakat melewati masa sulit akibat bencana
Maumere, 27 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Ketika gempa bumi tektonik mengguncang kehidupan masyarakat, yang tersisa bukan hanya kerusakan dan ketakutan, tetapi juga persoalan bagaimana warga memenuhi kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, kehadiran negara tidak boleh berhenti pada laporan, angka, dan pendataan. Negara harus hadir, menyentuh langsung masyarakat yang terdampak, dan memastikan mereka tidak menghadapi kesulitan seorang diri.

Pesan itulah yang terlihat dari langkah Unit Propam Polres Sikka yang turun langsung memberikan bantuan sembako kepada masyarakat kurang mampu terdampak bencana gempa bumi di wilayah RT 001 dan RT 002, RW 004, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Kamis (27/8/2026).

Sekitar pukul 17.00 Wita, jajaran Polres Sikka mendatangi warga di lokasi sasaran. Bantuan tidak sekadar dikirim, tetapi dibawa dan disalurkan langsung kepada masyarakat. Langkah sederhana itu justru memiliki makna yang kuat: ketika masyarakat sedang berada dalam situasi sulit, aparat kepolisian memilih untuk datang dan berdiri di tengah mereka.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kabag SDM Polres Sikka AKP Susanto, SE, bersama anggota SDM Polres Sikka. Kehadiran personel kepolisian di tengah masyarakat terdampak menjadi gambaran bahwa tugas Polri tidak semata-mata berurusan dengan persoalan penegakan hukum dan keamanan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab kemanusiaan ketika masyarakat berada dalam kondisi darurat.
Bantuan yang disalurkan memang tidak berlebihan. Sebanyak 5 dos Indomie Sedap dan 2 dos air mineral Aqua botol sedang diberikan kepada warga penerima manfaat.
Namun dalam kondisi pascabencana, ukuran kepedulian tidak selalu ditentukan oleh besarnya bantuan. Sepaket bahan makanan dan air minum yang datang ketika masyarakat sedang membutuhkan dapat menjadi penyangga penting bagi kehidupan mereka.
Di situlah nilai kemanusiaan kegiatan tersebut menjadi terasa. Bantuan bukan sekadar barang yang berpindah tangan. Ada pesan yang ikut disampaikan: masyarakat tidak dilupakan.
Gempa mungkin mampu mengguncang tanah, mengubah rutinitas, dan menimbulkan kecemasan. Tetapi bencana tidak boleh membuat hubungan antara negara dan rakyat ikut retak. Kehadiran aparat di lapangan menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa masyarakat tetap memiliki sandaran ketika menghadapi masa sulit.
Selama ini, wajah kepolisian lebih sering terlihat ketika masyarakat membutuhkan keamanan. Polisi hadir mengatur lalu lintas, menjaga kegiatan masyarakat, menangani gangguan kamtibmas, maupun merespons berbagai persoalan hukum.
Polisi dituntut mampu hadir ketika masyarakat kehilangan rasa nyaman, ketika kebutuhan dasar terganggu, dan ketika warga membutuhkan dukungan untuk kembali bangkit.
Apa yang dilakukan Unit Propam Polres Sikka menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat menjadi bagian dari pelayanan kepolisian. Tidak perlu menunggu situasi memburuk untuk bergerak. Tidak perlu menunggu sorotan untuk membantu.
Di lokasi sasaran, masyarakat tidak hanya menerima bantuan. Mereka juga mendapatkan perhatian secara langsung dari aparat kepolisian. Sebuah sentuhan sederhana yang dalam situasi kebencanaan dapat memberikan dampak psikologis: bahwa masih ada pihak yang peduli dan bersedia berdiri bersama mereka.
Bencana selalu menyisakan ketidakpastian. Setelah guncangan berhenti, masyarakat masih harus menghadapi berbagai persoalan lain. Kebutuhan makanan, air minum, tempat tinggal, kesehatan, keamanan, hingga pemulihan aktivitas ekonomi menjadi pekerjaan panjang yang tidak selesai dalam satu hari.
Bantuan sembako yang diberikan Polres Sikka memang merupakan langkah kecil dalam rangkaian besar penanganan bencana. Tetapi langkah kecil tersebut penting karena memperlihatkan bahwa kepedulian harus dimulai dari sesuatu yang konkret.
Masyarakat tidak membutuhkan kata-kata yang terlalu panjang ketika berada dalam kesulitan. Mereka membutuhkan tangan yang datang membantu. Dan pada Kamis sore itu, tangan tersebut datang dari jajaran Polres Sikka.
Dengan menggunakan satu unit kendaraan roda empat dinas Sat Binmas Polres Sikka, bantuan dibawa menuju lokasi warga terdampak. Personel kemudian melaksanakan penyaluran secara langsung hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Keterlibatan Unit Propam dalam kegiatan sosial tersebut juga memberikan pesan tersendiri. Propam yang selama ini identik dengan fungsi pengawasan internal kepolisian menunjukkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat merupakan bagian dari semangat institusi secara keseluruhan.
Tidak ada sekat antara fungsi pelayanan, pengawasan, pembinaan sumber daya manusia, dan kepedulian sosial ketika masyarakat membutuhkan kehadiran aparat. Di tengah bencana, semua fungsi kepolisian bermuara pada satu kepentingan: masyarakat harus merasa aman, diperhatikan, dan dilayani.
Kegiatan tersebut juga menjadi cermin bahwa membangun kepercayaan publik tidak selalu dilakukan melalui tindakan besar. Kepercayaan justru sering tumbuh dari perjumpaan kecil—ketika seorang warga melihat polisi datang bukan untuk memeriksa, menindak, atau menegur, melainkan untuk memberikan bantuan. Itulah wajah pelayanan yang mudah dikenang.Tak Membiarkan Warga Menghadapi Bencana Sendirian
Kepedulian semacam ini menjadi penting karena masyarakat terdampak bencana membutuhkan lebih dari sekadar bantuan material. Mereka membutuhkan kepastian bahwa proses pemulihan akan terus mendapat perhatian.
Polri sebagai bagian dari unsur pemerintah memiliki posisi strategis untuk berada di garis depan pelayanan masyarakat. Kehadiran personel di lapangan dapat sekaligus menjadi mata dan telinga untuk melihat secara langsung kondisi warga, mendengar kebutuhan mereka, serta memastikan situasi keamanan tetap terjaga.
Di wilayah Kota Uneng, langkah itu diwujudkan melalui bantuan sembako kepada masyarakat kurang mampu yang terdampak gempa. Bantuan mungkin habis dikonsumsi. Air minum akan diminum. Makanan akan selesai disantap. Tetapi pesan kemanusiaannya tidak harus ikut hilang.
Pesan itu sederhana: ketika rakyat terdampak bencana, negara harus hadir. Dan melalui jajaran Polres Sikka, pesan tersebut diterjemahkan dalam tindakan nyata.
Seluruh rangkaian kegiatan pemberian bantuan sembako berlangsung aman dan lancar. Kegiatan berakhir pada pukul 17.15 Wita. Tidak ada seremoni berlebihan. Tidak ada panggung besar. Hanya ada aparat kepolisian, bantuan kebutuhan pokok, dan masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana. Namun justru dalam kesederhanaan itulah nilai kegiatan tersebut menjadi kuat.
Sebab dalam situasi bencana, kepedulian tidak membutuhkan kemewahan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk datang, kemauan untuk membantu, dan ketulusan untuk memastikan bahwa warga yang sedang kesulitan tidak merasa ditinggalkan.
Polres Sikka telah menunjukkan bahwa pelayanan kepada masyarakat bukan hanya tentang hadir ketika keadaan aman, tetapi juga tentang berdiri paling dekat dengan warga ketika keadaan sedang sulit. Karena bagi masyarakat yang terdampak bencana, kehadiran yang nyata sering kali jauh lebih berarti daripada seribu kata tentang kepedulian. [Cm24]


