Menembus Laut Palue, Membawa Harapan: Polri Pulihkan Trauma dan Salurkan 15 Ton Bantuan untuk Warga

Kehadiran Polri di Pulau Palue membuktikan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan logistik, tetapi juga menyentuh pemulihan mental masyarakat. Melalui trauma healing dan pendistribusian sekitar 15 ton bantuan menggunakan KP. KASTURI-6002, Polri bersama berbagai unsur menunjukkan komitmen nyata bahwa masyarakat Palue tidak sendiri dalam menghadapi dan bangkit dari bencana gempa bumi.

Menembus Laut Palue, Membawa Harapan: Polri Pulihkan Trauma dan Salurkan 15 Ton Bantuan untuk Warga
Polri Menembus Laut, Bawa Harapan dan 15 Ton Bantuan untuk Palue

Maumere, 27 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Gempa bumi yang mengguncang Pulau Palue tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan dan fasilitas warga. Di balik puing, debu, dan ketidakpastian pascabencana, ada luka lain yang tak kasatmata: ketakutan, kecemasan, trauma, dan kegelisahan yang menghantui masyarakat, terutama anak-anak.

Di tengah situasi tersebut, Polri menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada pengamanan wilayah dan pengiriman bantuan logistik. Negara hadir hingga menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Pada saat kebutuhan pangan dan kebutuhan dasar harus dipenuhi, kebutuhan untuk memulihkan mental dan keberanian masyarakat juga tidak ditinggalkan.

Dua langkah kemanusiaan berjalan beriringan di Pulau Palue. Tim Trauma Healing Polda NTT bersama Polda Bali memberikan Psychological First Aid (PFA) kepada masyarakat terdampak gempa, sementara dari sisi logistik, KP. KASTURI-6002 Baharkam Polri menembus perairan menuju Palue dengan membawa bantuan sekitar 15 ton. Dua aksi tersebut menyampaikan pesan yang sama: Palue tidak sendirian menghadapi bencana.

Pada Rabu, 26 Agustus 2026, sekitar pukul 10.00 Wita, Paroki Kudus Lei, Dusun Lei, Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, menjadi ruang pemulihan bagi masyarakat yang tengah berjuang bangkit dari tekanan psikologis akibat gempa. Tim Trauma Healing Polda NTT dan Polda Bali hadir memberikan Psychological First Aid atau PFA kepada masyarakat terdampak.

Sasarannya adalah warga Dusun Lei, Desa Tuanggeo, yang mencapai ratusan orang. Anak-anak menjadi perhatian penting karena kelompok ini merupakan salah satu pihak yang paling rentan mengalami ketakutan dan tekanan psikologis setelah bencana.

 

Pendekatan yang digunakan tidak sekadar berbicara dan memberikan nasihat. Tim menggunakan konseling individu, konseling kelompok, serta play therapy, sebuah metode yang memungkinkan anak-anak mendapatkan ruang aman untuk mengekspresikan emosi melalui aktivitas yang sesuai dengan dunia mereka.

 

Sebab bencana tidak selalu meninggalkan luka yang dapat difoto. Ada ketakutan yang tersimpan dalam benak seorang anak ketika tanah kembali berguncang. Ada kecemasan orang tua ketika mendengar suara benda jatuh. Ada kekhawatiran warga ketika malam tiba dan mereka harus kembali berhadapan dengan rasa tidak aman.

 

Tujuannya jelas: memberikan dukungan psikologis dan emosional agar masyarakat terdampak mampu menghadapi stres, kecemasan, ketakutan, serta berbagai respons emosional pascabencana.

 

Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memulihkan kondisi psikososial sekaligus memperkuat kemampuan mereka beradaptasi dan kembali menjalankan fungsi kehidupan di tengah situasi pascabencana.

 

Masyarakat terdampak mendapatkan dukungan psikologis dan emosional. Kondisi warga menjadi lebih tenang dan mereka mulai mampu mengelola stres serta kecemasan yang muncul sebagai dampak dari gempa. Bagi sebuah wilayah yang baru saja dihantam bencana, ketenangan itu bukan perkara kecil. Itu adalah modal pertama untuk bangkit.

 

Sehari setelah pelaksanaan PFA, Kamis, 27 Agustus 2026, Pulau Palue kembali menerima kabar kedatangan bantuan. Sekitar pukul 07.10 Wita, KP. KASTURI-6002 Baharkam Polri tiba di Pelabuhan Kerica Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka.

 

Kedatangan kapal tersebut bukan sekadar pergerakan armada. Di dalamnya terdapat kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi. Sekitar 15 ton bantuan logistik dibawa untuk selanjutnya disalurkan kepada warga.

 

Bantuan tersebut terdiri dari kebutuhan pangan, air minum, perlengkapan rumah tangga, pakaian, hingga kebutuhan anak-anak. Sebanyak 184 karung beras ukuran 5 kilogram dan 136 karung beras ukuran 3 kilogram menjadi bagian dari bantuan. Selain itu, terdapat ratusan dus mi instan berbagai jenis, air mineral, minyak goreng, susu, biskuit, makanan ringan, deterjen, selimut, pakaian anak dan piyama.

 

Rinciannya menggambarkan bahwa bantuan tidak hanya ditujukan untuk mengisi perut, tetapi juga menjawab kebutuhan sehari-hari masyarakat yang sedang berada dalam situasi darurat.

 

Ada 381 dus Mie Sedaap, 704 dus Indomie Soto, 549 dus Indomie Goreng, 186 dus Pop Mie, serta 88 dus Eko Mie. Untuk kebutuhan air minum, bantuan mencakup 586 dus air mineral ukuran 330 mililiter dan 178 dus Aqua ukuran 1,5 liter, selain 72 dus air Como.

 

Kebutuhan lainnya juga turut diperhatikan, mulai dari selimut sebanyak 260 lembar, pakaian anak dan piyama sebanyak empat koli, hingga berbagai jenis biskuit, susu, makanan ringan, minyak goreng dan deterjen.

 

Jika angka-angka itu dibaca satu per satu, mungkin terlihat seperti sekadar daftar barang. Namun bagi masyarakat yang tengah menghadapi bencana, setiap karung beras berarti persediaan makanan. Setiap dus air berarti kebutuhan dasar yang terjamin. Setiap selimut berarti perlindungan dari dingin. Dan pakaian anak berarti ada perhatian kepada mereka yang tidak memiliki banyak pilihan dalam situasi darurat.

 

Sesampainya di Pelabuhan Kerica Palue, bantuan tidak dibiarkan menumpuk di dermaga. Masyarakat Palue ikut turun tangan membantu proses pembongkaran dan pengangkutan logistik. Dari pelabuhan, bantuan kemudian dibawa menuju Posko Polri dan Bhayangkari Peduli di SMPK Rokatenda untuk selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat.

 

Polri datang membawa bantuan, tetapi masyarakat ikut bergerak. Aparat bekerja bersama warga. Tidak ada jarak ketika kepentingannya adalah memastikan bantuan tiba di tangan mereka yang membutuhkan.

 

Proses pengangkutan menggunakan satu unit kendaraan dinas Polri Polres Sikka, satu unit mobil pikap L-300 PT Nindya Karya, serta dua unit mobil pikap milik masyarakat Palue.

 

Seluruh proses pendropingan dan pengangkutan bantuan dari Pelabuhan Kerica menuju Posko Polri tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 13.20 Wita dalam keadaan aman, tertib dan lancar.

 

Penanganan bencana di Palue juga memperlihatkan keterlibatan lintas unsur. Dari Polda NTT hadir Kasubbagpsipol Biro SDM, Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi., bersama personel Ro SDM Polda NTT. Dari Polda Bali hadir Paur Subbag Psipers Bagpsi Ro SDM Polda Bali, Iptu Nyoman Trijaya Putra, S.Psi., bersama personel Ro SDM Polda Bali.

 

Jajaran Polres Sikka juga terlibat, antara lain Kabag Ops Polres Sikka AKP I Wayan Oka Deswanta, S.E., Kasat Polairud Polres Sikka AKP Dimas Y.F. Rahmanto, S.Tr.K., S.I.K., Kasubbagdalpers SDM Polres Sikka, serta personel yang tersprin dalam tanggap darurat bencana gempa bumi Palue.

 

Di lapangan, Bhabinkamtibmas Kecamatan Palue Brigpol I Gusti Ngurah Putra Kencana, S.H. menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat mendapatkan pendampingan. Keterlibatan unsur kepolisian tersebut diperkuat oleh kehadiran personel kapal KP. KASTURI-6002, unsur masyarakat, serta elemen lain yang ikut mendukung proses kemanusiaan.

 

Semua bergerak dalam satu kepentingan: memastikan masyarakat Palue mendapatkan kembali rasa aman, kebutuhan dasar, dan keyakinan bahwa mereka tidak menghadapi bencana seorang diri.

 

Bukan hanya menguji ketahanan bangunan, tetapi juga menguji seberapa cepat negara bergerak ketika rakyat berada dalam keadaan sulit. Di Palue, jawaban itu diperlihatkan melalui dua pendekatan yang berjalan bersamaan.

 

Ketika masyarakat membutuhkan ketenangan, Polri menghadirkan trauma healing. Ketika masyarakat membutuhkan pangan dan kebutuhan dasar, Polri menghadirkan bantuan logistik.

 

Ini tentang bagaimana negara berusaha hadir dalam dua wajah kebutuhan manusia setelah bencana: kebutuhan untuk bertahan hidup dan kebutuhan untuk kembali berani menjalani hidup.

 

Sekitar 15 ton bantuan memang akan berkurang ketika dibagikan kepada masyarakat. Beras akan habis. Air akan diminum. Makanan akan dikonsumsi. Selimut akan digunakan. Pakaian akan dipakai. Namun ada sesuatu yang nilainya jauh lebih panjang daripada barang-barang tersebut: pesan bahwa masyarakat terdampak tidak dilupakan.

 

Sebuah sesi konseling mungkin berlangsung hanya beberapa jam. Permainan anak-anak mungkin berakhir pada hari itu. Namun keberadaan orang-orang yang datang untuk mendengar, mendampingi, menenangkan dan memulihkan dapat meninggalkan kesan jauh lebih lama.

 

Karena dalam situasi bencana, terkadang yang paling dibutuhkan bukan hanya pertanyaan, “Apa yang kalian perlukan?” Tetapi juga kehadiran yang mengatakan, “Kami ada bersama kalian.” Ketika Solidaritas Menjadi Kekuatan untuk Bangkit

 

Pemulihan tentu tidak selesai hanya dengan satu kapal bantuan atau satu kegiatan trauma healing. Masih ada kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, masih ada infrastruktur yang perlu dipulihkan, dan masih ada rasa takut yang perlahan harus diubah menjadi keberanian.

 

Dari pelabuhan hingga posko, dari bantuan logistik hingga ruang bermain anak, dari konseling hingga pendampingan aparat di tengah masyarakat, semuanya menunjukkan satu garis besar: penanganan bencana harus menyentuh manusia secara utuh.

 

Palue membutuhkan makanan untuk bertahan. Palue membutuhkan rasa aman untuk menenangkan diri. Palue membutuhkan pendampingan untuk mengatasi trauma. Dan Palue membutuhkan keyakinan bahwa setelah gempa berlalu, mereka tidak ditinggalkan sendirian menghadapi sisa-sisa luka.

 

Di tengah beratnya situasi pascabencana, kapal KP. KASTURI-6002 telah datang membawa berton-ton kebutuhan. Tim trauma healing telah hadir membawa ketenangan. Personel Polri telah turun bersama masyarakat.

 

Bantuan terbesar adalah harapan bahwa Palue masih memiliki kekuatan untuk bangkit—dan ada tangan-tangan yang siap membantu ketika mereka mulai berdiri kembali. Palue boleh diguncang gempa. Tetapi Palue tidak boleh dibiarkan kehilangan harapan. [Cm24]