“Dapur Lapangan dan Siaga Logistik Polri Bergerak, Pastikan Personel dan Pengungsi Gempa Tak Kekurangan Makanan”

Pembagian makan siang oleh Randurlap Brimob Polda NTB kepada personel TNI/Polri dan instansi terkait di Posko Taktis Penyangga Nasional Bandara Frans Seda Maumere, serta distribusi makanan oleh Unit Siaga Logistik Posko Samador kepada para pengungsi gempa, menjadi bukti nyata bahwa dukungan kemanusiaan terus bergerak. Di tengah situasi bencana, kebutuhan dasar personel dan masyarakat tetap diperhatikan, sekaligus menegaskan bahwa TNI/Polri dan unsur terkait hadir, peduli, dan tidak membiarkan masyarakat terdampak menghadapi bencana seorang diri.

“Dapur Lapangan dan Siaga Logistik Polri Bergerak, Pastikan Personel dan Pengungsi Gempa Tak Kekurangan Makanan”
“Dapur Lapangan dan Siaga Logistik Polri Bergerak, Hadirkan Bantuan Makanan di Tengah Bencana”

Maumere, 27 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Di tengah situasi kebencanaan yang masih membutuhkan kesiapsiagaan tinggi, kerja kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk sirene, kendaraan taktis, ataupun pengerahan personel dalam jumlah besar. 

Ada pekerjaan yang jauh lebih sederhana, tetapi justru menjadi penopang utama ketahanan mereka yang berada di garis depan maupun masyarakat yang sedang kehilangan kenyamanan akibat bencana: memastikan makanan tersedia ketika rasa lapar datang.

Pada Kamis (27/8/2026), denyut kegiatan kemanusiaan kembali bergerak di sejumlah titik. Dari Posko Taktis Penyangga Nasional di Bandara Frans Seda Maumere hingga kawasan pengungsian di Samador, dukungan logistik digerakkan untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.

Sekitar pukul 13.00 WITA, Randurlap Brimob Polda NTB melaksanakan pembagian makan siang bagi personel TNI/Polri dan instansi terkait yang sedang melaksanakan tugas di Posko Taktis Penyangga Nasional yang berkedudukan di Bandara Frans Seda Maumere.

 

Kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di balik satu porsi makanan yang sampai ke tangan seorang personel, terdapat pesan penting tentang bagaimana sebuah operasi kemanusiaan harus dijaga keberlangsungannya.

 

Personel yang berada di posko bukan sekadar menunggu perkembangan situasi. Mereka merupakan bagian dari mata rantai penanganan bencana yang harus selalu siap bergerak ketika keadaan membutuhkan. Kesiapsiagaan itu tentu membutuhkan dukungan, termasuk kebutuhan dasar berupa makanan dan minuman.

 

Dalam situasi darurat, kekuatan operasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel atau kelengkapan peralatan. Logistik adalah urat nadi. Ketika dukungan logistik berjalan, personel dapat mempertahankan konsentrasi, stamina, dan kesiapan untuk melaksanakan tugas.

 

Karena itu, pembagian makan siang di Posko Taktis Penyangga Nasional menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan operasi penanganan bencana. Namun pada hari yang sama, perhatian juga diarahkan langsung kepada masyarakat yang terdampak.

 

Sekitar pukul 13.30 WITA, atau tidak lama setelah distribusi makanan bagi personel di posko, Unit Siaga Logistik Posko Samador bergerak membagikan makanan siang kepada para pengungsi gempa di Samador.

 

Di tempat pengungsian, makanan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan perut. Bagi masyarakat yang harus meninggalkan rumah akibat bencana, satu paket makanan adalah bentuk kepastian bahwa kebutuhan mereka masih diperhatikan.

 

Pengungsi berada dalam situasi yang serba terbatas. Rutinitas kehidupan yang sebelumnya berjalan normal berubah seketika. Rumah, tempat tidur, dapur, dan ruang keluarga berganti menjadi tempat pengungsian. Dalam kondisi seperti itu, perhatian terhadap kebutuhan dasar menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan masyarakat. Pembagian makanan pun menjadi bentuk nyata dari kerja kemanusiaan yang menyentuh langsung kehidupan warga.

 

Tidak ada jarak antara posko dan pengungsian ketika berbicara tentang kebutuhan dasar. Personel yang bertugas membutuhkan asupan agar mampu menjaga kesiapsiagaan. Pengungsi membutuhkan makanan agar mampu bertahan melewati masa sulit.

 

Dua kegiatan yang berlangsung dalam rentang waktu berdekatan itu memperlihatkan sebuah pola kerja yang saling menopang: personel diperkuat, masyarakat dilayani.

 

Di satu sisi, unsur Brimob Polda NTB memberikan dukungan konsumsi kepada personel TNI/Polri dan instansi terkait yang berada di Posko Taktis Penyangga Nasional. Di sisi lain, Unit Siaga Logistik Posko Samador memastikan makanan siang menjangkau masyarakat pengungsi.

 

Kerja seperti inilah yang kerap tidak terlihat dari luar, tetapi menjadi fondasi penting dalam setiap operasi kemanusiaan. Sebab penanganan bencana bukan hanya tentang bagaimana aparat datang pada saat keadaan genting. Penanganan bencana juga berbicara tentang bagaimana negara bertahan bersama masyarakat setelah guncangan pertama berlalu.

 

Ketika kebutuhan logistik terus disalurkan, ketika personel tetap bertahan di posko, dan ketika pengungsi tetap mendapatkan makanan, maka pesan yang muncul menjadi sangat jelas: masyarakat terdampak tidak ditinggalkan.

 

Bagi aparat yang bertugas, pembagian makan siang juga menjadi bagian dari menjaga semangat dan soliditas dalam menjalankan misi. Mereka berada dalam satu ruang tugas bersama, menghadapi situasi yang menuntut koordinasi, ketelitian, dan kecepatan mengambil tindakan.

 

Sementara bagi pengungsi, kedatangan tim logistik membawa lebih dari sekadar makanan. Ada rasa diperhatikan. Ada kepastian bahwa di tengah ketidakpastian akibat bencana, masih ada tangan-tangan yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Inilah wajah lain dari operasi kemanusiaan.

 

Bukan hanya seragam dan kendaraan yang menjadi simbol kehadiran negara, melainkan juga makanan yang tiba tepat waktu, personel yang tetap berjaga, dan petugas yang datang ke lokasi pengungsian untuk memastikan masyarakat memperoleh kebutuhan dasar.

 

Dari Bandara Frans Seda Maumere hingga Samador, kegiatan distribusi makanan pada Kamis siang tersebut menjadi bagian dari rangkaian upaya menjaga keberlangsungan penanganan dampak gempa.

 

Jika posko adalah pusat kendali, maka logistik adalah darah yang membuat seluruh sistem tetap hidup. Tanpa logistik, kesiapsiagaan akan kehilangan tenaga. Tanpa makanan, personel akan kehilangan stamina. Tanpa perhatian terhadap pengungsi, penanganan bencana akan kehilangan sentuhan kemanusiaannya.

 

Karena itu, langkah yang dilakukan Randurlap Brimob Polda NTB maupun Unit Siaga Logistik Posko Samador patut dilihat sebagai satu kesatuan dalam kerja besar kemanusiaan.

 

Satu bergerak memperkuat mereka yang bertugas. Satu lagi bergerak memenuhi kebutuhan mereka yang terdampak. Keduanya bertemu pada satu tujuan: memastikan tidak ada yang berjalan sendirian menghadapi bencana.

 

Pada akhirnya, ukuran kehadiran negara bukan semata-mata terletak pada seberapa besar kekuatan yang dikerahkan, tetapi pada seberapa nyata bantuan tersebut dirasakan oleh manusia yang membutuhkannya.

 

Di tengah situasi gempa, satu porsi makanan mungkin terlihat kecil. Tetapi ketika diberikan kepada seorang pengungsi yang sedang bertahan, atau kepada personel yang sejak pagi berada di garis tugas, nilainya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: kepedulian yang hadir dalam bentuk nyata.

 

Kamis siang itu, dari dapur logistik menuju posko dan tenda pengungsian, pesan tersebut kembali ditegaskan. Bencana boleh mengguncang tanah, tetapi kepedulian tidak boleh ikut runtuh.

 

TNI/Polri bersama unsur terkait terus bergerak memastikan roda penanganan bencana tetap berjalan, kebutuhan dasar tetap dipenuhi, dan masyarakat terdampak tetap mendapatkan perhatian.

 

Sebab dalam setiap keadaan darurat, ada satu prinsip yang tidak boleh kehilangan makna: ketika masyarakat membutuhkan, negara harus hadir—bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk membantu, melayani, dan bertahan bersama mereka. [Cm24]