Sentuhan Nurani POLRI : AIPDA Hironimus Antar Harapan dan Asa Kesembuhan Pasien Tumor ke Bali
Aksi kemanusiaan AIPDA Hironimus Taji Werang dalam membantu dan mengantar pasien tumor ke Bali menjadi bukti nyata bahwa Polsek Alok Polres Sikka Polda NTT hadir tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom yang bekerja dengan hati. Kepedulian, empati, dan langkah cepat yang dilakukan telah menghadirkan harapan baru bagi keluarga yang membutuhkan, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Polri sebagai sahabat dan penolong rakyat.
Tribratanewssikka.com – Maumere, 11 Februari 2026 – Di balik seragam dan tugas menjaga keamanan, tersimpan sisi kemanusiaan yang kerap menjadi jembatan harapan bagi masyarakat kecil.

Nilai itulah yang kembali ditunjukkan oleh Bhabinkamtibmas Polsek Alok Polres Sikka yang memiliki Wilayah bianaannya di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, dialah AIPDA Hironimus Taji Werang, yang dengan penuh kepedulian memfasilitasi dan mengantar seorang pasien tumor untuk menjalani pengobatan lanjutan di Bali.
Rabu pagi, 11 Februari 2026, sekitar pukul 09.30 WITA, suasana haru menyelimuti Bandara Frans Seda Maumere. Emanuel Laka (55), seorang petani sederhana asal Tebolaka, Desa Wololele, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, akhirnya diberangkatkan menuju RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah (RSUP Sanglah) Denpasar untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan atas penyakit tumor yang dideritanya di bagian leher.
Keberangkatan itu bukan sekadar perjalanan medis. Ia adalah perjalanan harapan — hasil dari kepedulian, empati, dan kerja nyata seorang Bhanin Kamtibmas Polsek Alok Polres Sikka yang memilih untuk tidak berpaling saat warganya berada dalam kesulitan.
Kisah ini bermula pada Senin malam, 9 Februari 2026. Dalam suasana sederhana di kediaman AIPDA Hironimus Taji Werang, keluarga Emanuel datang dengan wajah penuh kegelisahan.
Penyakit yang terus membesar di leher Emanuel membuat kondisinya semakin memprihatinkan. Rujukan ke luar daerah menjadi satu-satunya harapan medis, namun keterbatasan biaya hampir memupus asa keluarga.
Di tengah kebuntuan itu, AIPDA Hironimus tidak tinggal diam. Ia mendengarkan dengan empati, menenangkan dengan kata-kata, lalu bergerak dengan tindakan. Baginya, tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat tidak berhenti pada menjaga keamanan, tetapi juga hadir ketika warga membutuhkan uluran tangan.
Langkah cepat pun ditempuh. Ia membangun komunikasi dan koordinasi intensif dengan Yayasan RSKPI Bali guna membuka akses rujukan dan memastikan pasien dapat diterima untuk penanganan lanjutan.
Tak hanya itu, ia turut membantu pengurusan administrasi rujukan di RS TC. Hillers Maumere serta memastikan kesiapan fasilitas rumah singgah bagi pasien dan pendamping selama proses pengobatan berlangsung di Bali. Semua dilakukan tanpa sorotan, tanpa pamrih, dan tanpa mengharap imbalan.
Berkat sinergi dan kepedulian tersebut, Emanuel bersama pendamping akhirnya dapat diberangkatkan ke Bali. Tangis haru keluarga pecah saat proses keberangkatan. Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar pengantaran, melainkan secercah cahaya di ujung lorong panjang ketidakpastian.
Dengan suara bergetar, pihak keluarga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam Kepada
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak AIPDA Hironimus Taji Werang yang dengan tulus dan rendah hati membantu kami di saat kami benar-benar tidak berdaya.
Terima kasih juga kepada keluarga besar Polsek Alok dan Polres Sikka Polda NTT yang dengan caranya masing-masing turut membantu dan mendukung kami. Bantuan ini adalah harapan besar bagi kesembuhan keluarga kami,” ungkap keluarga Emanuel penuh haru.
Ungkapan itu menjadi bukti bahwa sentuhan kemanusiaan jauh lebih bermakna daripada sekadar formalitas tugas. Saat dihubungi Tribratanewssikka.com, AIPDA Hironimus Taji Werang menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai anggota Polri.
“Sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, sudah sepatutnya kami hadir ketika masyarakat mengalami kesulitan. Apa yang saya lakukan ini murni karena panggilan kemanusiaan. Saya hanya berusaha membantu semampu saya. Semoga pasien segera mendapatkan kesembuhan,” tuturnya dengan rendah hati.
Pernyataan tersebut sederhana, namun sarat makna. Di tengah berbagai tantangan sosial dan dinamika kehidupan masyarakat, kehadiran Bhabinkamtibmas sebagai garda terdepan Polri di tingkat kelurahan kembali menunjukkan wajah humanis institusi kepolisian.
Aksi ini menegaskan bahwa Polri bukan hanya institusi penegak hukum, tetapi juga sahabat dan penolong masyarakat. Di saat masyarakat merasa sendiri, POLRI hadir melalui tangan-tangan yang peduli.
Kisah Emanuel dan AIPDA Hironimus menjadi pengingat bahwa empati adalah fondasi kepercayaan. Ketika POLRI hadir dengan hati, maka kepercayaan publik tumbuh bukan karena kewajiban, melainkan karena ketulusan yang dirasakan.
Di Maumere pagi itu, bukan hanya sebuah pesawat yang lepas landas menuju Bali. Harapan pun ikut terbang, membawa doa-doa dan keyakinan bahwa kemanusiaan masih menjadi nafas utama pengabdian. Polri Presisi — hadir dengan empati, bekerja dengan hati, untuk rakyat. [Cm24]


