Sinergi SAR Gabungan Berhasil Selamatkan KM Rangganis yang Terombang-Ambing di Perairan Sikka
Respons cepat Sat Polairud Polres Sikka, Basarnas Maumere, dan unsur SAR gabungan berhasil menyelamatkan seluruh awak dan penumpang KM Rangganis yang mengalami mati mesin di perairan antara Tanjung Watu Manuk dan Pulau Pemana. Seluruh korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, sementara kapal juga berhasil diamankan. Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya kesiapan armada, kelengkapan alat keselamatan, dan sinergi antarinstansi dalam menjamin keselamatan pelayaran di wilayah kepulauan.
Maumere, 28 Juli 2026. Tribratanewssikka.com – Kepanikan sempat menyelimuti tujuh orang yang berada di atas Kapal Motor (KM) Rangganis setelah kapal yang mereka tumpangi mendadak mengalami mati mesin di tengah pelayaran dari Pulau Sukun menuju Maumere, Senin (27/7/2026).

Tanpa tenaga penggerak, kapal kayu tersebut hanyut mengikuti arus dan hembusan angin di perairan antara Tanjung Watu Manuk dan Pulau Pemana, memaksa seluruh awak dan penumpang bertahan di tengah laut sambil menunggu datangnya pertolongan.
Beruntung, laporan mengenai insiden itu segera diterima aparat sehingga operasi penyelamatan dapat dilakukan dengan cepat. Berkat koordinasi yang sigap antara Sat Polairud Polres Sikka, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Maumere, Ditpolairud Pos Marnit Sikka, serta unsur SAR gabungan lainnya, seluruh awak kapal dan penumpang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Tidak hanya mengevakuasi seluruh orang yang berada di atas kapal, tim gabungan juga berhasil mengevakuasi KM Rangganis menuju lokasi yang aman.
Informasi awal diterima Sat Polairud Polres Sikka sekitar pukul 14.45 WITA dari seorang warga bernama Julaeman. Dalam laporannya disebutkan bahwa sebuah kapal yang berlayar dari Pulau Sukun menuju Maumere mengalami kerusakan mesin di tengah laut sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Maumere.
Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan koordinasi intensif bersama Basarnas Maumere. Mengingat kapal kehilangan tenaga penggerak di perairan terbuka, potensi hanyut akibat arus dan terpaan angin menjadi perhatian utama. Setiap menit sangat berharga dalam operasi penyelamatan guna menghindari risiko yang lebih besar terhadap keselamatan seluruh penumpang.
Berdasarkan data operasi SAR, posisi kapal berada pada koordinat 08°23'55" Lintang Selatan dan 122°09'11" Bujur Timur, atau sekitar 14,5 Nautical Mile (NM) dengan radial 346,67 derajat dari Pelabuhan Wuring.
KM Rangganis merupakan kapal kayu berukuran 5 Gross Ton (GT) dengan warna dominan putih bercorak merah. Saat mengalami gangguan mesin, kapal tersebut mengangkut tujuh orang yang terdiri atas empat awak kapal dan tiga penumpang.
Empat awak kapal masing-masing adalah Hamdan (30), Akbar (25), Hayadi (32), dan Sunar (29), yang seluruhnya merupakan warga Pulau Sukun. Sementara tiga penumpang terdiri atas Putri Amanda (16), Layasi (16), dan Husen (32), yang juga berasal dari Pulau Sukun.
Untuk mempercepat penanganan, Kantor SAR Maumere mengerahkan lima personel Tim Rescue menggunakan satu unit Rescue Inflatable Boat (RIB) berkekuatan mesin 500 PK. Tim membawa perlengkapan SAR laut, perangkat komunikasi, dan peralatan medis guna mengantisipasi segala kemungkinan selama operasi berlangsung.
Selain Basarnas Maumere dan Sat Polairud Polres Sikka, operasi penyelamatan turut melibatkan Ditpolairud Pos Marnit Sikka serta dukungan keluarga korban yang terus memberikan informasi mengenai perjalanan kapal sebelum mengalami gangguan.
Pada saat operasi berlangsung, kondisi cuaca di lokasi dilaporkan cerah berawan dengan arah angin bertiup dari timur menuju barat laut berkecepatan sekitar 18 hingga 28 knot, sementara suhu udara berkisar 31 derajat Celsius. Meskipun cuaca relatif bersahabat, kecepatan angin di wilayah tersebut tetap menjadi tantangan karena dapat mempercepat pergerakan kapal yang kehilangan tenaga mesin.
Berkat kerja sama yang solid dan respons cepat seluruh unsur SAR gabungan, operasi penyelamatan akhirnya membuahkan hasil. Seluruh awak kapal dan penumpang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat tanpa adanya korban jiwa maupun korban luka. KM Rangganis yang sempat terombang-ambing akibat mati mesin juga berhasil diamankan dan dievakuasi sehingga tidak hanyut lebih jauh ke perairan terbuka.
Keberhasilan operasi ini menunjukkan pentingnya koordinasi lintas instansi dalam penanganan keadaan darurat di laut. Kecepatan menerima informasi, komunikasi yang efektif, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi faktor utama yang memastikan keselamatan seluruh korban.
Peristiwa tersebut kembali menjadi pengingat bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama, terutama di wilayah kepulauan seperti Kabupaten Sikka yang mobilitas masyarakatnya sangat bergantung pada transportasi laut.
Pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi mesin kapal, kelengkapan alat keselamatan, ketersediaan alat komunikasi, serta pemantauan cuaca sebelum berlayar merupakan langkah penting yang tidak boleh diabaikan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Keberhasilan evakuasi KM Rangganis menjadi bukti nyata bahwa kesiapsiagaan aparat dan sinergi seluruh unsur SAR mampu memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan.
Di balik insiden yang sempat memicu kekhawatiran itu, seluruh awak kapal dan penumpang akhirnya dapat kembali dengan selamat, sekaligus menjadi pelajaran berharga bahwa keselamatan di laut merupakan tanggung jawab bersama. [Cm24]


