“Di Tengah Ancaman Cuaca Tak Menentu, Poktan Tati Nahing Wolomarang Sikka Pacu Produksi Jagung 8,5 Ton”

Kegiatan pemisahan biji jagung oleh Kelompok Tani Tati Nahing di Napunglangir, Kelurahan Wolomarang, berlangsung lancar dengan pendampingan Bhabinkamtibmas Kelurahan Wolomarang, AIPDA Hironimus Taji Werang. Dari total lahan 5,7 hektare, hasil panen jagung diproyeksikan mencapai sekitar 8,5 ton setelah proses pengolahan. Penggunaan mesin pemisah jagung sangat membantu mempercepat pekerjaan petani, meski tantangan utama masih dihadapkan pada curah hujan yang tidak menentu sehingga menghambat proses pengeringan hasil panen.

“Di Tengah Ancaman Cuaca Tak Menentu, Poktan Tati Nahing Wolomarang  Sikka Pacu Produksi Jagung 8,5 Ton”
Bhabinkamtibmas Kawal Pascapanen Jagung di Wolomarang, Poktan Tati Nahing Diproyeksi Hasilkan 8,5 Ton di Tengah Ancaman Cuaca Tak Menentu

Tribratanewssikka.com - Maumere, 25 Mei 2026. Di tengah tantangan cuaca yang sulit diprediksi dan ancaman terhadap stabilitas sektor pertanian, denyut ketahanan pangan masyarakat di Kabupaten Sikka terus bergerak dari hamparan lahan-lahan produktif warga. 

Di Napunglangir, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, aktivitas pascapanen jagung tampak berlangsung dengan semangat gotong royong, disertai sentuhan teknologi sederhana yang perlahan mengubah pola kerja petani menjadi lebih efisien dan produktif.

 

Sabtu pagi, 23 Mei 2026, sekitar pukul 10.00 Wita, suasana di lokasi pertanian milik Kelompok Tani (Poktan) Tati Nahing tampak berbeda dari biasanya. Di tengah tumpukan tongkol jagung hasil panen, suara mesin pemisah biji jagung berdengung memecah keheningan kawasan pertanian Napunglangir. Sejumlah anggota kelompok tani tampak sibuk memilah hasil panen, sementara sebagian lainnya mengangkut tongkol jagung yang siap diproses.

 

Di balik aktivitas itu, hadir sosok Bhabinkamtibmas Kelurahan Wolomarang, AIPDA Hironimus Taji Werang, yang melakukan pemantauan sekaligus pendampingan terhadap kegiatan masyarakat binaannya. Kehadiran aparat kepolisian di tengah aktivitas pertanian tersebut bukan sekadar rutinitas sambang wilayah, melainkan bagian dari keterlibatan aktif Polri dalam memperkuat fondasi ketahanan pangan di tingkat desa dan kelurahan.

 

Langkah ini menjadi cerminan bagaimana institusi kepolisian kini tidak hanya hadir dalam fungsi keamanan semata, tetapi juga mengambil peran strategis dalam memastikan keberlangsungan sektor pangan masyarakat tetap terjaga. Ketahanan pangan, pada akhirnya, bukan sekadar agenda pemerintah pusat, melainkan perjuangan kolektif yang bertumpu pada kemampuan petani mempertahankan produktivitas di tengah berbagai tantangan lapangan.

 

Kelompok Tani Tati Nahing sendiri saat ini tengah memasuki fase penting pascapanen, yakni proses pemisahan biji jagung dari tongkol hasil panen. Tahapan ini dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil panen dari enam bidang lahan pertanian milik anggota kelompok tani yang tersebar di wilayah tersebut.

 

Dari keseluruhan lahan seluas kurang lebih 5,7 hektare, kelompok tani ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 8,5 ton jagung setelah melalui proses pengolahan menjadi biji jagung siap simpan maupun distribusi. Angka tersebut menjadi indikator menggembirakan bagi produktivitas pertanian masyarakat di wilayah Alok Barat, terlebih di tengah kondisi cuaca yang belakangan cenderung tidak stabil.

 

Namun, capaian produktivitas itu tentu tidak hadir tanpa perjuangan. Di balik angka tonase hasil panen, terdapat kerja keras para petani yang harus bergelut dengan berbagai keterbatasan, mulai dari kondisi iklim yang berubah-ubah hingga persoalan teknis dalam pengolahan hasil pertanian.

 

Salah satu tantangan terbesar yang saat ini dihadapi para petani adalah curah hujan yang tidak menentu. Situasi tersebut menjadi hambatan serius dalam proses pengeringan jagung, sebuah tahapan krusial yang sangat menentukan kualitas hasil akhir. Ketika kadar air jagung tidak berkurang secara optimal akibat cuaca basah, risiko penurunan mutu hingga kerusakan hasil panen menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi.

 

Meski demikian, secercah optimisme hadir melalui penggunaan mesin pemisah biji jagung yang kini dimanfaatkan kelompok tani. Kehadiran alat tersebut dinilai sangat membantu mempercepat proses kerja petani dibandingkan metode manual yang selama ini menguras waktu dan tenaga.

 

Ketua Kelompok Tani Tati Nahing, Fredy Ardianus, bersama seluruh anggota kelompok disebut merasakan langsung manfaat dari penggunaan mesin tersebut. Proses pemisahan biji jagung dari tongkol yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang dan tenaga besar kini dapat dilakukan lebih cepat, efisien, serta mampu meningkatkan efektivitas kerja kelompok tani.

 

Transformasi sederhana melalui mekanisasi pertanian seperti ini menjadi bukti bahwa peningkatan produktivitas tidak selalu harus dimulai dari teknologi besar dan mahal. Dalam konteks masyarakat pedesaan, satu mesin pemisah jagung saja mampu menghadirkan perubahan signifikan terhadap percepatan proses pascapanen dan pengurangan beban kerja petani.

 

Di sisi lain, keterlibatan Bhabinkamtibmas dalam mengawal aktivitas pertanian warga juga memperlihatkan wajah lain pelayanan kepolisian yang semakin dekat dengan kebutuhan riil masyarakat. Kehadiran aparat di lahan pertanian membawa pesan bahwa keamanan pangan dan kesejahteraan petani merupakan bagian tak terpisahkan dari stabilitas sosial masyarakat.

 

Ketika petani mampu bekerja dengan tenang, hasil panen terjaga, dan proses produksi berjalan baik, maka sesungguhnya pondasi ekonomi masyarakat akar rumput sedang diperkuat.

 

Apa yang berlangsung di Napunglangir mungkin tampak sederhana: sekelompok petani memisahkan biji jagung dari tongkol hasil panen mereka. Namun di balik aktivitas itu, tersimpan cerita tentang daya tahan masyarakat menghadapi perubahan musim, perjuangan menjaga produktivitas, serta harapan agar hasil kerja keras selama berbulan-bulan tidak pupus oleh cuaca yang sulit diprediksi.

 

Dari hamparan lahan seluas 5,7 hektare itu, bukan hanya 8,5 ton jagung yang sedang dipersiapkan untuk dipanen manfaatnya. Lebih dari itu, yang sedang dirawat adalah harapan tentang keberlanjutan pangan masyarakat, tentang petani yang tetap bertahan di tengah ketidakpastian, dan tentang kolaborasi antara warga serta aparat negara dalam menjaga denyut kehidupan dari sektor paling mendasar: pangan. [Cm24]