Maumere Pintu Transit, Maukaro Ende Titik Pengabdian: Ketum Bhayangkari Bawa Misi Kemanusiaan untuk Korban Gempa Flores

Kedatangan Ketua Umum Bhayangkari Ny. Juliati Sigit Prabowo bersama rombongan di Bandara Frans Seda Maumere merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja dan misi kemanusiaan untuk meninjau langsung dampak gempa bumi di Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende. Setelah transit di Maumere, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan helikopter Polri. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, lancar, dan terkendali, dengan pengamanan serta koordinasi jajaran Polda NTT dan Polres Sikka.

Maumere Pintu Transit, Maukaro Ende Titik Pengabdian: Ketum Bhayangkari Bawa Misi Kemanusiaan untuk Korban Gempa Flores
Ketua Umum Bhayangkari Ny. Juliati Sigit Prabowo Sambangi NTT, Misi Kemanusiaan Berlanjut ke Maukaro Ende

Maunerel, 26 Agustus 2026. Tribratanewssikka.com — Kehadiran Ketua Umum Bhayangkari, Ny. Juliati Sigit Prabowo, bersama rombongan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/8/2026), menjadi bagian penting dari rangkaian kunjungan kemanusiaan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak gempa bumi di Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende.

Pesawat Boeing Type 737-800NG/P-7301 yang membawa rombongan mendarat di Bandara Frans Seda Maumere, Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, sekitar pukul 10.40 Wita.

Kedatangan tersebut tidak berlangsung sebagai agenda seremonial semata. Maumere menjadi titik transit sebelum rombongan bergerak menuju wilayah terdampak bencana di Kabupaten Ende. Setelah memastikan seluruh rangkaian transit berjalan lancar, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan helikopter Polri menuju Kecamatan Maukaro.

 

Agenda tersebut memperlihatkan bahwa kunjungan Bhayangkari tidak berhenti pada ruang-ruang formal, melainkan diarahkan langsung ke lapangan, menyentuh wilayah yang sedang menghadapi dampak bencana dan membutuhkan perhatian serta kehadiran negara.

 

Sejak pesawat tiba, pengamanan dan penyambutan dilakukan secara terkoordinasi oleh jajaran Polda NTT dan Polres Sikka. Sejumlah pejabat utama bersama unsur Bhayangkari Daerah NTT dan Bhayangkari Cabang Sikka telah berada di lokasi untuk menyambut kedatangan rombongan.

 

Ketua Bhayangkari Daerah Nusa Tenggara Timur Ny. Vily Rudi Darmoko, Wakil Ketua Bhayangkari Daerah NTT Ny. Ratih Faizal, serta Ibu Irwasda Polda NTT Ny. Wita Andi Anugrah, turut hadir dalam penyambutan tersebut.

 

Dari unsur kepolisian, penyambutan dilakukan Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., Pamatwil Kabupaten Sikka Kombes Pol. Andy Pramudya Wardana, S.I.K., M.M., M.A.P., CPHR., CBA., bersama sejumlah pejabat utama dan personel Polres Sikka. Kehadiran jajaran tersebut sekaligus memastikan seluruh tahapan kedatangan, transit dan keberangkatan rombongan berlangsung dalam situasi yang tertib, aman dan terkendali.

 

Tidak ada celah bagi gangguan keamanan untuk menghambat agenda tersebut. Setiap pergerakan rombongan dikawal dengan koordinasi yang terukur, sementara situasi di sekitar Bandara Frans Seda tetap berada dalam pantauan aparat.

 

Dalam perjalanan tersebut, Ny. Juliati Sigit Prabowo didampingi Wakil Ketua Umum Bhayangkari Ny. Martha Dedi Prasetyo, Ketua Panitia HKGB ke-74 Ny. Yuli Ramdani Hidayat, Ketua Seksi Sosial Ny. Novi Yuda Gustawan, serta sejumlah pengurus dan anggota Bhayangkari.

 

Turut serta dalam rombongan unsur pengamanan, pendamping, ADC, Spri serta personel pendukung lainnya. Kehadiran unsur sosial dan publikasi Bhayangkari mempertegas bahwa kunjungan tersebut memiliki dimensi kemanusiaan sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan organisasi dalam memperkuat kepedulian terhadap masyarakat yang tengah menghadapi situasi sulit akibat bencana.

 

Di tengah kondisi pascabencana, kehadiran langsung menjadi pesan yang memiliki bobot tersendiri. Masyarakat yang terdampak tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga membutuhkan perhatian, kepedulian dan keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendirian menghadapi masa sulit.

 

Karena itu, perjalanan menuju Maukaro menjadi lebih dari sekadar agenda kunjungan. Ia merupakan bentuk kehadiran sosial yang dibawa hingga ke titik masyarakat merasakan langsung dampak bencana.

 

Setelah seluruh rangkaian transit di Bandara Frans Seda selesai, tepat sekitar pukul 11.00 Wita, rombongan meninggalkan bandara untuk melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende.

 

Helikopter Polri menjadi sarana transportasi yang digunakan untuk meneruskan perjalanan tersebut. Pergerakan udara dipilih sebagai bagian dari dukungan mobilitas menuju wilayah tujuan, sehingga agenda peninjauan dapat dilaksanakan secara efektif.

 

Dari Maumere, perjalanan kemudian berlanjut menuju wilayah Kabupaten Ende. Sasaran akhirnya adalah Kecamatan Maukaro, kawasan yang menjadi perhatian karena terdampak gempa bumi.

 

Langkah tersebut menempatkan kunjungan langsung sebagai bagian utama agenda. Bukan sekadar menerima laporan dari balik meja, tetapi melihat kondisi lapangan, menyerap situasi dan memahami secara langsung bagaimana masyarakat menghadapi konsekuensi bencana.

 

Pengamanan kegiatan melibatkan jajaran kepolisian dengan koordinasi lintas fungsi. Sejumlah pejabat utama Polres Sikka turut hadir, di antaranya Kasat Polairud AKP Dimas Yusuf Fadhillah Rahmanto, S.Tr.K., S.I.K., Kasi Propam AKP Fransiskus Somba Say, Kasat Lantas Iptu Luthfi Satria Nugraha, S.Tr.K., Kasat Intelkam Iptu I Nyoman Suwasta, Kasat Reskrim Iptu Reinhard Dionisius Siga, S.Tr.K., Kapolsek Waigete Iptu Muhammadong, KBO Lantas Iptu Efraim Emanuel, serta Kasi Humas Iptu Leonardus Tunga, S.M.

 

Pengamanan tersebut tidak semata berorientasi pada kelancaran pergerakan pejabat, tetapi juga memastikan aktivitas di kawasan bandara tetap berjalan normal dan tidak terganggu oleh rangkaian kedatangan maupun keberangkatan rombongan. Selama kegiatan berlangsung, situasi keamanan di Bandara Frans Seda Maumere dan sekitarnya terpantau aman, tertib dan terkendali.

 

Kunjungan Ketua Umum Bhayangkari ke Maukaro membawa pesan yang lebih besar dari sekadar perjalanan administratif. Di balik perpindahan dari satu titik ke titik lainnya, terdapat misi untuk menghadirkan kepedulian secara langsung di tengah masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.

 

Dari Bandara Frans Seda, rombongan kemudian terbang menuju wilayah terdampak untuk melihat dari dekat kondisi pascagempa. Perjalanan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa respons terhadap bencana membutuhkan kecepatan, koordinasi dan keberanian untuk hadir langsung di lapangan.

 

Bagi masyarakat yang terdampak, kehadiran pejabat dan organisasi sosial di tengah situasi bencana dapat menjadi energi moral. Sebuah pesan sederhana namun kuat: ketika bencana datang dan mengguncang kehidupan warga, perhatian tidak boleh berhenti pada laporan, tetapi harus bergerak menuju lokasi tempat masyarakat membutuhkan kehadiran.

 

Rangkaian kedatangan dan keberangkatan rombongan di Bandara Frans Seda Maumere pun berakhir dengan aman. Tepat pukul 11.00 Wita, helikopter Polri membawa rombongan meninggalkan Maumere menuju Maukaro, melanjutkan agenda kemanusiaan di wilayah terdampak gempa bumi.

 

Maumere menjadi pintu transit. Maukaro menjadi titik pengabdian. Dan di antara keduanya, bergerak sebuah pesan kuat bahwa kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana harus hadir secara nyata—bukan sekadar terdengar dalam laporan, tetapi terlihat dan dirasakan langsung di lapangan. [Cm24]